Jumat, 04 Mei 2012

NAGARAKERTAGAMA, ATLANTIS DAN EDEN

NAGARAKERTAGAMA, ATLANTIS DAN EDEN
Analisa Geologi Teks Naskah Nagarakertagama
Pupuh 15 bait ke 2
Created by Ejang Hadian Ridwan


I. Pendahuluan
Penulis menggambil tema ini, berdasarkan teks Nagarakertagama yang mengungkapkan perkiraan data geologi tentang adanya informasi perubahan geografis dan geologis antara pulau Jawa dan Madura akibat perubahan ketinggian air laut, dan mengapa pula dilihat sepintas dari judul yang diberikan seolah-olah bahwa informasi dari pernyataan teks Nagarakertagama ini mendukung kedua buku tersebut. Bisa ya bisa tidak, bisa juga menggagalkan tulisan tentang Altlantis dan Eden. Yang dimaksud Atlantis dan Eden dalam ini adalah menunjuk kepada buku yang berjudul Atlantis The Lost Continent Finally Found karya Prof Arsyio Santos dan Eden In The East karya Stephen Oppenheimer. Dalam artikel ini juga akhirnya membahas tentang hipotesa sejarah nusantara yang hilang di abad awal masehi, disertai dengan pendapat dari ahli geologi terkemuka di Indonesia yaitu Awang Harun Satyana, Artikel ini disertai cara perhitungan tahun saka dengan metoda candra sengkala, termasuk aturan pembacaanya.

Artikel ini bukan merupakan kajian keseluruhan dari kedua buku tersebut yang dibandingkan dengan informasi dari teks nagarakertagama, tetapi hanya mengambil bagian-bagian tertentu, yang mempunyai kemiripan ide dan bahasan dari sebuah peristiwa geologi. Pengajuan topik ini tentunya didasarkan bahwa tesk naskah Nagarakertagama mampu memberikan dan mengukapkan informasi perkiraan data geologi yang disertai penandaan waktu yang tegas, angka kisaran tahun, walaupun memang harus disertai tafsiran dan penjelasan lebih menyeluruh dari berbagai sumber lainya yaitu mengenai penandaan waktu yang begitu jelas disampaikan dalam teks naskah tersebut.


II Latar Belakang


Tentang naskah Nagarakertagama silakan baca di wikipedia online, tentang Atlantis silakan baca juga bukunya yang sudah beredar yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia atau bisa juga dilihat secara online internet di www.atlan.org dan tentang Eden bukunya sudah tersedia juga, kedua ide buku itu ringkasannya bisa dicari secara online internet karena keberadaannya sedang menjadi pembicaraan yang hangat diberbagai media.

Naskah Nagarakertagama memberikan petunjuk dalam pupuh ke 15 bait 2, sebagai berikut:

“kunaɳ tekaɳ nusa madura tatan ilwiɳ parapuri, ri denyan tungal / mwaɳ yawadarani rakwaikana danu, samudra nanguɳ bhumi kta ça ka kalanya karnö, teweknyan dadyapantara sasiki tatwanya tan adoh.”

Dan pernyataan teks ini sangat sejalan dengan apa yang disampaikan oleh buku Atlantis dan Eden, analisa teks akan dibahas dalam materi selanjutnya diartikel ini.

Sekilas tentang buku Atlantis dan Eden, kedua buku  ini memberikan gambaran jelas tentang mitos Surga di Timur, Surga Atlantis (Atlanti English Lamuria sam dengan Eden, merupakan kata lain dari Atlantis itu sendiri) dan tentang Surga di Timur ini pertama kali disampaikan oleh Plato. Plato dalam bahasa Yunani: Πλάτων, lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, yang salah satu anak didiknya yaitu Socrates, dengan memberikan gambaran atau petunjuk bahwa telah terjadi suatu masa peradaban tinggi di muka bumi ini, yang ditandai dengan adanya ke kaisaran agung yang mendunia.

Masa itu hilang karena adanya perubahan geologi dari muka bumi. Plato menjelaskan ciri-ciri dengan rinci mulai dari keadaan alam, flora dan faunanya serta ciri geografis dominan dari Surga Atlantis tersebut, dengan kuil-kuil atau istananya terbentuk dari emas. Berdasarkan apa yang disampaikan Plato inilah maka dimulai pula penelusuran dan pencarian jejak tentang mitos surga Atlantis tersebut. Para petualang meneyebar ke seantero jagat dengan misi dasar menemukan mitos tentang Surga di Timur tersebut. Salah satu efek tidak langsung adalah munculnya bangsa-bangsa barat yang menjajah di Indonesia dan negara-negara lainya, misalnya penjajahan oleh Portugis, Inggris dan Belanda.

Berbagai kajian dan penelitian tentang mitos Surga di Timur itu sungguh beraneka ragam, tempat yang ditunjukannya pun berbeda-beda. Semua dilakukan dengan berbagai metoda, dan semuanya pula mengaku yang paling ilmiah tentunya berdasarkan bukti-bukti yang ajukan, dan tentunya pula pasti ada bantahan dan sanggahan dari ilmuwan lainnya. Buku yang disebutkan diatas merupakan kajian dan penelitian yang bisa dianggap paling mutahir, saat ini tentang Surga Atlantis.

Kedua buku ini mempunyai metoda yang berbeda dalam pembahasanya, tetapi kedua buku ini pula menunjuk suatu posisi yang hampir serupa. Buku Atlantis yang dikarang Prof Arsyio secara gamblang dan tegas menyatakan bahwa Surga Atlantis itu adanya tepat di Indonesia, lebih spesifik yaitu di laut Jawa yang kearah utaranya berbatasan dengan Laut China Selatan dan tentunya daratan China Selatan sekarang, dengan mengatakan bahwa laut Jawa dulunya merupakan daratan yang maha luas, termasuk katagori sangat langka dijumpai dimuka bumi ini daratan seluas itu, sedangkan pulau-pulau yang mengelilinginya merupakan dataran tinggi pada masa itu (Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malayu, dan yang lainnya, pulau besar Indonesia masa kini). Sedangkan buku Eden in The East menujuk bahwa Surga Atlantis adanya di Asia bagian tenggara dan tidak secara tegas menunjuk Indonesia.

Kedua pengarang buku tersebut mengajukan berbagai data, mulai data geologis, geografis dan  dan sosial budaya serta peninggalan sejarah (artefak). Prof Arsyio lebih fokus di Filologi dan Linguistik dengan memakai sumber-sumber mitos di berbagai belahan dunia dan dari berbagai agama, sedangkan Oppenheimer lebih fokus dengan penelitian arkeologi, bukti artefak, tentunya walaupun masing-masing mengandalkan metode-metoda yang menurut mereka paling akurat tetap saja semua yang menjadikan fokus penelitian, tentu harus komperehensif dengan semua sumber dan metode lain yang mendukungnya.


Dan satu hal lagi, kedua buku sepakat bahwa kejadian itu terjadi ketika jaman terakhir es mencair yang ada dipermukaan bumi, era pleistosin, yang disebabkan oleh sebuah ledakan maha dasyat “a super colossal eruption” dari peristiwa vulkanik Gunung Krakatau, sehingga terjadilah akhir jaman es mencair, dan permukaan air laut menjadi pasang, melenyapkan dataran-dataran rendah. Pertistiwa lenyapnya daratan di laut Jawa sekarang dipancing dengan adanya kubangan maha besar (kaldera raksasa) diselat Sunda, efek kejadian vulkanik Gunung Krarakatu tersebut, akhirnya air masuk dari samudera Hindia dan menenggelamkan Surga Atlantis, diperkirakan oleh mereka yaitu kejadiannya sekitar 11.600 SM.


Bagi penulis, apapun mengenai berbagai bahasan kedua buku itu atau dari berbagai pihak, yang pasti berdasarkan data-data yang mereka sampaikan, bila ditarik kebelakang tentunya dan diasumsikan bahwa permukaan air di laut Jawa (laut antara pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera) menurun drastis hingga kisaran 150-200 meter (silakan baca tentang cara mengukur kedalaman laut), kasarannya dikuras habis sampai kedalaman tersebut, maka akan didapati dataran seluas kira-kira 400 x 600 km persegi bahkan lebih, dan ini memang daratan maha luas, hampir 3 kali luas pulau jawa sekarang.

Tentang kedalaman laut Jawa silakan baca di laporan Bakosurtanal, atau hasil pengamatan citra satelit laut Jawa yang menunjukan sebagian besar laut Jawa kedalamanya pada kisaran tersebut, yaitu 150-200 meter, walaupun memang ada juga palung-palung dalam yang merupakan hasil pertemuan lempeng-lempeng benua dengan kedalaman ribuan meter. Terdapat 4 (empat) sungai purba juga didaratan itu, dipermukaan dasar laut Jawa, yang diambil sebagai sebagai bukti refensi ilmiah tentang salah satu ciri Atlantis yang disampaikan Plato, dan itulah dalam berbagai mitos keagamaan sungai-sungai Surga dan Surganya Atlantis yang dimaksud, keempat sungai itu bersumber dari gunun Dempo Sumatera Selatan.

BAGIAN SELANJUTNYA>>> 





5 komentar:

  1. sampurasun ngiring ngarojong kanu bahasan dulur?,,,,,,,

    BalasHapus
  2. setiap menguak satu sejarah itu harus tau dasarnya dulu contohnya itu nusantara harusnya nusa...antara bukan disatukan nusantara mungkin itu menurut saya bagaymana pendapat orang lain itu haknya masing masing punteun ieu jisim abdi bilih kalangkungan saur sakali deui neda hapunteun.

    BalasHapus
  3. Silakan menyimak : http://gerakanalmahdi.wordpress.com
    ………………………………………………
    SEBUAH HIKMAH & PELAJARAN
    (Khusus untuk anak-anakku)
    ………………………………………………
    Yang jelas bukan dari saya yang menulis. Tapi dari seseorang yang memang tidak mau diketahui jati dirinya. Silakan direnungkan semua pihak….

    BalasHapus
  4. Maaf mengkoreksi, letusan gunung Krakatau tidak menyebabkan zaman es mencair...
    Hal ini merupakan kekeliruan dari buku Atlantis dan tidak pernah disebut di buku Eden of the East...

    Zaman es malah sesungguhnya dimulai setelah letusan Toba pada 75.000 sebelum masehi yang debunya menutupi atmosfer, menyebabkan suhu dunia turun 6 derajat celcius...

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.