Jumat, 15 Juni 2012

KAKAWIN NIRARTHA PRAKRETA PUPUH 1-3

KAKAWIN NIRARTHA PRAKRETA
teks, tafsir dan terjemahan

Pupuh I

1. Santawya ngwah i jon Bhatara Paramarthatyanta rih Niskala. Sah tan sah sinamadhi mungwi tenahin hret-tikta syunyalaya. Suryopama siran prakasya menuhi sarwatma diptojjwala. Byaktawas kahidep swa-dipa sumeno lumren manah niccala.

Aku memohon ampunan dibawah kaki Bathara Paramaartha (Tuhan Penguasa Kenikmatan Dunia) Yang Maha Niskala (Melampaui Segala Ukuran Duniawi), Yang merupakan tujuan samadi (dan) yang bersemayam di pusat kegaiban yang sunyi hampa. Bagaikan Matahari yang perkasa menyelimuti segala makhluk dengan cahayanya yang gemilang, Terang dan nyata (Sang Bhatara) adalah (yang) bercahaya dengan sendirinya, penerang hati yang tak tergoyahkan.

2. Ndah yan mankana lot sayojya hana rin cittatisyuddhottama. Mangeh sadhananinwan amrih ateken lamban gumegwan karas Nahan donkun amuspa rin pratidineh ratryamalar sanmatan. Pinten karananin wenan rumacananan syabdatemah bhasita.

Maka sudah selayaknyalah (Bhatara Paramaartha) terus menerus bersemayam di dalam hati yang suci dan utama, sebagai pegangan bagi hamba yang hendak mempergunakan (keberadaan-Nya) sebagai tongkat demi untuk memegang teguh Kesejatian. Demikian maksud hamba berdoa siang dan malam hanya demi mohon perkenan (Bhatara Paramaartha), supaya memberi segala kekuatan (kepada hamba, agar) mampu merangkai kata-kata menjadi syair (kebenaran).

3. Ngwan pwatyanta wimohitapan alewes tuccha kanisten sarat. Ndan duran wruha marna-marna rasanin gastrartha-widyagama. Anhin duhkita kewalamrati sumok lwir andhakaranasut. Tan wruh panlwananin laranupama hetunkwaniket lambana.

Hamba ini bodoh, karena selama-lamanya (hamba) adalah (makhluk) yang rendah dan dinistakan oleh dunia. Maka jauhkanlah hamba dari ilmu karang-mengarang (ilmu otak-atik); hamba (tak tahu) makna sejati buku-buku ilmu Ketuhanan dan tak dapat memahami inti ilmu agama. Hanya duka cita yang membebani (hati) dan meliputinya bagaikan gulita yang merajalela. (Hamba) tak mampu meredakan keduanya (duka dan gulita) yang tiada tara ini, oleh karena itulah hamba mengikatkan (diri dengan-Mu) sejak ini.

4. Duran manduka yan pamuktya waninin tunjun prakirnen banu. Ekastha rahinen kulem tathapi tan wruh punyanin pankaja. Bheda mwan gatinin madhubrata saken doh ndan wawan spargaka. Himper mankana mudhaninwan anuker jon san widagdhen naya.

Sangat mustahil katak dapat menikmati wangi bunga tanjung yang banyak tumbuh di air. Berhari-hari dan bermalam-malam ia tinggal di tempat yang sama, tetapi tak juga dapat memahami akan keindahan bunga teratai. Lain halnya dengan lebah, dari kejauhan dia sudah dapat mengetahui (keindahan dan harumnya bunga tanjung). Seperti itulah kebodohan hamba (yang hanya) mengotori kaki para ahli (spiritualitas) yang bijaksana.

5. Rin prajnyadhika mitranin suka lawan swargatidiwyenusir. Yan rin durgati duhka mitranikihen sthiraniket tan kasah. Yan rin buddhi mahaprakopa taya len tan papa mitraniwo. Ndah yekin tri pamitra sancaya gegon tekan sayogyalapen.

Orang yang unggul dalam ilmu Ketuhanan maka kebahagian adalah temannya dan akan pergi ke sorga yang amat sangat tinggi (Moksha). Orang yang berhati jahat maka kedukaan yang sangat kuat yang menyekat adalah temannya seolah tak dapat dipisahkan. Orang yang sangat angkara maka teman yang dimanja-manjanya adalah dosa semata. Inilah ketiga golongan teman, pilihlah teman yang baik dan ambillah.

6. Sanksepanya lana prihen pinaka mitra sadhu cantakreti. Lawan haywa minitra tan kujana durtawas maweh wadhaka. Ton tan hansa mamitra wayasa sagotranyan wisyirnapejah. Ndah manka jana durwiweka tumemu n wighna nda tanpopama.

Ringkasnya, berusahalah selalu bertemankan denga orang yang baik budi bahasa dan sabar. Hindari berteman dengan orang yang jahat dan tak dapat dipercaya, (karena) jelas-jelas akan membawa bencana. Lihatlah si angsa yang berteman dengan burung gagak, seluruh keluarganya habis mati. Demikianlah orang yang tidak berhati-hati (dalam mencari teman) maka akan menemui bencana yang tak terhingga.

7. Anhin tan sipi mewehin wan iki tan prajna wiwekanulus. Prajnanindita towi meweh ika san mahyun pamujen hayu. Yadyan pujita karma dura tan anemwa jnana meweh temen. Sang Hyan Cakra tuwin winodhana sawetnyatyantanin durlabha.

Tetapi sangatlah susah untuk mengetahui orang yang bijaksana yang penuh kehati-hatian dalam perilaku dan yang tulus hati. Bagi orang yang sangat bijaksana pun amat susahlah untuk mencari keselamatan; Bagi orang yang terpuji tingkah lakunya, masih jauh jugalah ia dari mencapai kesempurnaan ilmu Ketuhanan, karena hal itu sangat sukar dicapai. Bahkan Dewa Cakra pun harus diberi petunjuk untuk mencapainya, karena sangat sulitnya.

8. Byaktekan kakanisycayan rusitikan twas nhin sudhairya n manah. Kadyangganin amet bhinukti manarembha dhanya sanken lemah. Lot mritya. mateken paragraya mijil wwahnin tinandurnira. Pangil rakwa samankanekana n asadhyahyun manemwan phala.

Nyatalah bahwa kejernihan batin itu sulit (dicapai), kecuali mencari dengan dilambari hati yang sangat teguh, laksana orang mencari makan dengan menanam padi di tanah, (ia harus) sabar sekali, dengan pertolongan orang lain (teman seperjalanan), maka tumbuhlah buah dari pada (biji) yang ditanamnya. Barangkali demikianlah kiranya orang yang ingin mendapatkan hasil (dalam Kesempurnaa hidup).

Pupuh II
1. Tan lyan rin manusir gunadhika canaih-canaih kramanika. Lawan tinkahi san widagdha manamer su-ratna-wanita. Mwan buddhinta masewaken nrepati len maren syiragiri. Ndah yekan pwa catur prakaranika tan dadi n geli-gelis.

Bagi orang yang hendak mencapai keahlian yang tinggi tiada jalan lain kecuali bertindak dengan sabar. (Demikian pula hendaknya) dikerjakan oleh orang pandai yang ingin memikat gadis jelita. (Demikianlah pula hendaknya) hatimu bila mengabdi kepada raja atau hendak mendaki puncak sebuah gunung. Itulah empat perkara yang tak dapat dicapai dengan tergesa-gesa.
2. Rin cuklendu samatra tambayanikaweweii kedi-kedik. Riri plaksalpika suksma wijanika ghora ta pwa tumuluy. Manka n satpada panhisepnya madhu nitya mogha mapupul. Tadwat mankana rin lanotsaha temahnya purna wekasan.

Bulan pun bertambah besar wujudnya dengan pelahan pada waktu paroh terang. Pohon beringin pun berasal dari biji yang sangat kecil, (dan) tidak menajadi besar dengan seketika. Demikian pula lebah penghisap madu (dengan penuh kesabaran menghisap sedikit demi sedikit, tapi dengan teratur sehingga lama-lama banyak terkumpul). Orang yang berusaha dengan tak berhenti-henti akan segera berhasil dan akhirnya menjadi sempurna.

3. Lawan salwiranin gunadyapi tan arghya yogya ya gegon. Drestan tan kriya-banyageka wiwidha n swa-banda tinenet. Donyapet karananya mentasa ri sarwa-bhumi n usiren. Donyasin pinalakwa tumbasenikan wwan aywa katunan.

Lagi pula segala kepandaian, walaupun tampaknya tak berharga hendaknya dipegang kuat-kuat. Lihatlah kepada si pedagang yang menyimpan baik-baik bermacam-macam benda. (Untuk) mendapatkannya ia pergi ke berbagai daerah dan berbagai negeri; dengan maksud agar tidak ada yang yang kurang bila ada orang yang hendak membelinya.

4. Sampunyan pada wreddhi n artha salekasnikaphala tuwin. Nda tan warsih amet muwah sahananin minulya rin aji. Mamrih kwehani gatyanin gaway anindya lana temunen. Rapwan panguhaken wisyesa-mani jiwa-tulya linika,

Sesudah banyak terkumpul hartanya, apa juga yang dikehendakinya dimungkinkan dapat terlaksana; akan tetapi tiada berhenti juga ia mencari benda-benda yang bernilai tinggi, agar ia senantiasa dapat berhasil dalam melaksanakan berbagai pekerjaan yang utama. Katanya, “Supaya dapat menemukan kehidupan yang laksana permata yang tiada tara.”

5. Sansiptan taya len sudharma wekasih hinuttama dhana. Kwehnin hema suratna bhusana winasya-jati rasika. Stri len putra sawandhu santana nahan ya mogha mapasah. Mukya h jiwita towi meweh ika rin ksana krama hilan.

Ringkasnya tidak ada kekayaan berharga melebihi berdana. Emas, permata dan perhiasan semuanya dapat binasa. Begitu juga istri, anak dan sanak saudara akan terpisah pada suatu ketika. Bahkan yang terutama yaitu ‘jiwa’ (badan halus/keakuan) pada suatu ketika akan musnah juga.

Pupuh III

1. Rin laksmi makahinan in greha taman winawa ri sedenin paratrika. Nkanen gmasana hinanin swa-kula wandhawa weka-weka bharya tan waneh. Nbin tan karmika purwa yan sukreta duskreta manuduhaken teken paran. Dharmadharma tinutnya (selwana) salakwa dadi milu manuntun in henu.

Kejayaan akan tertinggal di rumah pada waktu (kita) mati. Tiada lain hanyalah ditempat pembakaran mayat batasnya sanak saudara, anak dan istri menemani kita; Hanya buah perbuatan baik atau perbuatan jahat (pada waktu hidup) dahulu yang menjadi petunjuk jalan. Buah karma baik atau buah karma jahat akan diikuti (oleh jiwa) kemanapun arahnya (akan selalu) diturutkan.
2. Apan tan hana len nimittanin amanguh ala sinaputin putek hati. Sanken karmika wreddhi kopa dadi lobha temahanika moha tan surud. Sanken moha si mada, mada dadi matsarya kujana katungka garwita. Ndah yan mankana tan wurun tumemu pataka saka ri wimudhanin hidep.

Karena tidak ada sebab mendapatkan kecelakaan dan dukacita, selain dari buah ‘karma’ Kopa (angkara) yang menjadi-jadi, yang menimbulkan Lobha (tamak) dan pada akhirnya menyebabkan Moha (kebingungan) yang tak pernah reda. Moha menimbulkan Mada (kemabukan), Mada menimbulkan Matsarya (iri) Kujana (pikiran jahat) Katungka (kebebalan) dan Garwita (kecerobohan) di dalam hati. Bila demikian halnya, tentulah (kamu) menemui bencana karena kebebalan itu sendiri.

3. Atyanten atighoranih tasik awas kalanuyan i gatinya mankana. Lawan koddhretanin manik ri tutukin kupita-makara yeka tar manel. Krura n taksaka dadya puspa sama rin hulu kasuhuna wastu pangihen. Tan manka n gata-buddhi ya pratiniwista kadawutanikardha bhisana.

Jikalau dirimu mampu menyingkirkan segala hal semacam itu, lautan yang hebat sekalipun akan mampu terseberangi dan mutiara yang tersimpan dalam mulut ikan ‘Makara’ yang dahsyat pun (dapat diambil) dengan mudah. Sungguh! Ular yang ganas akan mampu dijadikan karangan bunga yang menghiasi kepala. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan orang yang berhati jahat, ia sangat durhaka, (jangankan melakukan hal-hal seperti tersebut tadi) pemberantasan (daripad sifat jahatnya itupun) sangat sukar dilakukannya.

4. Chatra stambha ya tejanin rawi mawas katahenani panasniradbhuta. Byakta n we wenananya yan mamejahen apuy atisyaya diptakojjwala. Matta n naga tan arikucamatehaken, lara sabhaya si tamba panhreta. Ndan rin murka jugeki tan hana pakosadha n amateha dadya mardawa.

Teranglah bahwa payung dapat menahan panas matahari, betapapun juga teriknya. Teranglah bahwa air dapat memadamkan api, betapapun juga berkobar nyalanya. Gajah yang buas dapat ditahan dengan pengait; penyakit yang berbahaya dapat diobati. Tetapi orang yang pemarah tidak ada obat baginya yang dapat meredakan dan mengubahnya menjadi sabar.

5. Tiksna n pawaka mogha tan salabha muhsira riya sahajan paweh suka. Mungwih panjara towi tan papikat asran inusinikan arja paksika. Wetnih hyunya manansyaye hayuni syabdanika lalita komalanulus. Keket rin wekasan tekapnin atiharsanika karananih kaduhkitan.

Anai-anai mencari api yang panas karena mengira cahaya dapat memberi sukacita. Burung-burung dengan bersemangat mengunjungi burung pemikat di dalam jerat, karena terpikat akan suaranya yang halus menyenangkan hati sehingga hilanglah kewaspadaannya. Akhirnya terjeratlah mereka karena hatinya diliputi keinginan yang menyebabkan dukacita pada akhirnya.

6. Tadwat mankana tan samasta-jana tan dadi wenana dhumarana n manah. Denin raga lanahiket lewu subaddha ri hatinikanari sarat kabeh. Hetunyan mapageh keta n mada withoha manah atisumok nirantara. Byaktande wiparita tan wurun anutaken iki ri sasestinin hidep.

Sungguh manusia-pun akan demikian pula manakala tidak mampu mengendalikan hatinya. Karena Raga (keinginan) senantiasa membelenggu hati manusia dengan kokoh dan kuatnya. Menyebabkan sifat Mada (Mabuk) dan Bingung bertahta dengan sangat kuat di hati dan memenuhinya selama-lamanya. Teranglah, bahwa hal ini menimbulkan kekacuan manakala (orang-orang yang bodoh) mencontoh dan menurut segala kehendak mereka.

7. Hinanyan lalu gaktinih hyun iki yan linagan, in apa denya konkaba. Yapwan pinrih ilannya manhilanaken tutur amuhara syoka mohita. Yan sinyuh magawe prapanca niyatandani turida manunsyahin lutut. Yan winwan iniwo makin pinaka wisti pinaka hawanin kapataka.

Kekuatan keinginan itu terlampau kuat untuk diperangi. Dengan apakah ia dapat dikalahkan? Kalau dibunuh, pikiran pun akan hilang dan menimbulkan dukacita serta kelesuan hati. Kalau dihancurkan membuat hati tak peduli dan akan menimbulkan was-was yang dapat menggoncangkan kegairahan hati. Kalau dimanjakan dan diperturutkan akan menjadi makin berbahaya dan membawa (kita) ke neraka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.