Selasa, 10 April 2012

TEORI PERANG BUBAT

TEORI PERANG BUBAT
ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON
Created by Ejang Hadian Ridwan

Bagian I Analisa Kitab Kidung Sunda

Kalau memang asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena mungkin ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadaan bangsa Indonesia masa kini.
Banyak hal yang didapat dan merupakan informasi penting sebenarnya dari kitab kidung Sunda, kalau kita analisa lebih teliti.  Kitab Kidung Sunda ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton dan Wangsakerta, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Nagarakertagama yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu, bahkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik pun tidak disinggung mengenai peristiwa Bubat ini. Penulis tidak menganalisa sumber kitab Wangsakerta, karena kitab ini baru muncul belum lama dan masih dalam proses penelitian keasliannya oleh para ahli sejarah. Hanya kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang ingin penulis ajukan untuk analisa kisah perang Bubat ini.

Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit (Wilwatikta, bahasa sansekerta) yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini sendiri diangkat juga oleh kitab Pararaton, dan sumber lainya, inilah kaitannya mengapa boleh dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan dan mendukung untuk kisah atau peristiwa perang Bubat, karena ada kesamaan para pelaku sejarah didalamnya.
Informasi lainnya yang bisa dianalisa seperti hal-hal yang berbau mistis yang secara kemanusiaan itu mustahil dan tidak masuk logika, tentang Gajah Mada yang moksa (red - menghilang dari penglihatan kasat mata) seperti petikan terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut ini:
"Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)
Kitab Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan, seperti petikan diatas. Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan, bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bahwa perang Bubat ini hanyalah atau rekayasa mengikuti cerita sebelumnya.
Terjemahan kitab Kidung Sunda ini diterbitan oleh C.C Breg (sejarawan Belanda) tahun 1927-1928 bersama dengan kitab Kidung Sundayana. Kitab ini diterbitkan setelah  kitab pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat yang diterbitkan terlebih dahulu yaitu kitab Pararaton, yang merupakan hasil penelitian dan terjemahan DR JLA Brandes (peneliti sejarah Belanda yang paham bahasa Kawi-Jawa kuno) tahun 1902 dan digubah oleh para Sarjana yang belum ketahuan identitasnya tahun 1920. (silakan baca artikel Dusta Sejarah Kitab Pararaton supaya lebih jelas). 
Catatan: teks naskah Pararaton ada dalam list Dokumen Sejarah dalam tampilan website ini, silakan di cek, serta terjemahanya ada di arsip dokumen (untuk sementara).
Baiklah dalam hal ini tidak akan diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari kitab Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda dan Pararaton mengenai kejadian atau peristiwa perang Bubat, mari perhatikan petikan dari terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut:
Kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka (red, rombongan kerajaan Sunda) bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.
Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan terjemahan kitab Kidung Sunda diatas, salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari kerajaan Sunda Galuh. Rombongan itu memakai armada kapal yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil dengan jumlah total keseluruhan armada itu sekitar 2.000 buah kapal, terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar dan ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhananya seperti berikut ini : misalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, artinya jumlah rombongan dari kerajaan Sunda Galuh (gabungan kerajaan Sunda dan Galuh) sekitar 20.000 orang awak, ini tentunya suatu jumlah yang terlalu overdosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan.
Bayangkan atau misalkan lagi, kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai lebih dari 40.000 orang awak, dan itu juga bukanlah jumlah sedikit dan lebih besar dari hitung-hitungan pertama, jumlah itu diperkirakan cukup untuk sebuah rencana penyerangan terhadapa suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.
Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan hanya memakai kapal-kapal manual atau memakai tenaga manusia, pasti bukanlah jenis kapal-kapal atau perahu-perahu kecil yang digunakan. Lebih tepat sebutan kapal, dan kapal-kapal ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu. Dilakukan perhitungan lagi dengan asumsi rata-rata 1 buah kapal memuat awak 30 orang, maka jumlah total orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang. Jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan besar, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit, yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.
Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan kapal, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang mengalami masa perdamainya hingga ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan kapal dan pencapaian tehnologinya, akan sangat dimungkinkan. Kapal-kapal itu bisa jadi hasil usaha dengan cara membeli dari negara lain, seperti yang diungkapkan bahwa kapal-kapal besar yang digunakan mirip dengan kapal-kapal yang dipakai oleh tentara Mongol pada waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang. Kerajaan Kediri sendiri asalnya kerajaan Singhosari tapi direbut kekuasannya oleh Jayakatwang dari sepupu, ipar atau besannya sendiri yaitu Sri Kertanegara.
Kerajaan Sunda Galuh sebelumnya sudah mempunyai hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan dari Sumatera yaitu Sriwijaya, yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, selain itu ditambah lagi dengan pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal-kapal sejumlah itu, karena kerajaan Sunda Galuh adalah kerajaan yang kaya dan makmur.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, pihak laki-laki tentunya yang harus datang ke tempat pihak si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada sesampainya dilapangan Bubat, maka secara logika atau akal sebenarnya itu tidak mungkin, kalau hanya alasanya terhina seperti itu. Raja Sunda Galuh Sri Maharaja Linggabuana (Prabu Wangi, sebutan lainnya) semenjak awal harusnya sudah merasa terhinakan diri dan kerajaannya dengan kedatangan untuk mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk.

Kisah ini paradoks dan tidak selaras tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah  tertentu atau  kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki, tapi hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran umum.

Terjemahan kitab Kidung Sunda juga membahas tentang Mahapatih Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan, kerjaan bawahan Majapahit) dikeraton kerajaan Majapahit, yang merupakan paman dari Sri Rajasa alias Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat tentang penyebab terjadinya tragedi itu. Pertanyaanya, mengapa pula dalam terjemahan kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, merekalah (para senior) yang melakukannya? mungkin bisa jadi karena terpaksa mengatas namakan bela negara. Satu hal lagi, ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ternyata ikut serta dalam peperangan itu, alasan yang sama mungkin atas nama bela negara.

Hal yang menjadikan kisah ini tidak realistik adalah karena kelihatan jelas ada sisi fantasi si pengarang. Dalam hal kenyataan perang sesungguhnya, siapapun bisa saling membunuh, tidak hanya para pembesar kerajaan dengan pembesar kerajaan lawannya, tetapi prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja dan sebaliknya atau bisa jadi mereka, para pembesar itu, tidak terbunuh langsung, tapi karena terkena senjata yang bisa dipakai dengan jarak jauh, panah atau tombak biasanya pada masa itu.

Patut diperhatikan petikan awal terjemahan kitab Kidung Sunda, puhuh I, sebagai berikut "
"Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah".

Dan juga petikan sebagian pupuh II, sebagai berikut :
"Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda"

Petikan diatas memberikan keterangan jelas bahwa pengarang kitab Kidung Sunda, tidak memahami sama sekali tentang sejarah, coba perhatikan petikan yang dikasih bold dan garis bawah, terdapat informasi tentang paman Hayam Wuruk yaitu raja Kahuripan dan raja Daha, dan merekalah yang menewaskan raja Sunda.

Padahal raja Kahuripan pada waktu itu tiada lain adalah ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi dan raja Daha adik kandung Tribhuwana Tunggadewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa, berarti bibinya Hayam Wuruk, lebih lanjut si pengarang tidak memahami juga nama raja Sunda Galuh.
 
Apakah mungkin, yang membunuh raja Sunda dalam perang Bubat adalah ibu dan bibi raja besar Majapahit? Sebutan paman hanya cocok untuk suami bibi raja Hayam Wuruk, tapi untuk suami ibunya sebutan paman tidaklah cocok. Sungguh kecerobohan yang fatal dan luar biasa naif dari si pengarang. Apakah C.C. Breg yang notabene mengatasnamakan ahli sejarah atau sejarawan Belanda dengan begitu mudahnya mengangkat topik perang Bubat hanya berdasarkan cerita kitab Kidung Sunda sebagai bahan disertasinya tahun 1927-1928, layakkah disebut ahli sejarahwan yang independen dan bisa dipercaya?

Sedangkan banyak karya-karya C.C Breg dan opini-opininya yang mempengaruhi catatan sejarah nusantara. Wajarkah kalau  C.C Breg disejajarkan dengan Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, yang terkenal dengan siasat Snouck Hurgronje dalam perang Aceh?

Apakah wajar juga kalau terjadi kecurigaan terhadap kitab-kitab atau naskah-naskah kuno, yang tidak jelas pengarangnya (anomim), sebagai bentuk pencarian tentang kebenaran sejarah. Contoh kitab Kidung Sunda, sudah teramat nyata bahwa kitab ini sepatutnya tidak bisa dipercaya, terlalu gegabah kalau sejarah disandarkan dengan memakai referensi kitab atau naskah seperti ini.

150 komentar:

  1. TEORI BARU TENTANG PERANG BUBAT BERDASARKAN TERJEMAHAN KITAB KIDUNG SUNDA

    BalasHapus
  2. Seriously memang hrs dikaji lagi itu kitab2 yg sbtlnya terlalu berisi legenda/mitos, spt Pararaton, Kidung Sunda. Terlalu banyak ketidakcocokan dan ketidaksesuaian didlmnya. Anehnya emang knp yg aneh2 ini malah dijadikan landasan buku2 sejarah pemerintah ya

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. setuju, ini kitab2 kuno hrs jelas penulisnya, sy baru tau itu yang nulis orang imprialisme

      Hapus
  4. kitab itu masih ada gg ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia gan, persisnya ane ga paham, cuma dpt terjemahannya doank, mohon maaf ya gan.

      Infonya Naskah asli Pararaton disimpan rapi di Museum Nasional Indonesia. Ditulis dalam lembaran- lembaran lontar. plus versi terjemahan DR JLA Brandes.

      Hapus
    2. Kang Enjang, klo memang ada peperangan dari 2000 prajurit pajajaran, itu di bubat ada ditemukan kujangnya gk y? klo gk ada kujang bekas perang bubat, ya aneh juga, ... kan bisa nentukan umur benda dari peluruhan atomik carbon y, minta tau seh gmn itu ada gk kujang bekas perang bubat? sy sih aneh perang belanda, jepang portugis sekutu ada bekas alat perangnya di lokasi bekas perang, lah klo perang kerajaan kita zaman dulu ko lokasi ketemua bukan tempat bekas perang, jangan2 bener kata kang enjang, klo peperangan antar ras dan kerajaan besar tuh gk ad????

      Hapus
    3. alangkah hebatnya orang sunda berkelahi pake kujang ha ha ha... ternyata kujang bagi orang sunda bukan senjata tapi simbol

      Hapus
  5. gajah mada tak sehebat yg d dengung dengungkan banyak org dlm sejarah, tak tik dn strategi majapahit melawan sunda galuh dlm perang bubat juga tidaklah sehebat yg anda sampaikan, seandainya murni adu tanding d bubat itu jernih perang majapahit pasti kalah, lebih lengkapnya nnti saya tuliskan lewat sebuah majalah atau buku, bgmn sebenarnya peristiwa bubat itu terjadi dn kenapa org sunda sampai pada binasa d bubat, satu satunya org yg merasa sangat berdosa adalah gadjah mada.....buku akan lengkap dg segala bukti bukti terbaru dn sumber sumber kitab lama....trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampeyan pasti orang sunda ya??

      Hapus
    2. dan sampeyan pasti jawa ya?...

      Hapus
    3. CEMEN LO.LO PASTI ORANG SUNDAKAN YANG NGGAK TRIMA KALAH GAN.COBA KITA LIAT DARI DULU AMPAI SKARANG NGGAK ADA SEORANG PEMIMPIN DARI SUKU SUNDA.PASTILAH DARI SUKU JAWA MULAI SUKARNO SAMPI SKARANG SBY.MAKANYA BOS HARGAILAH SEJARAH.JANGAN NGANDELIN EGO KAMU

      Hapus
    4. sebentar lagi pajajaran anyar akan menenggelamkannya, : wong jowo kari sparo, wong cino tinggal loro, krn eyang prabu siliwangi sudah ber ( sabdo pandhito ratu )...

      Hapus
    5. wkwkwkwkwk gkgkgkgk...lucu kalo nyimak si anonim anonim ini,,,,postingan arahnya ngalor...komentar arahnya ngidul,,,udah gitu anonim lagi,,,,,,hadeehhhh.......simak baik baik kalo baca postingan blog tetangga wahai para anonim............buat penulis blog ini saya beri jempol seribu........postingan menarik !!

      Hapus
    6. wong jowo tinggal separo.. wong cino tinggal loro.. wong sunda habis sama sekali... jangan dibellokan sejarah... dipati ukur orang sunda dihukum mati oleh sultan agung mataram.. itulah sejarah kalo orang jawa itu lebih unggul dari orang sunda....

      Hapus
    7. perang bubat emang ada kareng kerajaan sunda sebenar mau berontak... jadi kerajaan sunda dihukum mati... sama seperti dipati ukur yang berontak pada sultan agung mataram...

      Hapus
    8. udaaaahh bubar semua, gue orang sunda yg akan menyodomi kalian semua orang jawa, pake linggis !
      dari dulu emang presiden RI hampir semua dari jawa itu karena budaya jawa yg Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
      pada kenyataannya orang2 jawa hidup miskin dan hanya jualan jamu gendong dan bakso ... huahahahahaha

      Hapus
    9. sugi.anywhere@gmail.com1 Juli 2013 05.45

      saudara2 anonim2 diatas ini org jawa dan sunda, tujuan dibelokkanya sejarah hubungan majapahit dg sunda adalah agar timbul rasa benci org sunda dg jawan dan sebaliknya org jawa jg benci dg sunda, jadi tolong jangan terhasut dr sejarah yg punya tujuan busuk ini

      Hapus
    10. ooww.... makannya viking ama arema takluk.. sejarahnya gitu sih..majapahit awalnya dari singosari.. emang hebat arema..ehhh ken arok

      Hapus
  6. sip gan, kasih kabar gembira ya kalo buku itu dah terbit, cuma satu gan saran ane, pastikan dulu perang bubat itu terjadi nyata atau tidak.....coba gan baca dulu topik ane mengenai "Kebohongan Sejarah majapahit Vs Sunda" ada bukti bahwa Kerajaan Sunda dianggap oleh kerajaan Majapahit sebagai negara sahabat selain kerajaan-kerajaan di pulau Madura, thanks gud lak.....

    BalasHapus
  7. oh ya,, ane mo tanya gan ,;;
    Perang Bubat itu sendiri (kalo misalnya itu hanya diada-adakan), kenapa Gajah Mada harus menyingkir / resign dari mahapatih secara tiba-tiba???
    kalaupun peristiwa itu hanya rekaan menurut saya pribadi, tentunya tidak akan mengakar secara turun temurun dari generasi ke generasi mengenai sejarah kelam ini.
    kalo pendapat awam seperti saya, peristiwa itu tetap ada ,.. TETAPI, motifnya yang masih menjadi spekulasi,, karena tidak mungkin HAYAM WURUK akan membantai rombongan calon istrinya, apalagi leluhurnya berasal dari pasundan

    maaf kalau kurang berkenan
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf agak telat jwbnya gan.

      Dalam terjemahan kitab Negara Kertagama yang ane baca, tidak ada pernyatakan resign untuk Gajah Mada, berhenti memang tetapi itu karena kondisi sakit, dan secara usia dianggap wajar juga, suatu alur yang normal, tidak ada keanehan.

      Dalam masa peralihan jabatan Mahapatih, ada sikap ketergantungan Sri Rajasanegara alias Hayam Wuruk terhadap Gajah Mada untuk posisi itu, sehingga ada masa rehat selama 3 tahun untuk jabatan itu belum diisi pejabat lainya, karena dianggap para pejabat yang ada tidak mempunyai kemampuan dan integritas yang sama seperti Gajah Mada, mungkin juga sebagai tanda hormat atas jasa yang diberikan.

      Kadang dalam permainan sepak bola juga, jika seorang legendaris, nomor punggugnya kadang disakralkan, tidak dipakai oleh pemain lain, personifikasinya sprti itu gan.

      Begitu gan, thanks atas atensinya....

      Hapus
    2. SENTIMEN orang Sunda kepada orang Jawa ternyata lahir di tahun 1928, bukan tumbuh dari abad 14 setelah Prabu Linggabuana dan putrinya Dyah Pitaloka dibunuh anak buah Gajah Mada dalam perang di lapangan Bubat, utara Trowulan, ibukota Majapahit.

      Sentimen itu lahir setelah C.C Berg--seorang filologis Belanda--menerbitkan disertasi yang membahas Kidung Sundayana. Ini puisi yang ditulis seorang penyair Bali memakai bahasa Bali. Penulisnya menceritakan perang Bubat dengan rasa simpati untuk Raja Sunda itu. Penulis kidung ini adalah seorang yang diminta Hayam Wuruk untuk menjadi saksi pernikahannya dengan Pitaloka.

      Para sarjana Indonesia ketika itu menyambut buku Berg dengan rasa curiga. Mereka menuding Berg hendak menghancurkan Sumpah Pemuda--seperti politik pecah belah Snouck Hurgronje di Aceh--yang baru dirintis. Sebab, buku Berg menyadarkan orang Sunda bahwa kejadian di Bubat adalah peristiwa memilukan sekaligus memalukan: bagaimana seorang raja yang dengan niat baik akan menjodohkan putrinya kepada Raja Majapahit justru ditolak dan dibunuh.

      Bagi orang Sunda, Gajah Mada adalah penyebab segala rusuh itu. Dia dituduh hanya berambisi mewujudkan sumpah Palapa menyatukan kerajaan di Nusantara di bawah Majapahit. Tinggal Sunda yang belum takluk ketika itu. Meminang putri raja adalah cara elegan yang tak makan ongkos banyak. Di Bubat, Mada membelokkan niat pernikahan itu dengan persembahan. Pitaloka akan dijadikan sesembahan sebagai tanda Sunda telah takluk kepada Majapahit.

      Ane kutip dari : http://saljudiparis.blogspot.com/2011/11/perang-bubat.html
      ternyata ada analisa yang sama dengan ane gan.

      Hapus
    3. Ya gan, bisa jadi perang ini mungkin terjadi, tp cerita sentimentil tentang perang Bubat yang menyayat hati itu yang harus dipertanyakan.

      Seolah-olah bangsa kita adalah bangsa yang tidak mempunyai etika dan tata krama perang, cerita perang Bubat seperti yang sering kita dengar itu sungguh menjatuhkan nilai peradaban nusantara bangsa kita tempo dulu.

      Yang ane bisa cuma menganalisa dari terjemahan yang sudah ada, dan banyak beredar di khalayak rame.

      Hapus
    4. Kenapa Kerajaan- kerajaan di Jawa tidak bisa menaklukan kerajaan sunda.
      Ini dikarenakan Kerajaan sunda merupakan kerajaan yang solid. Tidak pernah terjadi perebutan kekuasaan atau peperangan di kerajaan sunda. Mulai dari kerajaan SalakaNegara, Taruma Negara hingga berubah menjadi kerajaan Sunda-Galuh dan akhirnya menjadi kerajaan Pajajaran. Ini semua masih satu garis keturunan atau satu trah.
      Ini semua berbeda dengan kerajaan- kerajaan di tanah jawa yang penuh intrik. Lihat saja bagaimana Ken arok membunuh Raja Tunggul Ametung sebelum mendirikan singasari. Kemudian raja terakhir Singsari (kertangara) tewas oleh Jaya katwang dari Kediri. Jaya katwang sendiri akhirnya mati oleh raden wijaya (pendiri Majapahit).
      Majapahit sendiri banyak intrik dan kelicikan di dalamnya. Lihat pemberontakan Ra Kuti, pemberontakan Rangga lawe, perang peregreg. dll. Jadi bagaimana bisa menyerang kerajaan yang solid.

      Hapus
    5. berdasar kitab atau prasasti mana bahwa kerajaan sunda galuh berasal dari tarumanegara. dan darimana hubungan sunda galuh dengan penamaan pajajaran (dari prasasti mana neng?)

      Hapus
    6. Ibukota kerajaan taruma negara adalah sundapura. dengan ibukota di sekitar bekasi. dan pelabuhan utamanya adalah pelabuhan sunda kelapa.

      Raja terakhir taruma negara membagi kerajaannya menjadi dua,sesuai dengan jumlah putranya. kerajaan itu adalah Galuh dan sunda. Yang dikemudian hari akan bersatu lagi oleh perkawinan putera-puterinya. kemudian dinamakan Pakuan pajajaran. Dengan raja yang termasyur yaitu Sri Baduga Maharaja atau orang sunda biasa sebut prabu siliwangi.

      Kalau anda ingin mengetahui sejarah silahkan main ke museum nasional. atau museum lainnya.

      Hapus
    7. Aink orang sunda,,,,... sia tong ngahina orang sunda jeung tong nyepelekeun orang sunda

      Hapus
    8. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
    9. Kagak ada yg leluhur nya dari sunda...
      raja-raja majapahit termasuk raden wijaya keturunan ken Arok.....(kitab Nagarakretagama, pupuh 46-48), di prasasti Balawi yg ditulis raden wijaya
      menyatakan bahwa dia
      termasuk wangsa Rajasa alias keturunan ken Arok

      Hapus
    10. Nama siliwangi karena ada peristiwa bubat.
      Raja nya menjadi harum (wangi) namanya di tatar sunda karena lebih memilih mati daripada menerima tawaran gajahmada.
      Selanjut nya keturunan nya disebut/memakai nama siliwangi.

      Hapus
  8. yg menarik, kenapa kerajaan majapahit, tidak bisa mengalahkan kerajaan sunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, Kerajaan Majapahit menganggap Kerajaan Sunda sebagai kerajaan Vasal / sahabat, karena adanya kedekatan historis leluhur antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit, oleh karena itu invasi / penyebaran pengaruh Kerajaan majapait ke seluruh Nusantara tidak mengusik Kerajaan Sunda.
      Kalaupun perang Bubat ini benar-benat terjadi, pasti ada motif yang kuat di dalamnya yang tidak bisa dihindarkan.
      Tetapi memang pengaruh Kerajaan Majapahit sangat kuat di Nusantara, bahkan sampai ke Johor (Malaysia), Champa (Vietnam) dan sebagian Filipina. Sedangkan Kerajaan Sunda selama ratusan tahun hanya menguasai daerah Sunda saja.
      Mungkin Perang bubat antara Kerajaan Sunda (Galuh) dan Kerajaan Majapahit didasari suatu motif yang kuat.
      Hal ini tidak perlu dibesar-besarkan dan menjadi sentimen negatif, harus dijadikan pelajaran dan bagian dari panggung sejarah Nusantara.

      Hapus
    2. http://id.wikipedia.org/wiki/Silsilah_raja-raja_Sunda ..... PRABU GURU DHARMASIKSA, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Beliau mempersiapkan RAKEYAN JAYADARMA, berkedudukan di Pakuan sebagai PUTRA MAHKOTA. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3: RAKEYAN JAYADARMA adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan putrinya MAHISA CAMPAKA bernama DYAH LEMBU TAL. Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI. Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Rakeyan Jayadarma mati dalam usia muda sebelum dilantik menjadi raja. Konon beliau diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Akibatnya Dyah Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan anaknya. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-26.

      Hapus
    3. Ayah R. Wijaya bukanlah rakeyan Jayadarma seperti yang beredar di sunda, Melainkan DYAH LEMBU TAL, kata dyah bukanlah nama melainkan gelar pada saat itu seperti DYAH, DYAN seperti gelar raja2 Mataram Kuno : Dyah Balitung, Dyah Wawa, Dyah Pancapana dst. Dalam Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Hayam wuruk yang notabene cucu R. Wijaya disebutkan bahwa AYAH R. Wijaya adalah DYAH LEMBU TAL. Nama LEMBU saat itu adalah nama untuk laki2,misal LEMBU Peteng, KEBO Anabrang, MAHISA (KEBO) Campaka, dst. PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA adalah bagian dari NASKAH WANGSAKERTA yang ditulis pada abad 17 yang MASIH DIPERDEBATKAN KEASLIANNYA (yang menyatakan palsu menyebutkan bahwa naskah P. Wangsakerta ditulis th 1950an)

      Hapus
  9. maaf, ikut nimbrung dengan pengetahuan yang terbatas. saya punya pertanyaan yang sama dengan kang enjang.
    Pertama.. bukankah terlalu aneh kisahnya (menurut pakem standar sekolah) dimana raja suatu negara besar (majapahit) yang menghinakan negara yang lebih kecil (sunda) justru memakai nama dari negara yang kecil tersebut., yaitu "hayam". kalau mau juga "pithik" wuruk ya kang?
    Kedua.. Gajah Mada dengan sumpahnya yang terdengar seperti Niat Ingsun Amukti Palapa, dimana arti kata Palapa sendiri sampai sekarang bukanlah suatu kata yang umum digunakan di Indonesia. Mungkin tidak ya kang kalau nama aslinya adalah Hajj Al Ahmad (yang terpeleset oleh lidah jawa menjadi Gajah Mada, ditambah posturnya yang besar dan hidung mancung seperti gajah) mengucapkan sumpah "Nawaitu Al Mukhti wal Affah" sekali lagi terpeleset menjadi "niat ingsun amukti palapa", yang kalau tidak salah artinya adalah niatku untuk menjadi berani (al mukhti menjadi amukti) dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat haram (wal affah menjadi palapa).
    Sekali lagi kang, punten kalau tidak ilmiah, cuma sekedar sumbang pemikiran saja. nuhun..

    BalasHapus
  10. ikutan nanya ah...
    kalau kita melihat perang bubat sebagai fiksi lalu kira2 kenapa ya kerajaan2 jajahannya bisa lepas kalau bukan melihat sikap dari gajah mada yang arogan?
    kalau perang bubat itu tak terjadi dan kemungkinan hayam wuruk menikah dengan diah pitaloka bukankah kerajaan2 jajahan itu tetap bergabung di monarki majapahit bahkan semakin kuat karena adanya dukungan dari kerajaan sunda galuh?
    satu lagi dilihat dari karakter kepemimpinan majapahit yang invasioners dgn banyak negara lain yang dijajah. bukanlah suatu keniscayaan hal tersebut akan dilakukan juga pada kerajaan sunda galuh walau pun kerajaan sunda cinta damai selama ratusan tahun dan dianggap sebagai negara sahabat karena ada hubungan darah hayam wuruk tapi kan para bawahannya tidak?
    menurut saya perang bubat itu benar2 terjadi terlepas dari motive dan cara apa yang dipakai untuk dibelakangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks gan Rif, sah-sah saja kalau ada orang bilang perang Bubat itu terjadi tetapi sah-sah juga yang berkata sebaliknya. selama bukti primer itu tidak ada, siapa pun bebas menentukan dua pilihan itu.

      Tapi kalau kerjaan bawahan Majapahit sedikit-demi sedikit lepas, itu masalah lain.

      Semenjak kebijakan pembagian dua wilayah kerajaan Medang terbagi 2 menjadi Panjalu dan Jeenggala, pergolakan politik terus terjadi, saling menyerang dan saling mengalahkan.

      Kondisi seperti ini menyebabkan keputusasan pada masanya selain membawa dampak pola kekerasan tentunya.

      Muncul Sri Rajasa raja pertama dalam dinasti Rajasa cikal bakal Majapahit bisa jadi solusi alternatif. Tapi tetap saja kemunculannya diiringi ketidakpuasan bagi pihak yang merasa lebih berhak berkuasa. Inilah penyebab utama masa-masa itu terus terjadi pergolakan politik.

      Masa-masa seperti ini memungkinkan kerajaan itu bangkit sejaya-jayanya dan bisa jadi ambruk seambruknya, karena dua kepentingan itu tidak bisa dibersihkan.

      Sampai akhir hayatnya Majapahit, pergolakan politik itu terus berlangsung, asalnya yang berkepentingan anatara pihak keturunan Dinasti Airlangga dengan Dinasti Rajasa, pada perkembangannya menjadi emapat Dari Dinasti Rajasa tebagi 2 kepentingan yang bertolak belakang, tujuanya memperebutkan kekuasaan tentunya, pihak Dinasti Rajasa pun sama, perkembangan menjadi 2 kepentingan itu keniscayaan, masalah ahli waris.

      Runtuhnya Majapahit bukan lah karena masuknya Agama Islam, ya karena pergolakan politik yang terus menerus. Akhir Majapahit ditandai dengan kekuasaan itu beralih ketangan Kediri lagi.

      Kerajaan2 Islam yang terbentuk setelah itu, hanyalah alternatif tawaran yang diterima masyarakat karena kondisi yang sudah membuat mereka putus asa dengan konflik tiada akhir tersebut. begitu gan, semoga bisa menjaab pertanyaan Agan. thanks

      Hapus
    2. Tuk gan Rift..ketika negara pusat sudah lemah mana ada negara bawahan yang ga mau lepas, lihat saja Uni Soviet, Yugoslavia, CekoSlovakia dll. Lalu kenapa juga Banten yang sama2 sunda menjadi propinsi sendiri lepas dari jawa barat??? Sekarang Cirebon sudah mau melepaskan diri juga dari Jawa Barat.??

      Hapus
    3. Bung Ejang itu dapat terjemahan kidung sundanya di mana. Atau hanya tafsiran semata. Karana dimata saya tulisan anda jauh dari ilmiah.

      Hapus
    4. Ya, Gan silakan kalo agan menggap demikian...mohon maaf sekiranya kalo sekiranya tulisan ane diatas menurut agan jauh dr kata ilmiah. Sandaran logika dari data yg didapat memberikan penafsiran lain tentang peristiwa bubat. ya memang itu hanya pendapat ane gan.

      ttg Kidung Sunda yang mengatakan jumlah 2000 kapal, Silakan gan cek di http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/3894368-terjemahan-kidung-sunda-tanggapan atau di http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda , Banyaknya jumlah yang berperang senafas dgn yg digambarkan pararaton (yg gugur diibaratkan darah seperti lautan, tumpukan mayat yang menggunung silakan cek di http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/04/teks-naskah-pararaton.html ato di http://ki-demang.com ...bgtu gan, thanks

      Hapus
    5. awewe di imah keur dahar

      Hapus
  11. Ayeuna mah kumaha cara na ieu Nusantara Ngahiji deui.Tong aya Aing Sunda atanapi Nyong Jawa anu jadi na pa Aing-aing.hapunten upami cariosan na teu aya Tata sinareng Titi na.

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa urang sunda mah cawokah, satuju nu penting di nusantara mah teu aya susukuan... ceuk beja mah karajaan naon wae ge nu aya di nusantara mah gaduh hubungan bilateral sareng kerajaan nu kantos aya di dunia, hartosna nu aya di nusantara teh diajenan ku bangsa deungeun. hayu urang sasarengan deui sangkan nusantara (indonesia) diajenan deui ku bangsa deungeun..

      Hapus
    2. sarua kang abi satuju, Tp kita juga harus tau dg sejarah bangsa kita! ek sunda atawa jawa nu penting mah satu kesatuan INDONESIA. Hapuntena kang "ejang" cariosan simkuring bledag bledug....:D

      Hapus
    3. bosone biasa wae iso ra, soale neng kene udu mung wong Sundo. akeh sing ra mudeng omonganmu kui. Ngapuro nek ono salah, MaturNuwun.

      Hapus
  12. Perang bubat tidak dicantumkan dalam negarakertagama, karna kitab itu merupakakan puja sastra alias sastra yang mengagungkan kebesaran raja dan kerajaannya. (sejarah ditulis oleh yang berkuasa). Kenapa kerajaan sunda sejak zaman singasari (prabu kertanegara) tidak pernah diserang. Bahkan malah menyerang sumatera dengan ekspedisi pamalayunya, ini dikakarenakan kerajaan sunda merupakan kerajaan yang kuat dan solid.
    Sejarah mencatat tidak pernah ada peperangan di kerajaan sunda. Mulai dari jaman Salaka Negara, Tarumanegara, hingga berubah menjadi kerajaan sunda-galuh dan akhirnya menjadi kerajaan Pajajaran, semuanya damai dan masih satu garis keturunan. atau satu trah.
    Ini semua berbeda dengan di jawa yang banyak terjadi konflik, intrik, hasut-menghasut. Lihat saja bagaimana Singasari berdiri. Singasari berdiri setelah Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Raja Singasari terakhir sendiri(kertanegara) mati di tangan Jaya katwang adipati kediri. Dan akhirnya Jaya katwang sendiri mati di tangan raden wijaya yang kemudian mendirikan Majapahit.
    Di Majapahit sendiri banyak konflik dan intrik, lihat pemberontakan Ra Kuti, Ranggalawe, perang paregreg, dll. Jadi mana mungkin kerajaan di tanah jawa menyerang kerajaan sunda yang solid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah neng ini pengikut yang percaya kitab pararaton dan kidung sundayana, yang sangat diragukan kebenarannya. he..he.. lha saya tidak melihat bahwa adanya kerajaan-kerajaan kecil di tanah sunda (banjaransari, sumedang larang, galuh pakuan sampai membentuk pajajaran/kerajaan yang berjajar termasuk munculnya kasunanan cirebon, banten) sebagai bukti kesolid-an he..he..

      Hapus
    2. @ ANDARA PUSPITA Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA yang di sunda dijadikan kebenaran R. wijaya adalah anak rakyan jayadarma dan beribu dyah lebu tal. dyah lembu tal pulang ke singasari karena suaminya DIRACUN oleh SAUDARANYA sendiri, APAKAH INI BUKAN INTRIK.
      Cirebon berdiri dengan mengalahkan Pajajaran yang notabene adalah kakeknya sendiri, apakah ini bukan perebutan kekuasaan juga.
      Janganlah kita mendendam karena sesuatu yang terjadi ratusan tahun lalu yang masih pula disangsikan kebenarannya, lagi pula apakah salah generasi sekarang yang tidak tahu menahu dengan peristiwa tersebut menjadi korban perasaan dendam yang sebenarnya timbul karena sifat NARSIS

      Hapus
    3. DEMAK juga mengalahkan MAJAPAHIT, apakah ini bukan intrik?

      Hapus
    4. Karena kerajaan di tanah sunda bukan ancaman.
      Kerajaan sriwijaya di bumi hanguskan oleh majapahit berdasarkan sbh tulisan diam2 masih mengirim upeti ke kerajaan china.

      Hapus
    5. Kitab rajya ii bhumi nusantara ada yg menyatakan aspal.
      Karena dari hasil penelitian teknologi kertas yg digunakan tidak sesuai/lazim digunakan sesuaidengan tahun pencantuman dimana kitab itu dikeluarkan

      Hapus
  13. Setiap sejarah mempunyai makna tersendiri bagi orang orang yg ingin menguak tabir atas kejadian itu sendiri,tapi yang lebih penting biarlah sejarah di maknai sejarah.Jangan sampai menjadikan DENDAM TURUNAN

    BalasHapus
    Balasan
    1. sippp setuju...yang penting bagaimana mempelajari sejarah itu bisa bermanfaat bagi masa sekarang dan masa depan...dari pelajaran peristiwa sejarah itu...thanks ya gan

      Hapus
    2. Tapi cara membahasnya jangan berat sebelah.

      Hapus
  14. dalam alqur'an banyak sejarah umat terdahulu yang allah wahyukan kpd nabi Muhamad untuk dijadikan pelajaran kedepan bagi kita umat yg hidup saat ini. mengenai peristiwa perang bubat, hal yg hrus menjadi pelajaran adalah jgn lah kita gila akan kekuasaan,(wilayah tetangga sendiri koq mau di embat??)

    BalasHapus
  15. Alkisah,, prabu hayam wuruk mengundang raja sunda beserta istri dan sang putri untuk datang ke kerajaanya membicarakan hari perkawinannya. sang prabu hayam wuruk sebelumnya telah memerintahkan utusannya memberikan undangan kepada raja sunda dengan membawa hasil bumi dan perhiasan dan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa datang secara langsung ke kerajaan sunda disebabkan oleh kesibukannya mempersiapkan invasi militer ke daerah myanmar. raja sunda pun memenuhi undangan sang prabu bersama permaisuri dan sang putri hingga sampai terjadilah apa yang dinamakan dengan perang bubat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf gan, tahun penandaan perang Bubat info dari Pararaton 1357 Masehi, kalo dalam Nagarakertagama, tahun2 atau saat itu Hayam Wuruk sedang melakukan serangkaian Tour Wisata, Safari Keliling atau Kunjungan Wilayah-wilayah pedesaan di Majapahit....tidak terlihat adnya kesibukan mempersiapkan perang atu pesta pernikahann...bgtu gan....Kalo dikatakan dia ga datang karena sibuk..."dia bukan calon menantu yang baik, bisa dikatakn dia calaon menantu yang pandai berbohong, so sibuk padahal lg senang-senag jalan jalan" hehhe thanks gan

      Hapus
  16. Mohon Maaf. Saya Orang awam yang tdk terlalu tahu sejarah. Yang saya tahu bahwa banyak sejarah di Indonesia itu ceritanya di putar dan di balik. Jangankan peristiwa yang sudah ber abad abad yang lalu, yang kita sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, sejarah yang berumur tahun 1900 an saja masih banyak perdebatan. Peristiwa masa lalu apalagi berabad2 yang lalu yang belum ada alat2 yang canggih, kita menganggap itu benar atau salah tergantung dari tafsiran kita saja kecuali yang memang sudah diyakini kebenarannya seperti catatn yang ada di prasasti. Saya setuju dengan gambaran mas ejang kalau kitab seperti pararaton masih meragukan dengan alasan:
    1. Kitab tersebut pengarangnya tidak jelas. setahu saya prasasti yang berupa batu saja, biasanya ada yng menuliskan di jaman siapa dan siapa yang memerintahkan membuat (maaf kl salah). kalau boleh sy memakai istilah sama dengan surat kaleng (gak jelas)
    2. Kitab tersebut nama2 orang yang ada didalamnya tidak sama dengan banyak prasasti yang ditemukan. ini menunjukkan ada distorsi cerita.
    3. Tahun peristiwa yang ada di kitab tersebut juga banyak yang berbeda dengan prasasti.
    4. Peristiwa yang disampaikan ada beberapa berbau mistik (kl menurut syarat ilmu, ini sudah gak masuk dalam ilmu. salah satu syarat ilmu setahu saya kan harus Logis)
    Kalau kita meyakini sesuatu yang kejelasannya saja diragukan, bahkan sampai2 kita sentimen terhadap orang atau suatu suku atau suatu negara yang belum tentu bersalah gara2 kita meyakini kebenaran kitab tersebut, alangkah hebatnya kita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiipppp Gan, setuju...intinya sikap kritis terhadap informasi sejarah adalah perlu ya gan, mempelajari sejarah selalu mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan serta kebaran berdasarkan bukti-bukti yang relevan...thanks gan

      Hapus
  17. Punten ah ngiringan...
    Masalah terjadi tidaknya perang bubat sudah menjadi perdebatan umum. Ahli sejarah juga sampai sekarang tidak ada kemufakatan mengenai itu.Tapi mari kita lihat sisi menarik dari Sikap Prabu Wastu Kancana pasca perang bubat. Sikap seperti inilah yang seharusnya dicermati dan sangat layak ditiru serta dipraktikan saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik gan, Mohon petunjuk dan pencerahannnya sisi sikap yang menarik seprti apa dari Prabu Wastu Kencana paska perang Bubat? mksh

      Hapus
  18. Gea Mahardika24 Juni 2012 22.01

    Sebagai pembanding, semoga bermanfaat :
    http://riefjournal.blogspot.com/2011/10/ratu-laut-kidul-adalah-nusantara.html

    BalasHapus
  19. sejarah memang bikin pusing sejarah yang masih hangat seperti dalang dibalik G 30 S/PKI , sejarah dan bukti fisik supersemar dll. itu semua bikin pusing apalagi yang ud ratusan tahun seperti perang bubat. untuk anak cucu kita lebih bangga dan buktinya lebih jelas mari kita bikin sejarah baru indonesia yang lebih baik dan membanggakan. bukan dikenang sebagai negara dengan tingkat korupsi tinggi

    BalasHapus
  20. Boleh nih ikut nimbrung, hususnya tentang BUBAT, saya lebih setuju mengatakan SKANDAL BUBAT, karena kalau disebut PERANG BUBAT agak kurang tepat permaslahannya bukan terjadi pertempuran kedua pasukan, melainkan rombongan Sunda yang rencananya akan mempertemukan putri Sunda dengan raja Majapahit, tetapi setelah tiba di Buabt dan pada saat beristirahat, sambil menunggu rencana pertemuan tersebut, tiba-tiba diserang oleh pasukan yang mengatasnamakan perintah dari patih Gajah Mada, saya berpikir apa betul ini perintah Gajah Mada, tidak menutup kemungkinan kesempatan dari rencana pertemuan tersebut ditunggangi kepentingan politik dalam istana yang sebenarnya ada sebagian kerabat keraton tidak setuju atas rencana ini dan disamping itu ada yang tidak simpatik terhadap karir gemilang politik Gajah Mada yang saat itu sedang meluaskan ekspansi kewilayahan Majapahit seNusantara, oleh karena itu terbukti setelah peristiwa Bubat, Raja Hayam Wuruk menikah dengan saudara sepupunya yaitu putri dari adik ibunya Raja Daha, dan tak lama kemudian timbullah perang saudara yaitu perang Paregreg yang notabene perebutan tahta di antara soudara keraton Majapahit. Tapi kemudian di Sunda berkembang kerajaan Galuh di bawah tampuk pimpinan NISKALA WASTU KANCANA selama 104 tahun, yang merupakan adik dari putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Mengenai politik kekuasaan itu tidak terjadi di jaman sekarang saja, ya jadi suatu keniscayaan bahwa penceritaan tentang KIDUNG SUNDA direkayasa oleh yang berkuasa saat itu karena peristiwa tersebut merupakan sebuah penghianatan dan keteledoran yang nista, supaya tidak terjadi sesuatu apapun bagi pihak Sunda, ya jadi dibesar-besarkan bahwa itu adalah PERANG antara 2 kerajaan, yaitu kerajaan Majapahit dan kerajaan Galuh Sunda yang saat itu berpusat di Kawali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya gan,itu salah satu versi peristiwa Bubat sprt itu ygberedar, analisa ane dilihat dari isi sumber cerita itu sendiri, Kidung Sunda secara detail menerangkan kejadian itu, tp di Kidung Sunda Sendiri terdapat data tentang keberangkatan rombongan Kerajaan Sunda Galuh dengan 2000 kapal, dan keberangkatan sejumlah itu tidak mungkin untuk ngantenan atau nikahan....

      Silakan cek di http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/3894368-terjemahan-kidung-sunda-tanggapan atau di http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda , Banyaknya jumlah yang berperang senafas dgn yg digambarkan pararaton (yg gugur diibaratkan darah seperti lautan, tumpukan mayat yang menggunung silakan cek di http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/04/teks-naskah-pararaton.html ato di http://ki-demang.com ....bgtu gan, thanks

      Hapus
  21. Semakin menarik. Bagaimana jika kondisinya dibalik? Apa gak mungkin pihak Sunda yang akan melakukan penyerangan ke Majapahit dengan alasan mau mengantarkan pengantin, tapi kok iring-iringannya banyak sekali sekitar 2000an kapal jung mongol. Jangan-jangan kidung bikinan bali ini cuma fiksi, secara mengadu domba antara Galuh dengan Majapahit yang masih satu turunan (Raden Wijaya) dengan harapan Majapahit tidak ekspan ke Bali? Atau mungkin disertasi penjajah Belanda itu sengaja untuk menggagalkan sumpah pemuda dengan tujuan memecah belah? Monggo para peneliti, silahkan luruskan carut-marut sejarah kita karena dikaburkan oleh para penjajah sialan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gan, silakan lanjut bacanya ke page selanjutnya, penjelasan ane senada dengan ide agan, thanks

      Hapus
  22. tidak semua kl no nikahan yang datang pihak laki laki di daerah utara di lamongan masih ada adat yang melamar pihak perempuan ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. dimana pun selalu ada pengecualian, tp tidak menjadi kebenaran umum gan....

      Hapus
  23. menurut sajarah kerajaan..sunda galuh pakuan pajajaran ,adalah kerajaan yang lemah di laut tida mngkn mempunyai kapal sebanyak itu..mhon dluruskan gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam artikel lain, ane lebih mengarah bahwa kitab2 yg memberikan informasi cerita tetang peristiwa bubat ini adalah kitab2 yg penuh rekayasa dilihat dari sisi logika dan kondisi realistis yg mungkin.

      Tentang jumlah armada sebanyak 2000 kapal, ya itu memang yg diangkat dalam isi kitab Kidung Sunda, bukan bikinan ane gan. Artikel ini hanya bersadarkan dari analisa isi kitab, sekiranya ada keraguan terhadap jumlah armada kapal laut tersebut artinya secara langsung meragukan juga tentang Kidung Sunda tersebut yg membawa informasi tentang itu, lebih jauh hrs diragukan juga tentang terjadinya peristiwa Bubat itu sendiri.

      Apalagi kalo kita bandingkan dengan Laksamana Cengho dalam ekspedisinya dengan total jumlah armada 216 kapal saja mereka sanggup membawa 27.000 personil, apalagi 2000 kapal? seberapa banyak jumlah yg dibawa? Apa ini mungkin? ya itulah memang letak pertanyaan tentang kebenaran dari kitab2 tersebut.

      Untuk sumber kidung Sunda silakan boleh cek di http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/3894368-terjemahan-kidung-sunda-tanggapan atau di http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda ato silakan cari sumberlainya.

      Banyaknya jumlah yang berperang senafas dgn yg digambarkan pararaton (yg gugur diibaratkan darah seperti lautan, tumpukan mayat yang menggunung silakan cek di http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/04/teks-naskah-pararaton.html ato di http://ki-demang.com ....artinya Kitab PararAton sendiri hrs diragukan keaslianya, bukan bgtu gan? thanks

      Hapus
  24. Bila ditarik benang merahnya atas komen-komen yang bertalian tentang BUBAT di atas, intinya adalah meragukan bahwa peristiwa Bubat tidak pernah terjadi alias kejadian tersebut merupakan suatu kebohongan belaka yang dilancarkan oleh Belanda dalam rangka memecah belah perjuangan rakyat Nusantara ( belum ada nama Indonesia). Barangkali terlalu dini, bila kita memvonis Peristiwa Bubat hanya sekedar fiksi belaka, rekayasa, dan merupakan kepentingan para penjajah. Seandainya kita bijak dalam mengkaji suatu penulisan terhadap suatu kejadian, bahwa diterangkan PENULISAN SUATU KEJADIAN tentunya yang paling mendasar yang melatarbelakangi penulisan kejadian adalah FAKTA dari peristiwa tersebut, hanya yang perlu digarisbawahi di sini adalah di manakah letak perekayasaannya ??? Secara umum unsure rekayasa masuk ke dalam peristiwa tersebut adalah dari kronologis pengkisahan dan penggambaran peristiwa tersebut, untuk menghilangkan atau mengaburkan bukti-bukti dari fakta tersebut, apalagi peristiwa tersebut menyangkut harga diri dan martabat masing-masing pihak. Dalam masalah ini tentu kejujuran dan kearifan menjadi tingkat toleransi tinggi, toh generasi pewaris dari kejadian tersebut, bila mana ingin menegakkan karakter bangsa yang sekarang dalam frame NKRI, bahwa peristiwa tersebut biarlah menjadi sebuah perjalanan sejarah anak bangsa , yaitu bangsa Indonesia. Mengingat karena peristiwa tersebut sudah terjadi, hal itu merupakan sebuah takdir Tuhan dan tersimpan skenarionya di LOH MAHPUDZ. Oleh karena itu kebenaran mutlak dari sejarah adalah si pemilik sejarah itu sendiri dengan Tuhan yang Maha Mengetahui.

    BalasHapus
  25. Masih merupakan misteri mengapa sampai terjadi perang Bubat. Kalau soal Hayam Wuruk tidak mau datang ke kerajaan Sunda itu wajar dalam konteks waktu itu. Perkawinan ini kan perkawinan politik, jadi yang kedudukannya lebih rendah yang harus datang, Majapahit menganggap perkawinan ini sebagai tanda pengakuan kerajaan Sunda terhadap kekuasaan Majapahit.

    BalasHapus
  26. lokasi perang bubat sampai saat ini memang kontrofersi, jangankan letaknya peristiwa perangnyapun masih simpang siur. ada yang mengatakan kerajaan Sunda hanya berkekuatan sedikit saat datang kemajapahit, tapi menurut tulisan anda berdasarkan kidung sunda mereka datang dengan 2.000 kapal. sekarang mari kita cermati lagi dimanakah sesungguhnya lokasi perang bubat ini. kontroversi lokasi ini sangat bervariatif, tetapi saya cenderung memilih kota Babat (kab. Lamongan ujung barat) yang berbatasan dengan Tuban-Bojonegoro-Gresik dan Jombang serta Mojokerto. Sekilas nama kota ini (Babat) hampir sama dengan perang Bubat, dan inilah yang menarik. Jika kita mengacu pada asal-usul gajah mada ada sebagian sejarahwan yang mengatakan bahwa dia berasal dari kota babat dengan berbagai versi.

    yang pertama adalah: Gajah Mada merupakan anak desa Modo, Lamongan dengan ibu asal desa Modo. Gajah Mada ditemukan oleh Ronggo Lawe, adipati Tuban, era Majapahit Raja R.Wijaya. Dalam perjalanan dari Tuban ke desa Matokan, dekat Kabuh. Sewaktu itu R.wijaya mendirikan kerajaan Majapahit I di daerah ini, yaitu dataran tinggi dengan nama dusun Njeladri, desa Karangpakis, Kabuh, Jombang. Di desa Modo, perbatasan Jombang Lamongan ini, Ronggo Lawe melihat seorang anak usia belasan tahun yang berperawakan tegap gagah sedang berkelahi, kemudian Ronggo Lawe mengasuh anak ini, namanya Trimo-nama kecil Gajah Mada - di Tuban. Setelah usia yang cukup Trimo dimasukkan ke dalam prajurit kerajaan Majapahit oleh Ronggo Lawe dengan pangkat tamtama/ bekel.

    Sewaktu pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca di era Raja Jayanegara, Bekel GajahMada dan lima belas orang bhayangkara yang menyelamatkan raja Jayanagara ke Bedander. Dari kejaran telik sandi Ra Kuti yang disebar di seluruh prajurit Majapahit dan meminta nasehat ke kakeknya yaitu Mbah Wonokerto. Kakek atau Buyut Gajah Mada di desa Bedander ini yaitu mbah Wonokerto pernah meramalkan bahwa kejadian ini akan membawa Trimo/ Gajah Mada akan menjadi orang besar di Majapahit, waktu itu Gajah Mada menjadi ketua pasukan Bhayangkara (lebih tinggi daripada tamtama)

    yang kedua: gajah mada adalah anak dari mbok modo, keseharian dia hanyalah penggembala kerbau. tetapi dia bukanlah sembarang pemuda, ia sangat cerdas dalam berfikir. suatu saat ia mengikuti sayembara adu kerbau yang diadakan oleh kerajaan majapahit, anehnya dia membawa anak kerbau (gudel) untuk diadu dengan kerbau kerajaan yang tak pernah kalah. dan inilah yang menjadi tanda kecerdasan gajah mada, karena ia mengetahui bahwa juara adu kerbau kerajaan adalah kerbau betina maka ia membawa anak kerbau untuk jagoannya. akhirnya kerbau juara tersebut lari tunggang langgang karena tidak mau disusui oleh kerbau gajah mada, akhirnya kerbau gajahmadalah yang dinyatakan menang. melihat kecerdasan pemuda ini maka gajah mada diangkat sebagai prajurit majapahit.

    BalasHapus
  27. lepas dari kedua sejarah gajah mada diatas, ada kesimpulan sama yang bisa diambil bahwa ia adalah pemuda dari Kota Babat, yakni desa Modo.

    sekarang mari kita berlari sedikit pada perang bubat.
    jika kita mengacu pada kidung sunda yang menulis bahwa kerajaan Sunda membawa 2.000 kapal saya juga setuju, karena ini adalah perkawinan 2 kerajaan dan ada asumsi lagi untuk berjaga2 jika diperdaya oleh Majapahit maka dengan jumlah tentara yang lumayan besar maka Sunda bisa memberi perlawanan. dan bila dengan jumlah sebesar itu bertujuan untuk mutlak berperang saya kurang setuju karena pada waktu itu sangat mustahil ada kerajaan yang berani menyerang majapahit, apa lagi membawa raja dan putri kerajaan dalam anggota serdadu perang mereka. menurut saya ini memang kejeniusan gajah mada yang menyuruh kerajaan kecil untuk datang kepada kerajaan besar sebagai tanda status sosial. (jika ini benar maka hukum perkawinan ini berlaku bagi warga lamongan, yaitu jika orang lamongan menikah sesama orang lamongan maka pihak perempuanlah yang melamar terlebih dahulu kepada pihak perempuan).

    waktu itu rombongan dari Sunda berlabuh dipelabuhan Tuban (utara kota babat), setelah dijemput dipelabuhan maka rombongan diajak keKeraton Majapahit. Rombongan bergerak kearah selatan dari Tuban, dan ditengah2 perjalanan (kota babat yang terletak antara Tuban dan Jombang/Mojokerto) maka terjadilah perang Bubat tersebut. Gajah mada yang membawa tentara penjemput lebih sedikit dari tentara Sunda harus memutar otak untuk mengalahkan tentara pajajaran, karena dia dibesarkan dikota Babat maka ia sangat tahu seluk beluk geografis wilayah itu (rawa2 dan pegunungan kecil) sehingga dengan mudah ia bisa mengalahkan tentara sunda. walaupun sampai saat ini tidak ada situs resmi/peninggalan sejarah lain yang menegaskan bahwa perang bubat benar adanya berlokasi dikota babat maka ini tidak dapat dijadikan acuan, tetapi setidaknya desa Gajah dan desa Modo yang lokasinya berdekatan dan berada disebelah selatan desa Babat sampai saat ini masih ada diwilayah kecamatan Babat saya kira juga bukanlah suatu kebetulan nama belaka bila mengacu pada orang2 terdahulu yang menamai sebuah tempat pastilah ada asal-usulnya atau berdasarkan sesuatu.


    "Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda"

    saya kira petikan diatas tidak mutlak mengartikan bahwa yang membunuh raja Sunda adalah raja kahuripan dan daha, mungkin penulis hanya menegaskan sebagai bahasa kiasan saja bahwa pada Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah, sesuai dengan Pupuh I, sehingga yang dipersalahkan oleh penulis adalah raja Kahuripan dan Raja Daha yang kala itu memberi pengaruh besar atas diterimanya lamaran dari Hayam wuruk. sekian terimakasih.

    BalasHapus
  28. Mas eJang saya mau nanya ada bukti tulisan atw bukti jelas tidak soal keberadaan makam atw prasasti yg menunjukkan bhwa raja dan putri dr sunda itu mati di daerah bubat tersebut, kalo memang ada faktanya berarti memang terjadi sesuatu, apakah krn perang atw ada pembunuhan cara apapun, yg kmd terjadi Perang bubat itu,

    BalasHapus
  29. ANJING PANTEK KAU SMUA!!!!!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sia nu goblog Anjing, Tai Siah Kehed Lain di dukungmah iyeu jalma teh dek ngabenerkeun sajarah Sunda jeung Jawa, naha ari sia Anjing ngadon kitu, orang mana ari sia koplok, lain dukung mah da masih keneh orang indonesia, boa siamah lain orang indonesia Tai, siamah Sampah Tai di Walungan Indonesia GOOOOBBBBLLLOOOOGGG

      Hapus
    2. MOHON MAAF PEMBACA BUDIMAN, KITA SUDAH ADA ATURAN MAIN DALAM MEMBERI KOMENTAR ATAU DISKUSI, MOHON DENGAN HORMAT KEDEPAN KITA SALING MENJAGA ETIKA BERKORESPONDEN YA,THANKS

      Hapus
    3. Ente orang jawa ya... ?

      Hapus
    4. berani ngomong pantek,berani ngomong kasar baik dari jawa maupun sunda,,,,jangan pake anonim donk......tunjukan aja id kalian,,,,,,gak baguslah

      Hapus
  30. ada tidaknya perang bubat tak akan membuat saya mengakui majapahit sebagai kerajaan,, Majapahit adalah kerajaan laknat.. hanya ada satu kata.. INDONESIA ,, not For MAJAPAHIT, MAAF GAK NYAMBUNG

    SALAM FASISME SUNDANESSE

    BalasHapus
  31. MAKSUDNYA TIDAK MENGAKUI MAJAPAHIT SEBAGAI KERaJAAAN BERMARTABAT

    BalasHapus
    Balasan
    1. YAHWEH ELOHIM ... anda orang yahudi jangan komentar disini, ... gua bom LU !!

      Hapus
    2. mau dong martabat,,,yang keju ya, ngga usah pake kacang mang

      Hapus
    3. omong opo su?

      Hapus
    4. kalo gue yang spesial yach....telor bebek kalo ada

      Hapus
  32. nimbrung Gan...
    minta referensi ekspansi2 yang dilakukan kerajaan Sunda ? ada g ?

    BalasHapus
  33. Numpang berpendapat yo mas..
    Sebelumnya saya mnt maaf, krn semua yg saya tulis hanya berdasar pd kemungkinan-kemungkinan yg mungkin sj trjadi ataupun tdk. Yahhh, namanya jg mungkin menurut dhewek tok.
    Mengenai perang Bubat sendiri, menurut saya memang benar terjadi, karena sampai sekarang blm ditemukan bukti/catatan sejarah yg menerangkan bahwa raja Sunda pd saat itu meninggal dgn cara yg wajar dan bukan di lapangan Bubat.
    Jumlah armada kapal yang mencapai 2.000-an dan dgn perkiraan jmlah orang yg mencapai puluhan ribu, menurut saya itu hal yang wajar dan masuk logika. Saya yakin rombongan tersebut bukan hanya pasukan/prajurit kerajaan sj melainkan warga sipil/rakyat yang diajak oleh pihak kerajaan Sunda, utk menyaksikan acara pernikahan sekaligus memberi penghormatan kpd putri raja yg akan menjadi istri dr raja Majapahit. (Warga/rakyat sipil tersebut,mungkin kalau jaman sekarang, terdiri dari keluarga RT, RW, Lurah , Camat, Bupati, Gubernur, tokoh2 agama, tokoh2 masyarakat, staf, menteri, pejabat-pejabat pemerintah dll – yg ada dikerajaan Sunda-). Kalaupun misalnya, ternyata rombongan tersebut hampir seluruhnya adlh pasukan/prajurit, itu jg sesuatu yg wajar. Karena ‘ mungkin’ itu adlh prosedur pengamanan yang diterapkan oleh kerajaan Sunda atau ‘mungkin’ jg oleh kerajaan2 lainnya pada jaman itu. Karena (mungkin jg) ini adlh hal yg jarang terjadi di kerajaan Sunda atau jg kerajaan lain, dimana raja dan keluarganya meninggalkan istananya menuju wilayah kerajaan lain. Sangat berbahaya apabila raja dan keluarganya yg berpergian jauh keluar wilayah kerajaannya hanya dikawal oleh sedikit pasukan, bisa membahayakan keselamatan raja dan keluarganya. Bisa saja mereka bertemu gerombolan perompak/bajak laut yg jumlahnya bs lbh byk atau berpapasan dgn iring-iringan pasukan dr kerajaan lain yg jg sedang mengadakan perjalanan, bukan tdk mungkin akan trjadi insiden di laut yg bs mengancam keselamatan raja. Dgn kata lain, banyaknya jmlh pasukan dr kerajaan Sunda brtujuan utk memberi/menjamin keselamatan raja dan klrgnya selama melakukan perjalann.
    Dgn jmlh kapal yg begitu banyak, dipastikan tidak semua kapal bs bersandar di dermaga/mendekat ke daratan, maka kapal2 kecil difungsikan utk mengangkut orang menuju dermaga/tepian. Karena tdk mungkn rombongan tersebut suruh berenang menuju darat, hehehe,,. Tp bisa sj rombongan kerajaan Sunda tdk berlabuh di dermaga pesisir pantai utara Jawa, tp mendekat ke istana Majapahit melalui sungai Brantas. Yg pasti, fungsi kapal kecil sama seperti yg dijelaskn di atas.
    pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki, ‘mungkin’ bisa diterima dan bisa dikatakan sebagai kebenaran umum utk kalangan raja, pada waktu itu. Sangat wajar jika acara pernikahan diselenggarakan di pihak laki-laki, karena laki-laki tersebut adlh seorang raja (walaupun pihak perempuan jg dari kalangan keluarga raja). Dan itu bukanlah sesuatu yg hina bagi keluarga mempelai perempuan (kerajaan Sunda) utk datang ke istana calon suami (Majapahit), justru itu adlh suatu kehormatan karena akan menjadi istri dari seorang raja besar. Dan kelak keturunannya akan menjadi penerus di kerajaan Majapahit. Jadi, sangat wajar acara diselenggarakan di Majapahit.
    Maaf,, kalau boleh saya buat perumpamaan, coba kita balik, Hayam Wuruk adlh raja Sunda dan Dyah Pitaloka adlh anak raja Majapahit, mereka (Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka) akan melangsungkan pernikahan, menurut perkiraan saya , acara pernikahan pasti akan diselenggarakan di kerajaan Sunda, dan raja Majapahit akan mengantarkn putrinya utk dinikahkan dengan raja Sunda. Kalau perumpamaan yg saya buat ini tdk bisa diterima, kita coba buat perkiraan bersama2, “ kira2 raja-raja Sunda, ataupun raja dari kerajaan lain, sewaktu melangsungkan pernikahan diselenggarakan di istana kerajaan atau di tempat mempelai perempuan?” silahkan mengkira-kira sendiri.

    ..Gondhes..

    BalasHapus
  34. ..Gondhes..

    Peristiwa Bubat, menurut saya, dikarenakan adanya kesalahpahaman. Kekalahan rombongan kerajaan Sunda pada perang/insiden/bentrokan di Bubat (menurut saya) diantaranya dikarenakan yg terlibat perang Bubat, dr pihak kerajaan Sunda, adlh sebagian besar dr warga sipil/rakyat sipil yg ikut mengiringi keluarga raja menuju istana Majapahit. Prajurit/pasukan yg ikut menuju istana adlh prajurit pengamanan raja sj (sejenis paspampres), yg mungkin jmlhnya tdk byk. Sedangkan di pihak Majapahit seluruhnya dr para prajurit aktif.
    Dimana prajurit2 Sunda yg lainnya?? Kalau menurut saya, mereka ditinggal di dermaga atau msh tetap berada di atas kapal untuk menjaga kapal2 mereka yg jumlahnya sangat banyak, atau jg sengaja tidak diikut sertakan menuju istana karena dilarang oleh pihak Majapahit. ‘Mungkin’ memang aturannya seperti itu, dimana pasukan dr kerajaan lain dilarang mendekat ke istana kecuali prajurit pengamanan raja, karena hal ini tidak lazim atau dianggap dpt membahayakan kerajaan Majapahit jika ada banyak pasukan dr kerajaan lain masuk/mendekat ke istana, walaupun tujuan mereka waktu itu tdk utk berperang. Ketika peristiwa Bubat terjadi, prajurit2 yg ditinggal di kapal tdk mengetahui akan hal itu. Mereka baru mengetahui stlh diberi tahu olh pihak Majapahit dgn memperlihatkan bukti2 fisik yg menunjukan bahwa raja beserta rombongan telah tewas ditangan prajurit Majapahit. Dan pihak Majapahitpun tdk berusaha utk menyerang pasukan atau merampas atau menghancurkan kapal2 dr pihak Sunda, karena pihak Majapahit sadar bahwa apa yg terjadi di Bubat bukanlah sesuatu yg diinginkan oleh kedua belah pihak, melainkan adanya kesalahpahaman. Pihak Majapahit meminta seluruh pasukan Sunda yg berada di kapal untuk tdk melakukan perlawanan dan segera kembali ke kerajaan Sunda, dan memberi kabar tsb kpd pihak/rakyat kerajaan Sunda.
    ‘Mungkin’ jg ini adlh cara mereka dlm berperang pd jaman itu, yaitu ketika pimpinan mereka tewas/menyerah otomatis seluruh pasukannya pun akan melakukan hal yg sama, yaitu berhenti utk melakukan perlawanan
    Seandainya peristiwa Bubat sengaja dibuat oleh pihak Majapahit yang bertujuan utk melemahkan/menguasai kerajaan Sunda, otomatis Majapahit akan mengirimkan utusan/pengumuman kpd rakyat Sunda bahwa kerajaan Sunda sdh berada dibawah kekuasaan Majapahit. Atau menempatkan pejabat perwakilan dr Majapahit di pusat wilayah kerajaan Sunda beserta pasukan/prajurit dr Majapahit.
    Sekali lg maaf, karena semuanya adalah mungkin.

    Matur suwun
    Gondhes

    BalasHapus
  35. Ikut nimbrung agan-agan yang padha ahli sejarah. Menurut saya, Perang Bubat itu cuma simbolisme saja, yaitu restu dari Pajajarn terhadap generasinya (raden Wijaya/Jaka Sesuruh) untuk menjadi raja besar Majapahit dibawah bimbingan Patih Gajah Mada walaupun Pajajaran merasa sedih karena kehilangan generasi terbaiknya. Memahami serat, kidung, atau babad jangan hanya apa adanya atau tekstual, tetapi harus juga mencari tahu apa yang tersirat. Contoh lainnya: Ken Arok itu anak dari Dewa, padahal maksud sebenarnya adalah Ken Arok itu sebenarnya anak raja. Dalam Babad Tanah Jawi juga banyak simbol-simbol yang diceritakan untuk menutupi maksud sebenarnya: Ki Ageng Selo menangkap petir, Jaka Trub menikah dengan Bidadari Nawangwulan, Jaka Tingkir membunuh Kebo Kenanga dengan sadak, dsb. Jadi alangkah baiknya jika apa yang ada dalam cerita tidak sampai membuat dendam diantara warga Indonesia sendiri.

    BalasHapus
  36. perang itu sampai sekarang masih terjadi... kini jawa timur terbagi 2(Arema dan Bonek)... jawa tengah terbagi 3(Pasoepati Brajamusti dan Snex)... dan jawa barat terbagi 2(The Jak dan Bobotoh)... intrik licik pun juga terjadi... Bonek perang dengan Pasoepati... dlm bbrp bulan meminta damai karena Solo mrupakan jalan utama mnuju sekutunya di sunda... perang bonek vs blitar.. bonek vs LA.. bonek vs delta... bonek menuduh musuh bebuyutanya sebagai provokator dlm pperangan trsebut... pdhl bonek mngaku sbg hooligan Indonesia... (hooligan harusnya mengahancurkan apa saja di depan mata) bukan merengek2 menuduh ada yg mengadu domba... Arema vs kediri... Arema vs delta... Arema vs sakera... Arema vs bobotoh... tp gak ada rengek'an menuduh ada yg mngadu domba pd kerajaan tetangga...

    BalasHapus
  37. waduh mas bro jgn dicampur aduk... perang Bubat sich bagian sejarah bangsa...wajar diulas, dikupas dan dipelajari...
    tapi ada satu hal yang sedikit berkaitan, setidaknya jgn sampai permusuhan yang ada terus berlanjut... pisss

    BalasHapus
  38. kalau ada mesin waktu yang dapat mengantar aku ke masa lampau mungkin ga akan serunyam ini permasalahannya, ternyata mesin waktu itu ada dalam kitab-kitab, dan prasasti yang dibuat oleh leluhur kita. mari kita terjemahkan

    BalasHapus
  39. udahlah, perbaiki diri masing masing, yang dihisab diakhirat bukan debat kusir perang bubat

    BalasHapus
  40. perang bubat itu begini: kita tengok ke belakang, 1.ketika ken arok(Singasari)meng invasi panjalu,sisa2 dari panjalu melarikan diri ke ciamis sunda( jadi kerajaan kerdil bahkan namanya bukan kerajaan pada waktu itu cuma kabuyutan-panjalu ciamis. 2.Secara otomatis kerajaan di timur panjalu pun takluk dengan singasari ken arok yaitu kerajaan jenggala,nah, sisa2 orang jenggala lari ke sunda juga mendirikan kabuyutan pajajaran (belum negara-sangking kerdilnya).3. betapapun begitu ken arok dan keturunanannya tetap mengakui sadulur.4. Ketika hayam wuruk melamar diah pitaloka, pajajaran langsung setuju, seharusnya ngomong setujunya itu pakai utusan saja, bukan rombongan kapal berduyun-duyun pakai jung kapal mongol pula, nafsu bener dipinang raja besar.5. inilah lalu menjadi tandatanya gajah mada, sebab gajah mada adalah jenderal perang pelindung kerajaan majapahit, ahli olah perang hebat hampir seluruh nusantara takluk, bahkan sampai singapura,campa, kalau pajajaran sunda mah kecil banget, nggak diserang karena tadi uraian diatas.6.Melihat rombongan berduyun2 begitu gajahmada memerintahkan mereka, menggirin ke arah bubat (dilokalisir,ahli perang itu menilai bahwa pajajaran licik hendak menyerang majapahit dengan pura2 'srahsahan lamaran balik') sebab saat itu majapahit sedang kosong prajurit, majapahit sedang invasi ke kerajaan dompo.7.Menurut petugas teliksandi/intelijen gajahmada, memang banyak wanita dirombongan pajajaran itu tetapi semua wanita itu bertubuh prajuritwanita dengan selempang busur panah yang terlihat siap.8.Apalagi pada waktu itu hayamwuruk juga sedang berburu dengan pengawalan prajurit pilihan, otomatis kerajaan dalam keadaan yang rawan (padahal kalau hayamwuruk diberitahu akan ada tamu pasti tidak berburu, apalagi diah pitaloka sendiri katanya ikut, banyak yang menyangsikan kalau diah pitaloka itu ikut rombongan itu, seolah2 itu diah pitaloka. 9.oleh karena itu gajahmada mengambil keputusan spekulasi 'serang dengan mendadak',bahkan sangkin tidak adanya prajurit, tamu majapahit yang sedang bertamu diajak ikut perang (pakde2nya hayam wuruk dari timur), akhirnya orang2 pajajaran sunda itu ludes,tak tersisa,jadi kalau diserang gajahmada dengan prajurit banyak itu keliru, itu versi orang sunda tak ngerti teliti sejarah.10.Begitu cerita 'perang bubat'.kalau bung endjang,mengolok2 pararato, negara kertagama, ken arok, majapahit itu karena iri saja, iri tanda tak mampu, tanda tak cerdas, mana ada presiden orang sunda,mana ada orang sunda yang ada mah 'mang ujo' saja.11. kalau endjang tahu ya, itu 'senjata kujang' dulunya mah ujung tombak prajurit kopral kerajaan panjalu yang ikut ke ciamis.gitu aja kok repot

    BalasHapus
    Balasan
    1. tai loe ngaku2 warga bandung!!!

      Hapus
    2. Maung Siliwangi7 Juli 2013 04.20

      bener ieu jelema, ngaku urng bandung siah goblog... cadu turunan siliwangi eleh ku batur

      Hapus
  41. halo-halo bapak, saya kurang ngarti memangnya ada kerajaan panjalu dobel?

    BalasHapus
  42. Untuk kalian para ahli sejarah, belejr dulu yang rajin sebelum nulis buku. Jangan hanya jiplak atau terjemahan dari kitab2x sejarah kuno yang gak jelas pengarangnya. karena kitab sejarahnkuno itu dibuat juga ada intrik tertentu untuk memecah belah persatuan. itu semua hanya cerita Piktip belaka yang tak berguna. ane mau tanya apakah kalian ahli sejarah ada yang benar2x jago bahasa sunda kuno atau jawa kuno..? karena untuk menterjemahkan kitab sejarah kuno perlu ketrampilan bahasa pada tingkatan sangat mumpuni. lhawong bahasa indonesia aja belum pasih...sudah berani nulis buku...dasar Wong Edan...
    Sadarlah wahai kalian yang orang-orang ahli sejarah...kalian ini seperti orang yang tertidur dalam keadaan terjaga...alias orang mendem gak jelas, gak punya tujuan hidup,katak dalam tempurung, suka mengada ada gak karuan.
    Mari kita buka mata,hati dan pikiran untuk menyongsong indonesai baru, bangsa baru bangsa besar,bermartabat. Negara lain sudah bikin Nuklir kita baru bikin petasan heheh...payah....Yang lebih parah lagi seperti kalian semua, hari dah mau kiamat masih aja bahas PERANG BUBAT yang gak jelas....sungguh memprihatinkan...gak ada kerjaan memangnya...PAYAH...

    Bukan saatnya kita menulis sejarah masa lampu. Tapi sekarang saatnya KITA MEMBUAT SEJARAH BARU UNTUK KESEJAHTERAAN SELURUH BANGSA INDONESIA...........MERDEKA...
    ..SALAM PISSS....

    BalasHapus
  43. Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

    BalasHapus
  44. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  45. Yang saya heran kenapa kitab sundayana kok redaksinya ada di bali yang dikenal dengan Geguritan Sunda.

    1. Apakah mungkin orang sunda tinggal di Bali terus mengarang cerita ini (geguritan sunda) ?

    2. Kemungkinan lainnya yaitu Pengarang cerita ini adalah orang jawa dengan maksud untuk meredam amarah/kebencian orang sunda terhadap orang jawa.

    3. Kalau geguritan sunda ini dibuat seratus tahun lebih setelah hayam wuruk meninggal, dan kerajaan majapahit mengalami penurunan/perpecahan/ kebangkrutan bahkan diambang kehancuran setelah beliau wafat, cerita ini dibuat untuk meredam amarah/dendam keturunan2 kerajaan sunda supaya tidak terjadi serangan balam dendam, terutama dari anaknya raja sunda itu yg masih hidup. (Lebih ke unsur politik).

    BalasHapus
  46. GAJAH MODOL ATAU GAJAH BAREUH

    BalasHapus
  47. haha dasar gak mau kalah,... ilustrasinya aja 3 kingdom,.. sok ahli sejarah.. atau tukang kopi pes penipu? worst!

    BalasHapus
  48. Sebagai orang sunda sy cuma berharap generasi SUNDA BANGKIT jadi apapun termasuk jd ahli sejarah...kita harus bangga dengan kebudayaan kita dan kita turunkan ke anak cucu kita...suatu saat urang sunda memimpin negeri ini...BERSATULAH

    BalasHapus
  49. untuk@warga Bandung,ketidak adaan orang sunda yang menjadi presiden dan lebih banyak orang jawa(point 11) justru itu membuktikan bahwa orang sunda cenderung menghindari masalah dan tidak haus kekuasaan seperti orang jawa...maka apakah mungkin dengan filosofi dan karakter seperti itu orang sunda yang lebih dahulu menyerang?..pikir baik2 jangan cuma nyerocos aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. > @rift mapach: bolehlah kamu ngomong gitu kalo memang bisa menghibur dirimu, tp...
      -ketidak adaan orang sunda yang menjadi presiden dan lebih banyak orang jawa(point 11) justru itu membuktikan bahwa orang sunda "belum ada yang mampu memimpin"-
      -..pikir baik2 jangan cuma nyerocos aja..-

      Hapus
  50. kade ka orang jawa tong ngahina urang sunda.. orang2 yang berpikiran sentimen dengan ras gara2 perang bubat senditen dengan sunda itu orang yang tidak ber pendidikan. apalagi dengan gaya bahasa dan penilaian yang buruk merendahkan orang sunda. bagaimanapun itu hanya cerita sejarah. jika di jadikan acuan dalam dendam itu hal yang konyol

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang jawa mana ya???
      bukannya orang2 sunda tuh yg berpikir sentimen thdp jawa, coz orang2 sunda msh byk yg menjadi pewaris "sakit hati" thdp orang jawa akibat perang bubat.

      Hapus
  51. yg jelas klo gk ada gajah mada indonesia gk mungkin bisa bersatu seperti skrg ini,,hargailah patih gajah mada dan raja hayam wuruk yg sudah memper satukan seluruh nusantara ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kasihan gajah mada kang g nikmatimati selangkangan karna g berhasil mempersatukan nusantara tapi kalo di kertagama berhasil karna cerita konyolnya bikinanan orang asing,

      Hapus
  52. ma'af saya org sumatra,,tapi nama majapahit terkenal diseluruh dunia saya juga heran waktu nanya keraja'an pajajaran,,jngnkan dinegara luar di indonesia saja orang2 banyak yg gak tau apa itu kerajaan pajajaran:,,,ma'af bukan melecehkan orang sunda. maaf bukan sombong saya sudah kemalaysia,singapore,thailand,alabama(a.s),chad afrika,dan mesir,,walau hanya tugas beberapa bulan diluar saya memperhatikan postingan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahmad Fathonah10 Mei 2013 03.39

      Dimaafkan..., mungkin yang anda tanya memang tidak pernah membaca... Jadi ya... begitulah... :D

      Hapus
    2. saya maafkan jg walaupun anda pd dasarnya tdk salah,.. ya emang kenyataanya seperti itu bahwa "majapahit terkenal diseluruh dunia"

      Hapus
  53. Tidak ada bukti yg jelas yang bisa menerangkan bahwa kerajaan majapahit bisa menguasai , singapura, kamboja, kalimantan, sumatera dll... cuma masalah perkawinan dan perdagangan saja, buktinya dimana majapahit letaknya sekarang? kalau kerajaan besar pasti ada peninggalannya, seperti kerajaan2 lainnya, kerajaan kecil2 juga di nusantara ini pasti ada peninggalannya...

    BalasHapus
  54. Kalau masyarakat yg plural ini terus menerus dibawah bayang2 stigma kesukuan, Indonesia nggak akan maju dan nggak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kekinian.

    Pada saat dimana batas antar wilayah bukan suatu halangan karena dapat ditempuh dengan kemajuan teknologi, komunikasi, dan informasi. Pada saat dimana para pemuda mengikrarkan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa dalam Sumpah Pemuda 1928.

    Pada saat dimana Indonesia, sebagai sebuah negara, yang terdiri dari berbagai macam ras, suku dan budaya telah lahir pada 17 Agustus 1945. Pada saat dimana Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia selalu berada dalam cengkeraman kuat sang burung garuda. Semua itu menunjukan apalah gunanya berbagai macam peristiwa tersebut, jika prasangka antar suku masih hidup dalam alam kemerdekaan ini, di suatu masa dimana persatuan dan kesatuan antar suku telah terbukti ampuh dalam menghadapi kolonialisme bangsa asing. Janganlah membuat menjadi tidak berarti semangat persatuan tersebut, karena perjuangan, air mata dan doa yang yang dipanjatkan untuk meraih kemerdekaan, bukan hanya berasal dari suku tertentu, tetapi dari seluruh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah yang ini saya paling setuju,sip mas,,,btw sambil bagi bagi templatenya mas wkwkwkwk

      Hapus
    2. setuju banget..
      denger tuh mas ejang..
      apapun alasanya kami tau maksud tulisan dr mas ejang.

      Hapus
  55. Peristiwa bubat itu benar ada kang enjang, cuman alur ceritanya sj yg d rekayasa klw yg jd rujukan akang adalah kitab pararton dan kidung sundayana*red..Rombongan sunda datang k majapahit bertujuan utk mempertemukan Dyah pitaloka dg Hayam wuruk (perjodohan dua kerajaan yg d dasari msh keluarga skaligus menjawab lamaran Raja Hayam Wuruk) blm k acara pernikahan atau seserahan, banyak yg turut serta dalam rombongan sunda d antara yg turut dlm rombongan sunda adalah Raja Sri Maharaja Linggabuana dn Dyah Pitaloka Citraresmi bbrpa keluarga kerajaan, patih dn prajurit pengamanan keluarga kerajaan dn prajurit pengiring, dayang dayang dn para penari dn dalang serta jg para saudagar saudagar dn seniman rombongan sunda datang dg banyak membawa cindra mata dn oleh oleh has sunda turut pula d baa binatang piaraan ini d lakukan org sunda sebagai balasan atas lamaran hayam wuruk, kedatangan iring iringan sunda lebih cepat dr perkiraan gajah mada dn hayam wuruk, bgtu mendengar dr telik sandi ada iring iringan sunda mendarat gajah mada panik krn gajah mada adalah penanggung jwb acara tsb dn pda saat itu hayam wuruk msh blm pulang dr perburuannya,utk itu gajah mada memilih mempersiapkan acara penyambutan d dlm kerajaan krn rombomgan sunda datang lebih awal dr perkiraan, gajah mada memerintahkan bbrpa mentri dn senopati pilihanya dlm acara penyambutan itu turut pula keluarga raja yg dr daha dn kahuripan sbgai perwakilan raja hayam wuruk utk mencegat dn menahan iring iringan sunda d bubat, dn d persitiratkan terlebih dahulu d bubat, dr sinilah peristiwa bubat terjadi ktka itu mentri dn senopati meminta seluruh bawaan d serahkan sj dlu k prajurit majapahit rombongan sunda menolak krn itu adalah cindera mata untuk raja hayam wuruk bukan upeti org sunda utk majapahit dn akan d serahkan lgsg kpd raja bukan kpd prajurit, silang pendapat ini trus memanas sampe akhirnya terjadi bentrokan antara kedua belah pihak prajurit sunda mempertahankan harga diri dn prajurit majapahit mempertahankan aturan yg berlaku d majapahit, dn karena rombongan sunda kebanyakan adalah rakyat biasa pertempuran pun tdk seimbang krn sebagian rombongan sunda msh d pelabuhan utk menjaga kapal kapal yg berisi barang barang perniagaan, ktka gajah mada dpt laporan adanya keributan yg terjadi antara rombongan sunda dn prajuritnya gajah mada lgsg k bubat namun terlambat semua sdh berakhir org org sunda sdh luluh lantak tinggal satu senopati yg msh hidup dn terluka d arena peristiwa itu, menyesalah gajah mada krn peristiwa itu dy tlah mnyakiti perasaan org sunda, hayam wuruk menyalahkan gajah mada tas peristiwa itu krn gajah madalh penngung jwb acara tsb, betul tujuan penyatuan dua kerajaan sunda dn majapahit sbagai bentuk wujud sumpah amukti palapa gajah mada krn pda saat otu sunda bkn kerajaan d bawah majapahit dn tdk mungkin melakukan agresi militer k sunda krn hayam wuruk tdk setuju krn hayam wuruk jg gk mau memerangi kakek buyutnya sendir, maka dg cara mengadakan perkawinanlah kedua kerajan itu bs berstu dlm panji merah putih, atas kejadian itu gajah mada d cap sbgai org yg haus darah dn licik krn demi ambisi menyatukan nusantara tega membohongi org sunda, gajah mada sendiri sangat malu dn menyesali peristiwa itu dy memilih mundur krna sumpah palapanya tdk bs terwujud krn sunda msh blm bersatu dg majapahit dn tdk akan mungkin sumpah itu terwujud krn org sunda sdh terlanjur membenci majapahit sementara dg agresipun tdk mungkin krn hayam wuruk sangat menghormati org sunda dn gajh mada sangat patuh taat dn hormat terhadap hayam wuruk maka dy memilih mundur dn bertapa menjadi resi utk meminta tobat ampunan trhdp syang hyang widi krna kesalahan anak buahnya sampe membunuh org org sunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah untuk mempersatukan merah putih... salah kali gan....

      Hapus
  56. “Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta. Kemudian akan diperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya.Pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, CELEBES G ADA GAN

    BalasHapus
  57. saya baca sure" ilagaligo versi belanda..dan ternyata disitu macapai"(majapahit) membayar upeti ke luwuk...

    BalasHapus
  58. Setidaknya, semenjak Kitab Negarakertagama di kembalikan oleh Ratu Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia pada 2009 lalu (kalau tiak salah), bangsa Indonesia mulai bergeliat untuk menganalisa kembali akar sejarahnya.
    Pendekatan yang saya gunakan dalam mengadili dua kubu sistem pengetahuan yang berbeda ini, yaitu Oksidental dan Oriental, adalah pendekatan Subalternatif atau non imperialistik yang sedang mulai giat di dalam kajian Hubungan Internasional.

    Artinya, sejak kebangkitan kultur barat dengan penyebaran agama katolik abad 8, masa penjelajahan dan penemuan benua baru, hingga kolonisasi, dunia barat melakukan imerialisasi global. Salah satunya yang justru terkuat dan masih membuat kultur lain berada pada keadaan terjajah, adalah imperialisme kultural. termasuk cara berpikir, sistem pendidikan dan sistem pengetahuan. Di situ, kita di kondisikan dengan cara berpikir ilmiah (ala oksidental) dan kita menolak cara berpikir kultur lain, misal oriental yang mau tidak mau penuh melibatkan elemen metafisik (mistik).
    Salah satu dari akibat penjajahan ini adalah, kita mengalami kesulitan untuk menempatkan elemen mistik dalam kerangka pengetahuan yang kita operasikan saat ini. Dan kita mencukupkan diri dengan kesimpulan tidak masuk akal, tidak bisa di terima secara ilmiah, atau hanya sebatas mitos.

    Padahal, bila kita menelusuri sistem pengetahuan oriental yang menurut pendapat saya ( belajar dari sistem Yogi yang di kembangkan dari peradaban Vedik) sistem keilmuan oriental jelas lebih 'maju'. karena ilmu tersebut bisa menerangkan banyak konsep yang kita anggap mistik dan tidak ilmiah, secara detil. Untuk bisa memahaminya dengan logika telanjang, kita harus menjelaskannya dari fenomena fisika, matematika dan kimia, untuk bisa mencari benang merah. Sejauh ini, ada beberapa usaha penelitian yang menuju ke arah itu ( tanpa berniat untuk menerangkan konsep mistik) selalu di mentahkan oleh rezim imperial ( sistem pengetahuan ilmiah).
    Secara menyeluruh, sistem oriental bisa memahami sistem oksidental, karena sifatnya yang luas dan integratif, namun tidak sebaliknya, oksidentalism tidak bisa memahami orientalism.

    Dari upaya saya memahami agama Siwa melalui praktek beryoga, saya bisa memahami sejarah masyarakat kuno, bahkan pola pikir masyrakatnya, jalan hidupnya pada masa itu.
    Rezim oksidental menawarkan satu pendekatan yang sebenarnya konsepnya di ajukan oleh Aristoteles juga, yaitu pendekatan Jiwa, ruh atau spirit kedalam suatu pembahasan ilmiah, untuk aspek apapun ( ekonomi, sosial, kultural).

    Artinya, tidak ada yang salah dengan Gajah Mada mengalami Moksa. Karena bagi setiap penganut agama Siwa dan sejenisnya, memang Moksa adalah ciri pencapaian tertinggi. Dan betul, ciri moksa adalah 'tubuh fisik menghilang' dalam usaha sadar ybs. Jadi ybs. bisa memilih dan sadar bagaimana peristiwa itu terjadi.
    Dengan moksa, ybs. tidak akan mengalami reinkarnasi lagi.

    Cerita Ken Angrok ( Kitab Pararton) mungkin terilhami dari cerita Krisna. titisan lain Wisnu. Namun Krisna tidak di katakan suka membunuh, mencuri iya. Itupun terbatas hanya susu saja, yang dia berikan ke orang membutuhkan. Bahkan dalam kajian komunisme, Krisna di anggap sebagai versi komunis sebenarnya, asli dan ideal.

    Analisa mistik sejarah kuno akan lebih mudah di pahami, bila kita melibatkan seluruh komponen ilmu pengetahuannya (sistem oriental, bukan oksidental). Salah satunya adalah periodesasi, yang dalam budaya Veda di sebut sebagai sistem Yugas. Mengingat dalam sistem pengetahuan kuno, Yugas, sebagai bagian dari Astrologi di anggap "Ibu" pengteahuan suatu peradaban. Tidak ada Astrologi, tidak ada Yugas ( periodisasi), tidak ada ilmu pengetahuan lainnya. Begitu menurut anggapan oriental.

    Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita. Tapi, dari pengalaman saya lirak lirik dengan dua sistem ini, saya merasa mudah untuk memahami wilayah abstrak yang lebih banyak berada di sistem oriental, sekaligus kekakuan dan keterbatasan sistem oksidental (ilmu pengetahuan ilmiah).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya aja gan...intinya...

      Hapus
  59. panjaaaang dan luaaamaaaa

    BalasHapus
  60. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  61. Kerajaan tertua di jawa adalah Salakanagara (Pandeglang 130M), jauh sebelum Tarumanegara....

    BalasHapus
  62. Gajah Mada klo emang orang jawa knp g GOJOH MODO...?
    Gajah MAda sebenarnya dr Kerajaan Sriwijaya... :-D
    Mengenai Hayam Wuruk... knp di Jawa Barat g ada yg namanya Jl. Hayam Wuruk? klo di Jkt ada y?
    knp Hayam Wuruk bknnya Ayaw Wuruk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, ga semua huruf a di jawa harus jadi o...., Hayam wuruk :itu adalah sebutan org sunda kepada raja majapahit. seperti kita menyebut greek jadi yunani... semua ada alasannya. sekali lagi itu hanya sebutan, spt kita kadang punya sebutan khusus ke teman kita. sperti itu cara pandang dan cara pikir saya, CMIIW

      Hapus
  63. Syailendra itu orang Melayu, prasasti2nya berbahasa Melayu. Setelah sanjaya menang atas Sriwijaya, Sanjaya tertarik Budha lalu tidak mau perang lagi & mewariskan kerajaan pd Panamkaran yg beribu Syailendra. Lalu keluarga Syailendra memanfaatkan tentara Medang untuk ekpansi sesuai cita2 Sriwijaya yg telah dideklarasikan jayanasa "mengirim pasukan ke seluruh penjuru"

    BalasHapus
  64. Nu jadi masalah nu baheula narjamahkeun ieu tulisan pro ka majapajit, da kitu sejarawan di urang mah ti bahela oge di mana aya nu kawasa didinya bisa nitipkeun beuteung

    BalasHapus
  65. "TEORI PERANG BUBAT
    ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON
    Created by Ejang Hadian Ridwan"

    A N A L I S A ???
    HADEUUUUHHH......!

    BalasHapus
  66. nah saya setuju tuh dengan kisah kerajaan salakanagara, tolong jika ada yg lebih paham tolong lebih dikaji dong...makasih

    BalasHapus
  67. Haeuh...Udah lewat 600th masih aje ngurusin Perang Bubat. Yg bikin Kitab/kidung zaman dulu, cerita saduran Zaman belanda, atau novel zaman sekarang dari kisah bubat dah pade dapet untung banyak, lu pade cuma jadi korban. Sekarang ini zamannye kite idup, ayo bikin sejarah sendiri, biar zaman kedepan lu pade ngeTOB.

    BalasHapus
  68. Keula.....bentar....kenapa atuh banyak orang jawa daragang baso atawa daragang jamu di jawa barat? kenapa tidak dikampung halamannya sendiri? ripuh atawa kumaha? padahal urang sunda mah teu loba curak-carek ka maraneh jawa koek.....geus bisi dialusiran siah ku uing

    *geus postingan ieu tutup lah kira-kira jadi piomongeun mah

    BalasHapus
  69. mohon janganlah memperuncing masalah....kita di pulau jawa satu keturunan...leluhur kita pertama di pulau jawa berdasar kerajaan pertama itu salaka nagara yang di akui sampe sekarang ini tapi tidak menutup kemungkinan leluhur kita ada sebelum kerajaan salaka nagara.....intinya kita satu pulau jawa itu saudara...mulailah dari diri kita sendiri lapang dada menerima kenyataan karena itu perjalanan suatu bangsa...orang dari suku sunda jembarlah bahwa masa lalu tidak dapat di putar ulang siapa yang salah..dan siapa yang benar dalam skandal bubat tsb.. dan bagi orang suku jawa legowo lah bahwa dari catatan sejarah saat ini adalah keturunan orang sunda ..pelajari silsilah raja raja jawa sampai ke tahun masa kerajaan salakanagara jangan silsilah raja raja hanya sampai pada kerajaan yang masyur di tanah anda..jadi tidak menjadikan kebanggaan pada kerajaan besar saja...karna masih ada peran kerajaan sebelum kerajaan itu besar..mengapa di tanah sunda di sebut tatar parahyangan....karena tatar sunda adalah para pendahulu raja raja di pulau jawa...mohon jembar dan legowo...karena pengkajian sejarah belum ada sampai sekarang yang menerangkan kerajaan pertama di pulau jawa itu di wetan pulau jawa...itu tugas kita mengkajinya...postingan penulis salah satu bentuk pengkajian tersebut bukan maksud menyudutkan suku atau golongan tertentu yang mana dalam proses pengkajian dan penelitian pastilah masih banyak pro dan kontra..padahal intinya ini bentuk pembelajaran kita bagaimana menyingkapinya sebagai manusia bukan sebagai salah satu suku di pulau jawa...

    BalasHapus
  70. kenyataan dua suku ini (sunda dan jawa)mengklaim pertama di pulau jawa gan...ini terjadi dari dulu berupa simbol dalam bentuk apapun.. misal dalam bentuk seni pewayangan...simbol rakyat yang di peran kan oleh para punakawan...di suku jawa gareng itu anak pertama dari sang hyang ismaya atau semar sedang bungsunya bagong..kebalikan dari situ di suku sunda garenglah yang jadi bungsu dari sang hyang ismaya atau semar yang di gambarkan gareng berlogat suku jawa ini simbol siapa yang merasa paling dulu berada di pulau jawa bahkan sampai sang hyang ismaya nya pun mengklaim siapa yang paling dulu lahir dengan sang hyang antaga atau togog yang dalam lakon wayang golek sunda di gambarkan juga berlogat suku jawa lalu bapaknya para sang hyang ini mengutuk mereka dengan bentuk seperti yang di gambarkan sekarang di lakon pewayangan dan mereka menyesalinya....nah apakah mau suku sunda dan jawa di kutuk pula sama ALLAH karena saling mengklaim seperti itu?merasa paling hebat paling banyak berperan di Indonesia ini?
    saling membanggakan kejayaan raja raja besar suku masing masing di masa lalu?
    silahkan di renungkan..

    ini Indonesia bung,kang,mas,bang,dsb
    ngga usah kita samakan suara kita lebih baik satukan suara kita jadi suara yang berbeda beda tapi enak di dengar seperti gamelan..orkestra yang terdiri dari banyak suara dari alat yang berbeda tapi jadi enak di dengar..nggak usah kita berusaha supaya suara gong sama dengan suara suling....biarlah gong ya gong suling ya suling

    mohon maaf agak menyimpang dari bahasan cuma sekedar mengingatkan jangan sampe saling mengklaim suku yang terbaik di pulau jawa ini....untuk para sejarawan kajilah sejarah dengan tidak menyinggung perasaan suatu suku karena stiap suku punya sejarah masing masing yang di banggakannya......banggalah kita sebagai suku Indonesia karena penyatuan Indonesia hasil dari perjuangan pendahulu kita karena satu nasib yaitu mengalami masa PENJAJAHAN......terlepas dari suku mana yang memPROKLAMASI kemerdekaan itu karena semua berperan dalam kemerdekaan ini....Bapak Sukarno dan Bapak Hatta pun mungkin tidak akan bisa memproklamasikan kemerdekaan kalau seandainya suku suku di Indonesia saling bersebrangan....dan ini semua kehendak ALLAH SWT yang memproklamasikan adalah bapak bapak proklamator kita..semua perjalanan Bangsa ini karena sebab dari kita sendiri yang berbuat tidak baik di masa lalu.....mulai sekarang kita perbaikilah demi Indonesia tetap jaya

    MERDEKAA.....
    HIDUP PERSIB

    BalasHapus
  71. betul pisan kang
    HIDUP PERSIB
    wkwkkkw

    BalasHapus
  72. merdeka...
    Hidup Persib

    BalasHapus
  73. Mendebatkan permasalahan yang sudah selesai. thumbs up.

    BalasHapus
  74. mengapa ini anak bangsa saling berdebat kesukuan,, kalo memang perang bubat terjadi ya itu kan zaman pagan tidak usah dibawa permusuhan berlarut-larut. buktinya zaman kerajaan islam: kerajaan banten, cirebon, dan demak bersatu bahkan bersama-sama melawan portugis yang bekerja sama dengan pajajaran.

    jangan salahkan penjajah, tapi salahkan diri kita yang mau di adu domba..lihatlah itik yang tidak mau diadu.

    BalasHapus
  75. Tampaknya penulis artikel ini sengaja mengaburkan penyerangan curang majapahit terhadap rombongan penganten menjadi ekspansi kerajaan sunda, ya semacam putar balik fakta begit. Jelas sekali ko dari awal analisisnya sudah diarahkan ke situ. Intinya ya nggak mau menerima dengan legowo kalau majapahit pernah berbuat hal yang memalukan dan pengecut. Sama seperti Demak yang mengadu domba cirebon vs padjadjaran, atau mataram yang menyerang wilayah sunda dengan dalih bersatu melawan belanda. Intinya emang ingin menguasai wilayah orang lain apa pun carany.

    BalasHapus
  76. Mana ada cerita orang sunda bisa mengalahkan majapahit/jawa, gak ada ceritanya. Memang benar kata Ajib Rosidi, salah satu ciri org sunda adalah munafik/suka membohongi diri sendiri. Kita di sini sibuk cerita tentang kerajaa n pajajaran sementara keberadaan kerajaan ini saja skr mulai diragukan banyak pihak karena tidak banyak bukti yang menunjukan keberadaanya. Kata ajib rosidi, prabu Siliwangi itu hanya ada dalam cerita2 dan pantun2 bahasa sunda. Kalo memang kerajaan pajajaran itu memang ada, coba saya mau tanya di mana bekas reruntuhan istana/keraton rajanya? sebuah negara pastilah ada keratonnya..kalo majapahit Jelas ada di Trowulan Mojokerto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda

      Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

      Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

      Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

      Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

      Alihbahasa:

      “Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.

      Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.

      Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.

      Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

      Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit

      [...], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.
      Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.
      Mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi.

      Alihbahasa:

      [...], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.
      Maka ini terdengar oleh Sri Raja dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”
      “Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ kami”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit).

      Teks diambil dari Kidung Sundayana - BALI edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan disesuaikan.

      > C.C. Berg, 1927, ‘Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen’. BKI 83: 1 – 161.
      > C.C. Berg, 1928, Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). Soerakarta: De Bliksem.
      > Sri Sukesi Adiwimarta, 1999, ‘Kidung Sunda (Sastra Daerah Jawa)’, Antologi Sastra Daerah Nusantara, kaca 93-121. Jakarta: Yayasan Obor. ISBN 979-461-333-9
      > P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan. (hal. 528-532)

      Hapus
    2. Istana galuh di hancurkan oleh pasukan cirebon ( cucu dari pabu siliwangi ayng masuk islam ) ketika islam masuk ke tanah sunda.
      Isana pajajaran di hancurkan oleh pasukan banten + cirebon + demak.

      sesudah islam masuk, seluruh candi + tempat peribadatan yang bersifat musrik di hancurkan. patung2 berhala di kubur ( contoh lokasi penguburan berhala ada di ciamis )

      Hapus
  77. kalao dibilang Perang Bubat bohong, datanglah ke Astana Gede Kawali, distu anda akan menemukan lingga dan prasasti sebagai ciciren (bukti Perang Bubat). selain itu Raja Galuh (sang Haliwungan) di impechment gara-gara menikahi stri larangan yg berasal dari Tatar Wetan. Knp Istri dari Tatar Wetan disebut Stri Larangan ? Jawabannya karena tanah sunda saat itu masih pedih degan kejadian Bubat.

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.