Rabu, 27 Juni 2012

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN
Taktik dan Organisasi Pasukan Mongol

Taktik dan Organisasi Pasukan Militer Mongol dibentuk dan dirancang oleh Jenghis Khan dan dengan taktik ini Kekaisaran Mongol hampir menaklukkan seluruh benua Asia, Timur Tengah dan bagian timur Eropa.

Pondasi dasarnya yaitu dari sistem yang dikembangkan dan merupakan kelanjutan dari gaya hidup nomaden dari bangsa Mongol. Hal-hal lain dalam pengembangnya ditemukan oleh Jenghis Khan, atau para jenderal perangnya, dan para penerus dinastinya. Teknologi budaya dan ahli teknis asing lain yang dipikir berguna untuk sistem pertahanan dan serangan, diadaptasi atau diadopsi kemudian diintegrasikan ke dalam struktur komando pasukan militernya.

Sebagian besar pertempuran pada abad ke-13, yang dilakukan bangsa Mongol, mereka hanya kehilangan atau mengalami kekalahan beberapa pertempuran dengan menggunakan sistem itu yang diterapkan Jenghis khan, tapi kekalahan-kekalahan itu pun selalu diraih kembali, kekalahan itu dijadikan pembelajaran dan kemudian dievaluasi sehingga hasilnya diubah jadi kemengan.

Dalam banyak kasus, mereka menang melawan tentara lawan yang secara signifikan jauh lebih besar. Kekalahan pertama yang mereka alami yang sebenarnya ketika terjadi dalam Pertempuran Ain Jalut di 1260, melawan tentara yang telah dilatih khusus, merupakan pasukan pertama yang dilatih dengan oleh pasukan mereka sendiri, senjata makan tuan. Pertempuran Itu sekaligus mengakhiri ekspansi Kekaisaran Mongol ke wilayah barat, dan dalam 20 tahun ke depan, Mongol juga menderita kekalahan dalam invasi percobaan ke Vietnam (Annam) dan Jepang. Tetapi kekalahan itupun secara global dikarenakan Kekaisaran Mongol dalam kondisi terpecah belah dan mulai melemah sebagai dampak besar dari invasi kewilayah lain yang telah mereka lakukan yang berlangsung selama kisaran seratus tahun lebih, dengan mulai timbul pemberontakan dan pemisahkan diri oleh wilayah bawahnya yang pernah ditaklukan oleh pasukan Kekaisaran Mongol.

Organisasi dan karakteristik Pasukan

A.  Sistem Desimal

Jenghis Khan mengorganisir tentara Mongol ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan sistem desimal. Satu unit atau regu pasukan, terdiri dari 14-60 orang, yang secara rekursif dibangun dari kelompok terdiri dari 10 (Arav), 100 (Zuut), 1.000 (Minghan), dan 10.000 (Tumen), masing-masing dengan sistem pelaporan oleh pemimpin pasukan dari tingkat lebih rendah ke tingkat berikutnya yang lebih tinggi. Unit-unit regu pasukan itu diawasi oleh seorang intendan (kepala divisi pasukan) Tumen, yang disebut jurtchi. Artinya total pasukan dapat dihitung sekitar minimal 140 ribu sampai 600 ribu orang dengan diambil rata-rata sekitar 440 ribu orang pasukan Kekaisaran Mongol yang tersebar di Wilayah Monggol sendiri dan wilayah-wilayah bawahannya yang sudah ditaklukan.

Jenghis Khan menghargai mereka, yang telah setia kepadanya selama tahun-tahun sampai ia naik ke puncak kekuasaannya, melalui surat keputusan yang dibuat dari markas besarnya. Para Tumen, dan Minghan, diperintahkan oleh seorang Noyan, yang diberi tugas untuk mengelola wilayah secara administratif pada wilayah yang sudah ditaklukan.

Dari Sejumlah Tunmen, kira-kira dua sampai lima Tumen, kemudian akan membentuk sebuah Ordu yang berarti sebuah korps gabungan  tentara atau pasukan tempur, yang mana istilah kata "Horde" atau unit tentara gabungan itu dibentuk atas perintah para Khan atau para jenderal mereka (Boyan). Sebuah Ordu adalah sebuah unit tentara gabungan yang diatur secara ketat dengan sistem organisasi dan tampilan bentuk formasi pasukan yang seragam.

Transfer atau perpindahan antar unit regu pasukan dilarang. Para pemimpin pada tingkat masing-masingnya memiliki lisensi atau wewenang penuh untuk mengeksekusi perintah mereka sendiri dengan cara yang mereka anggap terbaik. Struktur komando pasukan dengan sistem diatas terbukti sangat fleksibel dan memungkinkan tentara Mongol untuk menyerang secara massal, membagi menjadi kelompok-kelompok lebih kecil untuk memimpin pengepungan dalam penyergapan pasukan lawan, atau membagi menjadi kelompok-kelompok kecil terdiri dari 10 tentara atau lebih ketika melarikan diri atau terpecah belah saat pertempuran berlangsung.

Setiap tentara secara individu bertanggung jawab atas peralatan dan senjata yang mereka miliki (senjata inventaris pasukan), sekurang-kurangnya masing-masing dari mereka memiliki lima jenis senjata. Meskipun mereka berperang sebagai bagian dari unit pasukan tetapi keluarga dan hewan tunggangan para personil pasukan akan menemani pada setiap ekspedisi keluar wilayah.

Dari semua unit pasukan yang ada, terdapat pasukan elit yang disebut keshig. Pasukan itu berfungsi sebagai penjaga kekaisaran Kekaisaran Mongol serta tempat pelatihan bagi perwira muda potensial, Subutai Agung (penasihat militer para pewaris Jenghis Khan) memulai karirnya di sana.

B.   Memutuskan Hubungan Mata Rantai Kelompok Kesukuan

Sebelum era Jenghis Khan, banyak suku dan konfederasi didaratan Mongol, termasuk diantaranya Suku-suku bangsa Naiman, Merkit, Tatar, Mongol, dan Keraits. Mereka pada awalnya sering saling melakuan penyergapan satu sama lain atau bahkan saling bergabung melakukan itu Permusuhan ini berlangsung berabad-abad lamanya. Saling balas dendam. Selain itu, banyak kelompok keluarga dan individu telah dikucilkan dari suku mereka karena berbagai alasan dan tinggal di luar perlindungan suku. Kelompok-kelompok yang terakhir inilah yang disambut oleh Jenghis Khan untuk bergabung dengan pasukannya.

Ketika terjadi penggabungan tentara baru ke dalam tentara inti, Jenghis Khan membagi tentara di bawah pemimpin yang berbeda untuk memecah hubungan sosial dan kesukuan tersebut, sehingga tidak ada pembagian berdasarkan garis keturunan dari aliansi suku-sukunya. Dengan demikian, ia membantu untuk mempersatukan masyarakat yang berbeda dan terbentuklah loyalitas baru dari setiap pasukan, satu sama lainnya. Namun demikian, identitas kesukuan lama tidak sepenuhnya hilang, masih terdapat dari beberapa suku yang merupakan orang-orang Jenghis Khan sebenarnya yang dengan tetap setia kepadanya sepanjang tahun, secara keras tetap mempertahankan beberapa integritas dan rasa identitas sebagai kelanjutanya, sedangkan Suku-suku bangsa seperti Tatar, Mergids, Keraits, Naiman dan klan bekas musuhnya yang awalnya lebih kuat dari Jenghis Khan benar-benar telah terputus kesatuan mereka. Oleh karena itu, ada contoh misal Tunmen Ongut tetapi tidak pernah merupakan bagian dari Tumen Tatar, padahal klan Ongut bagian dari suku bangsa Tartar.

Promosi jabatan diutamakan berdasarkan prestasi. Setiap pimpinan unit pasukan bertanggung jawab atas kesiapan prajuritnya setiap saat dan akan diganti jika ditemukan dan dinilai adanya ketidakcakapan dalam memimpin.

Promosi jabatan juga diberikan atas dasar kemampuan, bukan atas identitas asal muasal kelahirannya, dengan kemungkinan pengecualian untuk kerabat dari Jenghis Khan sendiri tentunya, yang merupakan tingkat komando tertinggi pada hirarki pasukan. Sebuah contoh yang baik akan Subutai, putra seorang pandai besi (profesi yang sangat terhormat sebenarnya pada masa, tetapi biasanya tidak ditakdirkan untuk jadi calon pemimpin).

Contoh dalam serangkaian invasi penaklukan Eropa Barat dan Timur, secara normal harusnya komando dipegang oleh Batu Khan, cucu Jenghis Khan. Dua pangeran lainnya yang sedarah dengan Batu Khan mengepalai masing-masing sayap pasukan itu. Tapi ketiga pangeran anak Jenghis Khan tersebut secara operasional berada di bawah pengendalian Subutai. Setelah menerima berita kematian Ogedei Khan (putra dan penerus Jenghis Khan) pada tahun 1243. Itulah Subutai, yang mengingatkan ketiga pangeran yang ogah-ogahan atas tugas dinasti mereka dan Subutai memerintahkan para Tumen untuk naik kembali ke Mongol. Dengan demikian, kejadian ini menyelamatlah Eropa dari pukulan kehancuran total lebih lanjut.

17 komentar:

  1. panjang sekali cerita nya. bisa di pendek kan? judul nya "Kekaisaran Mongolia"

    BalasHapus
  2. mempertimbangkan Kekaisaran Mongol. Bagaimana metode penaklukan / aturan dibandingkan dengan yang dari Roma? Apakah taktik mereka sukses? Mengapa atau Mengapa tidak?

    BalasHapus
  3. Apa hubungannya sama mongol.. apalagi jumlah kpl ribuan. Memang tuan ejang ini cocok jd pengarang.

    Ga ada kerjaan apa ngurusin sejarah orang, urus diri sendiri aja dulu gmn hidup baik- baik tanpa bersikap sinis dan psimistis pada orang lain. Anda tentunya org beriman, jadi hati-hati berpendapat itu.

    Sudahlah ga usah tuan bahas hanya memperkeruh suasana.

    Kejadiannya sudah ratusan tahun yg lampau dan itu di abadikan sebagai hadiah dan kenang-kenangan buat kita-kita. Apa anda punya sejarah apa aja deh

    Mending cari info tentang dinosaurus, dan manusia purba dan perkembangannya.

    Tak setuju boleh, tak senang itu biasa.

    Kl anda meragukan juga hal biasa tp sejarah jgn dirusak tuan kan anak bangsa juga tentunya.

    Cari penyelesaian itu bukan langsung sekak seter sperti itu tp harus di cari akarnya asal usulnya silsilah mengapa kenapa.

    contoh: mengapa jaman dulu wanita yg dtg ke mempelai. Lihat pd jmn itu nusantara masih mnganut hindu

    Maaf tuan sebenarnya saya berat komennya soalnya kebanyakan.

    Hormat saya
    Orang biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhhh ga blh jd generasi pasif donkk,masa sejarah salah dibiarinnn...gak setujulah...selama itu da fakta dan bukti yg jelas, gali trs lah....ya kalo sejarah ga perlu digali ngapain ada sejarahwan lah ga...kayanya penulis membuka diri tuk disangagagh kok dlm tulis2annya...ya salh kita hajar lah...hehehehe

      sory mori gan

      Hapus
    2. Wawan Setiawan7 Oktober 2013 09.40

      betul. Tulis terus Kang Ejang ! semua yang anda analisa adalah bagian dari kemungkinan sejarah. dan bagi yang baca dengan wawasan setengah mateng, gak usah ngajarin. urus aja wawasan anda sendiri...hehe

      Hapus
    3. broo kalau gk mau belajar sejarah ya g usah ngatur2 orang mau nulis apa, kang ejang ini sudah bagus dia tida copas.

      Hapus
  4. Pembahasan atau analisa yang anda buat tentang PERANG BUBAT dlm Kidung Sunda dan Pararaton.
    Dengan alasan "Menguak tabir sejarah".
    Lebih mengarah ke sara, menimbul kedua belah fihak pada masa sekarang saling menyudutkan dalam komentar. Khususnya Sunda dgn Jawa yang pada masa lampau satu sama lain memiliki satu garis kepemimpinan bahkan satu keturunan mulai dari Salaka Nagara. Taruma nagara. Galuh pakuan. Medang yg di sebut Mataram Lama.

    Anda menganalisa tentang perang bubat pada masa majapahit dgn galuh pakuan/pajajaran.

    Yang saya ingin tanyakan disini:
    1. Kenapa anda berpendapat bahwa. kitab kidung sunda dan pararaton itu palsu. Kalau anda boleh jujur, apa misi dan misi anda dan adakah fihak yang mendorong anda untuk hal ini?
    2. Kenapa anda berpendapat bahwa kitab kidung sunda dan pararaton dibuat oleh belanda.
    3. Apakah anda tau tahun pembuatan Kitab kidung sunda dan pararaton yg tentunya blm berbentuk kertas modern
    4. Tahun berapa belanda menduduki Nusantara? yg tentunya blm nama indonesia.
    5. Dari mana anda menebak jumlah penumpang kapal? serta jumlah ribuan kapal. Apa anda tau berapa ukuran per kapal yg besar dan yg kecil sehingga tida mngira-ngira.
    6.Kenapa anda berpendapat bahwa sejarah di simpan oleh negara dan anda menyayangkannya. Bukankah anda tau bahwa negara berkewajiban memelihara dan melindungi sejarah.

    Jawaban untuk pertanyaan diatas g bgitu penting buat saya.

    Saya sbagai pembaca merasa ada yang ganjil dg analisa2 anda yg terlalu bersemangat dan cenderung mngira-ngira. Yang bisa menumbulkan kesenjangan sosial antara Sunda-Jawa yg hidup normal berdampingan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada salah kamar ni komenya gan...hrs'y yg komen jg jgn nanya doank donk...ksh data jg, klo mau nyagkal ato bantah ya ksh datanya spy ada diskusi...

      Point 1,2.3.4 cari aja sendiri cama yg nanya...klo ane coba bantu ikutan jwb...kate sipenulis jumlah kapal bukan tebak2an, tp ada dlm kitab kidung...baca makanya gan...2000 kpl itu data dr ntu kitab...klo 1 orng aja 1 kapal berrti dah 2 ribu orng...beda dgn cerita yg beredar di masyarakat sunda, yg latanya cuma Raja dan keluaraga plus ratusan pengiring yg dibantai di bubat...

      ntu artinya ada yank salah dalm cerita bubat ini, pdhl tu kitab dukung adanya perang bubat...klo ga salah penulis analisanya dr situ....klo kapal aja 2000 buah, sebanyak apa donk rombongannya...

      jwban point 6, manuskrip kita hanya setengah yg dimiliki belanda, dibelande sono ada 25000, kite separohnye ya pasti banyak sjerah yg kepotong...ga sambung menyambung jadi satu....

      htu kayanye gan....

      Hapus
    2. Wawan Setiawan7 Oktober 2013 09.45

      hihi... yang nanya salah kamar. analisa mongol malah ke perang bubat. tulalit.

      Hapus
  5. Makanya kl mau tau sejarah, langsung datang ke perpustakaan sejarah nasional atw kelapangan atw yg bisa lebih dipercaya ketimbang oralisa murahan macam ini yg bisa menyesatkan, yg cuma didpt dr internet dan hasil ngintip nda boleh itu pamali. Janganlah terpropokasi..
    Yang menonjol disini adanya sara. Simak dong baik2 dgn kepala dingin jgn ego dan kesombongan yg dikedepankan.

    Bagaimanapun baik buruknya sunda-jawa itu tak bisa dipisahkan. Masing2 memiliki kebudayaan yg hampir sama dan silsilah yg saling berhubungan. Walaupun tetap awal mulanya dari bagian barat ke timur.
    Apa yang di banggakan dengan kerajaan penjajah atw disbut kerajaan penakluk?? sedang itupun ga ada bukti otentik. Kl bgitu apa bedanya dgn kolonialisme.

    Saya hanya mengingatkan jgn terpropokasi dg hasil bloger ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wawan Setiawan7 Oktober 2013 09.48

      saudara/i anonim 24 agustus, jangan so iyeh deh. mana data ente? omong doang !

      Hapus
  6. AgenBola855,com | mybet188,com | Agen Taruhan Bola Online Terpercaya
    Promo Bonus Semua Member | Agen Bola | Taruhan Bola | Judi Bola | Judi Online | Agen Casino
    Deposit Mulai Rp50rb, dapat Bonus Beeting dari Agen Bola Terpercaya Anda, Deposit Minimal dengan Bonus? Maksimal? dari Agen Bola Kesayangan Anda
    silahkan register disini,
    agenbola855,com/register | mybet188,com/register
    link bebas nawala disini
    118.139.177.66/~mybet188 | 203.124.99.248/~agen855

    BalasHapus
  7. ni topik cerita di blog ini apa siih ??... bkn kah ttg jenghis khan ??...koq yg comen malah ngebahas masalah yg lain2,,,perang bubatlah kidung sunda lah...ni yg ga nyambung yg comen atau sya salah bca sih...

    BalasHapus
  8. apa perang bubat pake stategi perang jengis khan?
    jadi pabaliut kieu!

    BalasHapus
  9. Makasih sob udah share , blog ini sangat membantu sekali .............




    bisnistiket.co.id

    BalasHapus
  10. Hay .... Saya Blogwalking ^_^

    pasang iklan kami di blog anda

    kunjungi:

    http://riskyakbarweb.blogspot.com/2014/04/iklan.html

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.