Selasa, 10 April 2012

DUSTA SEJARAH KITAB PARARATON

DUSTA SEJARAH
KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA
(Analisa Penelusuran  Isi Kitab Pararaton)
Created : Ejang Hadian Ridwan


Pendahuluan

Sungguh suatu pencaharian yang teramat sulit dan melelahkan untuk menemukan jejak si pembuat atau pengarang dari kitab Pararaton, yang menjadi referensi atau sumber informasi sejarah dan sangat mendominasi alur cerita sejarah masyarakat Indonesia.
Setidaknya kitab ini sangat mempengaruhi informasi dan arah sejarah nusantara tempo doeloe. Rasanya sudah bosen menelusuri dan mencari dari berbagai media online, buku sejarah, tetap saja tidak ditemukan jejak asal usul si pembuatnya.
Seperti halnya dengan kitab-kitab (red, kitab = buku jaman lampau) yang lain, yang tidak diketahui siapa penulisnya (anonim) dan kapan waktu pembuatanya. Identitas dan waktu pembuatannya seperti inilah yang terkadang menyulitkan analisa dari kebenaran isi kandungan materi yang disampaikannya, hal ini dikarenakan referensi tentang latar belakang dan tujuan penulisannya itu sendiri tidak jelas.
Padahal seperti diketahui bahwa kitab Pararaton, sudah seolah-olah mendarah daging di masyarakat luas, yang merupakan cerita sejarah nusantara masa lampu pada masa abad ke-12 sampai dengan abad ke-15, dan bahkan menjadi sumber inspirasi dari berbagai teori dan buku-buku yang beredar dimasyarakat, apakah itu buku sejarah resmi, kisah sejarah (epik) atau hanya sekedar cerita fiksi dan mitos.
Bahkan dalam buku-buku sejarah untuk dunia pendidikan juga tidak lepas dari pengaruhnya. Akhirnya menambah kekentalan dan semakin melekat pengaruh kitab Pararaton itu terhadap pola pikir dan pengetahuan masyarakat tentang sejarah.
Dalam berbagai media massa dan dunia hiburan sering mendapati cerpen, kisah-kisah sinetron, film-film atau cerita-cerita fiksi tentang kerajaan bahkan cerita resmi sejarah pun mempunyai rekontruksi, alur dan muatan yang sama dengan yang ada dalam kitab Pararaton tersebut.
Suatu contoh kisah-kisah fiksi semisal Babad Tanah Leluhur, Tutur Tinular, Arok Dedes dan lain sebagainya yang pengambilan sebagian tokoh dan alur ceritanya yang disebutkan dalam kitab Pararaton. Bahkan banyak budayawan serta seniman yang membuat karya-karyanya terinspirasi dari situ juga.
Seperti halnya Pramoedya Ananta Toer yang mengarang kisah Arok Dedes yang menurut versi beliau adalah kisah yang didasakan pada logika dan realistis, soalnya banyak pengarang tentang kisah Ken Arok dan Ken Dedes sebelumnya yang selalu tidak realistik tidak bersifat manusiawi dan penuh mistis yang tidak ada dasar logikanya.
Kemudian ada juga contohnya seperti acra yang merupakan peninggalan sejarah, sering diperlambangkan atau diibaratkan sebagai tokoh dalam cerita Paparaton, misal Arca Prajna Paramita yang diibaratkan sebagai tokoh wanita rupawan Ken Dedes, dan ini malah menguatkan tentang cerita Ken Dedes itu sendiri, padahal acra itu sebagai wujud perupaan sebagai media pemujaan atau peribadatan terhadap dewa-dewi bagi para pemeluknya, dan itu ditelan mentah-mentah tanpa dilakukan riset dan logika pasti tentang kebenarannya.
Sungguh teramat luar bisa, pengaruh kitab Pararaton terhadap cerita sejarah kebangsaan di negeri ini, padahal bukti-bukti sejarah belum bisa menjastifikasi kebenarannya. Pramoedya Ananta Toer mengangkat cerita Ken Arok dan Ken Dedes melalui judul bukunya Arok Dedes, walaupun dibuat serealistik mungkin dengan bersandarkan ke kenyataan kehidupan yang manusiawi, tapi ada satu hal yang terlupakan, yaitu kebenaran dari sosok Ken Arok atau Ken Dedes itu sendiri, bahwa apakah meraka pernah ada dan nyata dalam sejarah. Soalnya nama Ken Arok yang selalu dicocok-cocokan dan dianggap sama dengan Sri Rajasa Sang Amurwabhumi raja kerajaan Tumapel (Singhasari versi kitab Pararaton).
Ken Dedes dengan beberapa tokoh tambahan lainnya seperti Tunggul Ametung dan Mpu Gandring yang terkenal dengan keris saktinya, apakah mereka juga adalah benar-benar para pelaku sejarah? Bukti-bukti sejarah yaitu prasati-prasati yang ditemukan, mempunyai kemiripan tahun dan tempat yang sama dengan Ken Arok, mungkin bisa jadi itu sosok Sri Rajasa Sang Amurwabhumi yang dimaksud Ken Arok disana, mengingat dijelaskan juga gelaran dari Ken Arok yang diangkat raja pada waktu itu dan sama dengan yang disampaikan kitab Pararaton, tapi apakah Ken Dedes dengan yang lainnya ada juga bukti sejarahnya? Apakah benar pula cerita yang menghiasi latar belakang dan kehidupan Ken Arok itu seperti itu adanya? (Manusia berandalan, seorang kriminal, yang akhirnya menjadi raja besar pendiri Wangsa Rajasa leluhurnya raja-raja Majapahit).
Satu hal yang pasti adalah bahwa nama tokoh-tokoh beken seperti Ken Arok, Ken Dedes, Tunggul Ametung dan Mpu Gandring, akan selalu menghiasi bingkai cerita-cerita masyarakat dalam segala bentuk dan versi terbarunya, dan mereka itu hanyalah nama-nama yang cuma ada dalam Kitab Pararaton, tidak ada sumber sejarah lain yang memunculkan nama mereka.
Keris Mpu Gandring dibuat seolah-olah keris yang mempunyai manuat, teramat sakti, berisi kutukan dan menjadi misteri bagi mereka yang terobsesi oleh hal-hal mistis, bahkan sering dijadikan bahan penipuan untuk kepentingan memperoleh keuntungan bisnis semata dengan membawa-bawa nama besar mistis dari keris itu sendiri. Sungguh merupakan kebohongan dan kesesatan yang teramat nyata, tetapi mengapa sebagian masyarakat menerima begitu saja mitos yang tidak ada dasar logikanya. Penerimaan itu tentu saja bisa terjadi karena kitab Pararaton sendiri secara keseluruhan sudah diterima dalam pola pikir kehidupan masyarakat luas.
Pertanyaan selanjutnya, apakah tidak salah kaprah bangsa ini dalam membesar-besarkan kisah mereka? padahal dalam setiap penayangan-penayangan atau tulisan-tulisan yang dibuat selalu ada unsur-unsur sejarah yang dimasukan, pada akhirnya sesuatu yang asalnya dari fantasi menjadi menjelma sebagai bentuk sejarah kebangsaan, malah menjadi kebanggan pula.
Sri Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok adalah raja besar kerajaan Tumapel pendiri dinasti raj-raja Wangsa Rajasa, yang merupakan cikal bakal dari lahirnya kerajaan besar sebagai penerusnya yaitu kerajaan Majapahit. Sri Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok dikerdilkan sedemikian rupa oleh cerita kitab Pararaton sebagai manusia hina dalam pandangan masyarakat, brandalan, kriminal, yang tumbuh jadi serorang raja besar. 
Padahal untuk menjadi seorang negarawan, apalagi seorang raja besar yang mampu menyatukan wilayah sebegitu luasnya, mulai dari perbatasan Kali Brebes di Jawa Tengah sampai ke penghujung Jawa Timur, haruslah seorang yang punya visi dan misi kenegarawanan, terlebih harus dapat diterima dan didukung masyarakat luas untuk tempo lama.
Kitab Pararaton atau sering disebut juga dengan istilah kitab para raja, kitab para datu, atau kitab para ratu adalah kitab yang berisikan informasi sejarah, ada penandaan tahun, tempat dan nama para pelaku itu sendiri, tetapi buku ini dirangkai dengan cerita fiksi, ada narasi atau pengkisahan yang memicu dan mempengaruhi emosi pembaca. Kepintaran dalam memberikan lemparan-lemparan kisah yang dramastis, yang sangat cocok dengan nuansa perasaan dan rasa sentimentil masyarakat pada umumnya.
Terdapat kisah yang digambarkan secara mistis, erotis, konflik dan lain sebagainya walau tidak sedetail dan segamblang novel, tapi cukup memberikan berbagai polemik pertanyaan pada akhirnya. Ini juga yang memicu orang untuk selalu mengembangkannya.
Keglobalan dari cerita inilah yang menjadi bahan inspirasi bagi para penulis lainnya. Penandaan tahun atau waktu peristiwa tidak selamanya cocok dengan bukti-bukti sejarah, tapi setidaknya ini dianggap cukup menjadi bahan referensi bagi perjalanan sejarah bangsa ini yang teramat minim dengan dokumentasi sejarah.

49 komentar:

  1. pentingnya menganalisa kitab pararaton

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya se7 dgn pendapt anda,krn bukti2 sejarah tdk seluruhnya terkuak baik dari peninggaln yoni ataupn linnga

      Hapus
    2. saya se7 dgn pendapt anda,krn bukti2 sejarah tdk seluruhnya terkuak baik dari peninggaln yoni ataupn linnga

      Hapus
    3. Mikir atuh jaman dulu serba terbatas dasar oneng! Kaga udah dari brantas ampe ujung ja-tim dah, gubernur dr mulai ngejabat ampe mao pemilu lg masi aja ada masarakat yg kaga kenal & byk pejabat tinggi yg lebih hina kelakuan nye drpd skdr perampok! Gue yakin lo nulis ni krn ada rasa sentimentil, puh...nama eyang sikap endang!

      Hapus
    4. ajisuropati@yhoo.com28 Februari 2014 07.17

      boro2 lemdiknas mw mengkaji sejarah lebih dalam,mahal bro bea-nya mending dikorupsi aj..

      Hapus
  2. Wah.. Pak Ezank jadi pemerhati sejarah, nih. Like This , ditunggu tulisan selanjutnya :)

    BalasHapus
  3. " bangsa dengan peradaban yang tinggi pada masa lalunya bisa dipelajari dengan
    sejarah dengan metode yang rinci dan teliti "

    SALAM HYPPOCRATES CERDAS !!!!

    http://doktertoeloes.blogspot.com/2011/10/bersama teman sejawat .html

    BalasHapus
  4. KItab Pararaton itu memang patut dipertanyakan keabsahannya sebagai sumber sejarah. Parahnya, udah bergenerasi ke generasi, buku buku pelajaran sejarah itu selalu mendasarkan diri pada Pararaton. Contoh, di buku2 sejarah jaman sy SMA, yg disebut2 selalu Ken Arok lah, Ken Dedes lah, Hayam Wuruk -- pdhl kalo mengacu pada prasasti peninggalan kerajaan2 itu -- yg berarti ini adalah petunjuk sejarah yg sebenarnya -- maka nama2 raja yg sempat memerintah itu berbeda sama sekali. Memang nama2 raja itu disebut sbg nama abhiseka, tapi memang hrsnya itulah penyebutan nama-nama yg seharusnya digunakan utk sejarah. Misal, Rajasanegara yg merupakan raja terbesar Majapahit -- Prapanca menuliskan kisah hidup raja ini dlm Negarakertagama. Atau raja Wisnu Wardhana yg merupakan nama raja Singasari. Hrsnya buku2 sejarah menyebutkan nama-nama raja itu dengan sebutan yg tertera di prasasti-prasasti yg mrpkan bukti otentik dari kerajaan bersangkutan. Bukan malah mengambil nama2 yg berkonotasi legenda/mitos spt ken Arok, Anusapati, Hayam Wuruk. Memangnya sudah terbukti bahwa nama2 itu adalah nama asli dari para raja yg tertera di prasasti? Tidak ada samasekali krn itu semua karangan dari penulis kitab2 spt Pararaton, Kidung Sunda dll. Patut diingat bahwa kitab2 yg disebut belakangan ini (Pararaton dsb)muncul & ditulis beratus2 tahun stlh masa Kediri, Singasari, Majapahit memerintah. Jangka waktu ratusan tahun itu menyebabkan fantasi/mitos dimasuk2an oleh penulis kitab2 baru. Bodohnya, departemen pendidikan & kebudayaan kok menerbitkan buku2 sejarah yg berpedoman pada kitab2 yg hrsnya dikaji keabsahannya sbg sumber sejarah. Alhasil, masyarakat lbh tahu yg namanya Hayam Wuruk lah, Ken Arok lah (dan backgroundnya dia yg seakan2 manusia bejat/rusak moral dsb -- pertanyaan logika awam: bagaimana bisa orang bejat/rusak moral spt ini jd raja yg hebat??? Ada ketidaksesuaian antara pencitraan ini dgn karakter raja yg besar. Setuju sekali utk saatnya memulai pengkajian menyeluruh atas kitab2 baru. Bisa jadi benar bahwa penulisan2 kitab2 ini yg disadur oleh ilmuwan2 Belanda (ingat, mrk orang Belanda, yg tetap saja punya kepentingan utk 'menjaga' Indonesia sbg jajahan mrk, dan kepentingan ini yg dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial belanda utk terus mencengkram. Krn itu mereka berlindung dibalik 'keilmiahan penulisan kitab2 ini oleh para ilmuwan mereka (Belanda)', sehingga seakan2 saduran mrk itu lah yg ilmiah dan hrs diterima khalayak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gw setuju kalo sejarah harus dikaji lagi biar lebih realistik ilmiah dan tidak cuma mitos tanpa bukti otentik. Tapi..., klo kita lihat kondisi negara dan masyarakat Indonesia spt saat ini dan bertahun-tahun yang lalu gw jadi mikir2 jangan2 cerita pararaton memang itu benar? Coba kita lihat masyarakat kita yang korup, merampok, berjudi, moral bobrok, dan para elitenya gontok2an terus berebut tahta dan wanita dengan berbagai intrik2 yang dikembangkan? hmm.....

      Hapus
  5. jadi intinya apa yang palsu dan apa yang asli?

    BalasHapus
  6. mantap
    suatu penelusuran sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, terima kasih gan, coba baca tentang " Ken Angrok menggugat Mbah Google" ada sedikit kelanjutnya dengan artikel ini.

      Hapus
  7. terus berjuang pak..... moga-moga dengan mengkritisi kitap pararaton, sejarah bangsa kita yang asli dapat terungkap...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip, thanks gan, hanya belajar menulis dan membiasakan banyak membaca....mudah2an ada manfaatnya....thanks atas dukungannya

      Hapus
  8. hati-hati dalam membahas tentang sejarah. ikut penelitian sejarah aja bro.... biar mantap dan tau pasti tentang sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih Gan sudah mengingatkan....mudah2an ane bisa lebih hati2...waduhhh kalo ikut penelitian sejarah gmn ya? tp itu jg jd pertimbangan ane, mudah2an ada kesempatan seperti itu...thanks gan

      Hapus
    2. Saya melihat bung ejang ini memang terlalu gegabah dalam menuliskan suatu kesimpulan, terlebih kesimpulan tersebut hanya hasil olahan dr berbagi tulisan yg tersaji di internet. Mengatakan pararaton dusta tentu akan sangat bisa diterima jika bung telah melakukan penelitian sejarah secara empiris terhadap bukti2 faktual, bukan dengan sulapan asumsi kira2 yang gegabah mengambil kesimpulan. Mengenai tidak adanya bukti presasti yg mendukung keberadaan ken arok, tunggul ametung dll, tentulah saya akan membuk tngan lebar2 jika betul bung ejangnsudah melakukan penggalian terhadap setiap jngkal tanh di jawa ini. Jika belum, kesimpulan mengenai dusta nya sejarah kisah arok dedes, perang bubat, kitab pararaton, tak ubahnya igau an seorang pemimpi yg malas mencari fakta2 kebenaran sejarah itu sendiri.
      Usul saya, jika bung ejang malas membawa badan berkeliling ke tanah2 yg menjadi kesimpulan tulisnnya, sebaiknya menggunakan kata "mungkin" atau "belum" untuk setiap argumen yg didapat dr sumber sekunder.

      Salam dari pecinta sejarah indonesia
      Bayu gautama

      Hapus
    3. saya sepakat dengan bung yang satu itu ini. untuk mengklaim bahwa sebuah fakta sejarah itu bohong, dusta,tidak benar, salah, harus ada pembanding dari hasil riset yang memadai. saya sepakat bahwa terlalu gegabah dalam menyimpulkan itu. novel atau cerita fiksi sejarah terkadang memberi alternatif sejarah lain dari sejarah mainstrem pada zamannya, sehingga itu tidak boleh diabaikan, dan bahkan dapat menjadi sebuah pembanding.misalkan, serat Gatholoco, dharmogandul, yg oleh penulisnya memberi sudut pandang lain dari pandangan lain oleh penguasa politik di zamannya. _affan haji

      Hapus
  9. ane ga percaya pada kitab-kitab yang sekarang, sudah banyak perubahan karna kerakusan manusia atas kekuasaan dan tuk merubah pola pikir sejarah yang sebenarnya...!!!

    BalasHapus
  10. bagus analisa dan tulisannya. MEnurut saya, sejarah memang harus di gali dan dicari. Jika berfikir Logkia untuk menelaah sejarah kadang meleset, karena banyak hal zaman dahulu ga masuk dalam logika, makanya perlu pengkajian bepuluh tahun. sebagai contoh, Piramida mesir, Tembok cina, Borobudur, di zaman itu menggunakan apa? kalo di pakai logika?? sekarnag logika sudah bertebaran dan sudah mengakar pada manusia modern, memebuat gedung bertingkat saja jebol!!!

    seperti pura besakih yg ada di bali , dan lempuyang itu sangat tinggi Lo, di puncak gunung,secara logika apa bisa di telaah??? dnegan bahan apa?

    jika hanya pengkajian melalui tulisan dan perkataan dan teks, akan snagat menyimpang jauh kalo kita menelaah kitab pararaton. Kita harus melakukan pengkajian, dan penelitian bukan asal nulis di internet, ini malah hanya mencemooh sejarah, kalo merasa sejarah perlu kita lestarikan, jangan dah Dulu berpikir jaman dulu pararaton, telusuri dari sejarah keluarga kita sendiri , asala mula dari mana?
    kemudian, supaya ga putus kontak dan hilang, hendaknya kita memebuat bukan di internet, buat silsilah cerita negara kita zaman ini pakai batu besar dan di ceritakan sedetail, jadi 1200 tahun mendatang sejarah kita yg sekarnag ga akan lenyap.

    saya salut sama penulis paraton, mamapu membuat jejak. Tapi kita generasi Muda jejak apa yang kita buat? untuk menggambarkan saat ini untuk 200 tahuhn ke depan??? apa cuma menelaah masa lalau n mencemooh???

    tolong di pertimbangkan sebelum menulis. cemooh lah araca di TV , yang memutar balikkan fakta sejarah, terutama sinetron Di IndSR.

    BalasHapus
  11. saya salut atas usaha anda, namun terlepas dari benar tidaknya sejarah dalam kitap pararaton, kita akan tetap mendapat manfaat darinya karena tindakan menulis kitap itu sendiri sudah merupakan peristiwa sejarah yang dapat menunjukkan perilaku/budaya masyarakat pendukungnya terutama dalam aspek religi, adat istiadat, sastra, dan kemampuan menulis.

    BalasHapus
  12. ku pengen ngebuat sript skenario dari cerita ini tapi di padukan dengan unsur fantasi , dan penggabungan dimensi dengan masa depan (masa sekarang), boleh tak?????? kalau boleh mesti harus izin dulu kemana? makasih . salam berkaraya

    BalasHapus
  13. Izin share ke facebook ya... tksh

    BalasHapus
  14. Apalah arti sebuah nama...... 3 generasi sesudah kita mungkin juga akan berdebat tentang Sri Sultan HB IX, apa benar sama dengan Herjuno Darpito... Apa benar bernama Mangkubumi...... Padahal juga orang yang sama....

    BalasHapus
  15. Pencarian yg melelahkan? Emang seberapa dalam Anda menggali referensi dan melakukan pengkajian....

    BalasHapus
  16. kalau mencermati tulisan anda sepertinya hanya emosional kesukuan sahaja,belum seberapa anda mengkaji sudah solah-lah bak profesor sahaja, kita haruslah berhati-hati dalam berkata-kata dalam menulis,anda tak dikenal di forum jurnal sejarah jawa di indonesia dan di leiden,cobalah jangan bertindak terbodoh-bodoh begitu!

    BalasHapus
  17. punten gan! manawi bisa oge dibahas atuh, naskah wangsakerta, wah riweuh pisan eui, kacobalao gan, urang mah rada-rada geli banyak anehnya, tapi kita mah malah kayaknya bangga ya, kaco gan , malu abdi mah, dihampunkeun gan

    BalasHapus
  18. memang saya juga kurang 100 persen percaya mas,dari cutatan sejarah pararaton,karena isinya ada unsur adu domba antar suku2,tertentu...adu domba di masa colonial belanda adalah tekhnik epektif,untuk menghancurkan lawan secara licik,tapi menurut teori aku kitab pararaton tak semuanya salah jga tapi dari segi yg ada mungkin ada perubahan posisi pelaku sejarah di rotasi,atas untuk tujuan tertentu,...dari kata pengarangpun sama kata2 kiasnya seperti sebuah kode...

    BalasHapus
  19. Banyak kisah yang ada di pararaton tidak bersesuaian dengan kisah yang ada di luar daerah pulau jawa, contohnya di sulawesi juga memiliki catatan sejarah yaitu kitab ilagaligo dan sejaman dengan majapahit tidak ada terekam tentang pertempuran antara kerajaan di sulawesi dengan kerajaan di jawa, dan jika kerajaan di luar jawa langsung tunduk dan mengakui majapahit itu sungguh lah mustahil (sebuah kerajaan mau tunduk tanpa sebab yang jelas), jika memang majapahit penakluk nusantara mustahil baginya tidak dapat menaklukkan kerajaan kecil seperti pajajaran di jawa barat

    BalasHapus
  20. bagaimana dengan isi pokok dari prasasti Sangguran tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928.

    menurut ahli epigrafi Boechari, menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari kitab kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa atau biasa kita kenal dengan sebutan Ken Arok, berupa anugerah sima kajurugusalyan.

    dan menurut J.G. de Casparis, kanuruhan berasal dari nama kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di sekitar Kota Malang, tercatat dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi.

    BalasHapus
  21. Salam buat Mas Ejang yang sudah mencoba mengoreksi sebuah sejarah demi kebenaran dari sejarah itu sendiri.
    Tetapi referensihnya sangat minim sekali, sehingga akan menimbulkan kesimpulan yang juga minim, seperti :

    1. Jumlah kapal yang di simpulkan (dari kidung sunda) berjumlah 2000 kapal, besar dan kecil. Sehingga menciptakan hitungan Matematis yang keliru pula. dan terlebih lagi dengan asumsi rakyat dan prajurit yang hadir mengiringi sang raja berjumlah puluhan ribu orang.

    dari sumber dan catatan portugis disebutkan bahwa : pada masa Sri Baduga Maharaja saja, yang nota bene cicit dari Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat, hanya mempunyai 6 buah kapal perang.

    * Catatannya seperti ini :
    di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun.
    Ini adalah catatan sejarah Portugis yang datang tahun 1512 ke Sunda Kelapa dikepalai oleh Panglima Perang berkedudukan di Malaka saat itu, yaitu Alfonso d'Albuquerque yang menandatangani perjanjian kerjasama dengan Putra Mahkota Surawisesa (putra Sri Baduga Maharaja, Raja Pajajaran)dan surat perjanjian itu masih ada tersimpan hingga saat ini.

    * Bayangkan, kapal perang saja (masa sri Baduga) hanya berjumlah 6 Jung. Apa iya masa buyutnya jadi raja, armada perangnya berjumlah ratusan atau ribuan ? ditambah kapal yang di tumpangi raja & pengiringnya ? kesalahan di kidung Sunda ,bisa terjadi karena saat itu informasi tdk seperti sekarang yg ada TV, Telepon dan Internet... Saat itu informasi hanya melalui cerita dari cerita orang (yang entah sudah melalui berapa pencerita).

    2. Kita mau tidak mau harus mengakui bahwa perang bubat benar adanya, berdasarkan sumber sejarah Primer , yaitu Tjarita Parahjangan (Naskah daun lontar yang tersimpan di Perpustakaan Nasional) yang isinya :

    * Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.
    * Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

    kira2 isinya : Prabu Maharaja terkena musibah, terbawa celaka oleh anaknya yang berkemauan tinggi.
    pergi dengan rombongan ke Jawa, karena tdk mau nikah/ punya suami bangsawan disunda, akhirnya perang di Majapahit.
    > Saat itu putra Raja atau Raja, harus menikah dengan Raja pula / Kasta Ksatria harus menikah dengan kasta Ksatria juga.

    3. Pada saat perang bubat terjadi, nama Pajajaran belum ada. yang ada adalah sunda atau Cumda menurut catatan Portugis. Istilah Pajajaran dimulai saat Sribaduga Maharaja menjadi Raja di Pakuan-Bogor atau Dayo menurut Catatan Portugis. dari kata Dayeuh / kota.

    4. Perang Bubat benar adanya, seperti tercantum di Naskah daun lontar: Carita Parahyangan & Naskah Siksa kandang Karesyan yang mengatakan bahwa Prabu Dewa Niskala turun tahta karena melanggar hal tabu/Larangan, yaitu menikahi putri dari Majapahit yang eksodus mengungsi ke Kawali (ibukota Galuh) pasca huru hara di Majapahit yang menjatuhkan Brawijaya V yang dikalahkan pasukan dari Demak & Girindrawardana. Walaupun hal larangan tersebut sekarang tidak berlaku lagi.
    Hanya Saja di seluruh kota di Jawa Barat sampai detik ini, tidak ada satupun nama jalan bernama : jalan Hayam Wuruk, tidak ada nama jalan Gajah Mada, tidak ada satupun nama Jalan Majapahit, karena takut tulah dari para leluhur. yang sedihnya di Bandung enggak ada cabang Bakmi Gajah Mada... hiks..hiks... sedihhh....

    segitu aja....salam


















































    BalasHapus
  22. saudara Enjang ini jelas ini menganalisa artefak dengan ambigu minor.... 1. silahkan mengukur usia kitab pararaton di laboratorium 2. silahkan melakukan cross check dengan situs yg masih ada... misalnya: anda bisa datang ke singosari malang 3. silahkan cross check dengan beberapa kitab lain sejaman sebagai pembanding... anda dapat membaca beberapa jurnal penelian yg telah ada... yang penyusunanya sesuai metoda ilmiah... jangan menyesatkan orang dengan opini anda...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar aja Gan, hak orng kok beropini....emang ada yg pernah mengukur usia kitab pararaton...kalo ada tunjukan hasil pengukurannya gan.....jgn jauh2 coba bandingkan dengan kitab negara kertagama...banyak perbedaan kok....Dalam kitab Negara kertagama tidak ada namanya Ken Arok yg ada Ranggah Rajasa, pada tahun terjadinya perang bubat dalam negara Kertagama rajanya (hayam wuruk) lagi safari ngunjungin desa-desa....gak ada cerita perang disana.....usia Ken Arok saja udh selisih 20 tahun antara Kitab pararaton dengan Negara Kertagama...memang banyak jurnal tapi yang nulis wong londo kebanyakan...ya samalah kepentingannya....sorry gan bukan bantu yg nulis blog ini...pencarian kebenaran hrs terus dilakukan...jgn terpaku pada pakem sejarah yg blm tentu benar....bravo gan....

      Hapus
  23. sebagai tambahan... kitab kuno selalu anomim boss yang pinter..!... dan otentifikasi juga bisa sangat akurat... dari bahasa nya saja dapat diketahui kisaran tahun pembuatanya... dimisalkan: jika anda menemukan koran tahun 1960 an kemudian membaca koran tahun 1980 an.. anda tentu tahu perbedaan bahasanya... gitu boss... gak ngerti ?!! hidup sunda jadi presiden.... wkwkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan ngawur pak Samin, tidak semua kitab kuno itu anonim, anda pernah baca Kitab Negarakretagama, jelas-jelas penulisnya menyebut diri Mpu Prapanca. Kitab Negarakretagama lebih kuno dari Pararaton karena Kitab Negarakretagama selesai ditulis pada tahun 1365 M.

      Bagaimana pak ?

      Hapus
  24. mau ngomong apa saja: intinya orang sunda itu baik orang jawa itu jelek! gitu.....

    BalasHapus
  25. emang gittuuuu....masa sichh..

    BalasHapus
  26. Nama Ken Arok / ken Angrok ada juga disebut2 di buku SERAT KHADIRI yang diterbitkan oleh P & K dicetak tahun 1980-an. Walaupun sumber cerita berasal dari sesuatu yang kurang masuk akal.

    BalasHapus
  27. Ustad Jefri Al Bukhori pernah lama menjadi budak obat bius dan juga Ganja, malah sudah menderita paranoid yang parah, tapi saat meninggal dia adalah orang yang sangat di cintai dan di hormati oleh Masyarakat. Begitu juga Anton medan yang pernah menjadi gembongnya penjahat, di hari tuanya sekarang adalah seorang dai kondang.

    BalasHapus
  28. telusurilah sejarah dgn benar,.... silahkan datang ke situs2 yg masih ada,... agar apa yg di tulis tidak dr angan2-perkiraan,..... tentu kita akan bangga dgn sejarah leluhur kita,... dan jgn menulis tulisan yg mengarah pada kebencian terhadap sejarah,.... sekarang telah mulai banyakkk penemuan candi2 peninggalan masa lalu,..... silahkan di teliti,...... jgn meneliti lewat tulisan di internet,...... terjun langsungke lapangan itu lebih baik,.... krn di situ anda akan menemukan cerita turun-temurun yg bs anda dengar,........

    BalasHapus
  29. "MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA
    Selalu berpijak pada hal-hal realistis dan sistematis logika dalam mensikapi sejarah adalah satu langkah untuk menuju terkuaknya tabir kebenaran sejarah."

    Hal yang perlu diingat adalah: untuk membuktikan kebenaran sejarah
    , tidak hanya cukup berpijak dari hal-hal realistis dan sistematis logika.
    Bukankah tuhan menciptakan seluruh isi Alam Semesta ini meliputi yang Nyata & yang Ghaib ?! { disebut Ghaib karena akal pikir manusia belum/tidak mampu untuk mengungkapnya).
    Salah satu contoh hal Ghaib yang paling dekat, yang mungkin tak kita sadari adalah Hidup kita/Ruh kita. yang berkuasa untuk seluruh raga kita,Sehingga kita mampu berbuat segla sesuatu. Mampukah akal kita untuk menangkapnya? Apakah cukup dengan modal analisa untuk membuktikan kebenaran & keberadaannya?
    kalau hanya mengandalkan logika jangan harap & yakin kita mampu untuk dapat mengungkap tentang kebenaran sejarah.
    Maka...perlu sangat berhati-hati untuk menulisnya.
    Tidak hanya sekedar bermodal kepintaran dalam menganalisa.
    Salam damai.

    BalasHapus
  30. Boleh diperdebatkan, tetapi belum tentu salah kan? Sebab yang anda katakan juga belum tentu benar kok.

    BalasHapus
  31. Kurang mundur lagi baca nya nih mas penulis, kalo mau jelas banget baca dari awal cerita nusantara ini ada dari jaman sriwijaya atau sebelumnya ... hingga ada gambaran sederhana bagaimana sejarah kerajaan di indonesia .
    Bagi saya apapun jalan cerita sejarah setiap kerajaan adalah sebuah jalan panjang proses sebuah negara. Pemahaman dan penyampaian yang baik tidak akan mengkotak kotakan kita menjadi sebuah tulisan provokatif ...
    Maaf agak menasehati ... Soalnya sudah timbul dialog ... SARA. Salam ..

    BalasHapus
  32. Alangkah baiknya kita ambil hikmahnya saja kitab pararaton dll sebagai bukti sejarah di Indonesia, toh adanya kitab pararaton tidak membuat orang Indonesia (jawa dan Sunda) bermusuhan tapi bersatu lewat SUMPAH PEMUDA (mengikuti jejak sumpah palala yang dilakukan patih Gajah Mada untuk mempersatukan NUSANTARA)

    BalasHapus
  33. TERIMA KASIH YG SEBESAR-BESARNYA KPD KY KERAMAT NOMOR YG AKI KASI
    TERNYATA BENAR2 TEMBUS 100%,SY TIDAK SIA-SIA MEMBAYAR MAHAR AWALNYA SY KURANG
    YAKIN KLU ANGKA YG AKI BERIKAN AKAN TEMBUS 100%,TERNYATA SY MENANG ANGKA
    3D .ALHAMDULILLAH MOTOR YG PERNAH KUGADAIKAN 4 BULAN YG LALU GARA2 MAIN
    TOGEL SEKARANG SUDAH BISA KU TEBUS LAGI MALAH SY SUDAH BELI MOBIL DAN SY
    SUDAH PUNYA USAHA, BAGI ANDA YG INGIN MERUBAH NASIB SEPERTI SY HBG,KY KERAMAT
    .DI NOMOR; 0823 5328 5559 ,ATAU KLIK BLOG ASLINYA http://akikeramat.blogspot.com/ ANGKA GHOIB YG DI BERIKAN KY KERAMAT TDK
    PERLU DI RAGUKAN LAGI SY JAMIN 100% TEMBUS SOALNYA SY SUDAH PERNAH MEMBUKTIKANYA
    4X BERTURUT2 MENANG.

    (`’•.¸(` ‘•. ¸* ¸.•’´)¸.•’´)
    «´ Thanks sOb `»
    (¸. •’´(¸.•’´ * `’•.¸)`’•.¸ )

    SELAM KOMPAK SELALU,,,,,,,,,,

    BalasHapus
  34. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  35. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  36. Ini sebagian yg kontra terhadap penulis sepertinya tidak membaca dari awal artikel-artikel sebelumnya (tidak membaca secara merunut). Jgn memilih judul dan membaca yg dianggap menarik saja, tetapi baca dan simak secara merunut artikel-artikel sebelumnya krn esensinya saling berkaitan, sehingga bagi sy terlihat bhw penulis memberikan uraian dan gambaran mengenai pembelokan sejarah nusantara. Penulis jg berupaya menguak sejarah yg belum terungkap, yg bagi sy cukup detail dan masuk akal dgn didukung data dan fakta yg ada. Tidak ada salahnya sejarah nusantara itu utk diungkap kebenarannya, sehingga anak dan cucu kita tidak asal menerima informasi sejarah begitu saja

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.