Selasa, 29 Mei 2012

MARI BELAJAR SEJARAH DARI FILIPINA II

MARI BELAJAR SEJARAH DARI FILIPINA

ANALISA KEPALSUAN SEJARAH FILIPINA

Patut diingat! Yang dianggap palsu sekarang dalam sejarah Filipina, pada masanya merupakan cerita sejarah yang tidak terbantahkan, boleh dikatakan berjaya pada masanya. Dilihat dari waktu kemunculannya dan awal dari kemunculan kontroversi tentangnya, cerita sejarah itu mampu bertahan sekitar setengah abad, kurang lebih 50 tahunan, dan ini adalah rentang waktu yang cukup lama yang berdampak serius terhadap pemahaman dan pengetahuan dari mitos atau legenda itu, dan materi sejarah yang terdapat didalamnya sudah bertahan dan tertanam kuat dibenak masyarakat secara luas.

Berjalannya waktu, itulah lambat laun cerita sejarah yang diduga bahkan terbukti nyata secara ilmiah oleh para ilmuwan sebagai cerita sejarah yang diselimuti oleh kabut kebohongan dan kepalsuan, akibatnya semuanya tersesat, tidak tentu arah akibat kabut yang semakin tebal itu, dan efek terparah adalah sebagian masyarakat sudah menghirup udara yang sudah tercampuri oleh kabut tebal yang tidak bisa dihindari tersebut, apa kejadianya? Timbulnya penyakit, kekebalan mental akibat kabut yang terhirup dan merupakan racun pikiran bagi mereka yang menerima secara membabi buta tentang sejarah tersebut. Begitulah kira-kira gambaranya.

Pada awalnya terasa berat memang, sejarah yang selama ini diagung-agungkan dan dibanggakan sebagai warisan budaya leluhur bangsanya, bahkan sering dijadikan jargon-jargon untuk menumbuhkan semangat kebangsaan atau kepentingan lain, seperti pariwisata dan pendidikan, akhirnya harus menyerah pada kenyataan apa yang selama ini mereka pegang dengan kuat hanyalah seonggok batang lapuk, yang keberadaanya tidak bisa terlalu lama, secara dramatis batang lapuk itu harus dibuang menjadi sampah karena sudah tidak berguna lagi, paling hanya berguna untuk menjadi bahan bakar yang menyulut "api perpecahan".

Sebagai sebuah bangsa, mereka harus menunduk untuk menutupi rasa malu dari pandangan dunia internasional, sirnalah  kebanggan, pudarlah semangat, lemah lunglai menerima beban tak terperikan. Tapi apakah mereka akan selamanya menerima dan menyerah dari keadaan seperti itu. Jawabannya jelas “TIDAK”. Life must go on!

Merangkak, maju walaupun ngesot, sembari membersihkan puing-puing dari sisa-sisa reruntuhan kepalsuan sejarah, sedikit demi sedikit mereka berdiri, kemudian berjalan walau tertatih-tatih, bahkan suatu saat bukan tidak mungkin untuk bisa berlari cepat, sebabnya beban sejarah yang mereka pikul harus berani mereka jatuhkan, dibuang jauh sehingga langkah-langkah berikunya seolah-olah menjadi ringan, dan pada kahirnya mereka telah siap kembali menatap masa depan dengan membusungkan dada dengan bermodalkan kemurnian sejarah yang sudah sedikit demi sedikit mereka bersihkan dari kotoran sejarah yang selama ini menempel dan menyelimuti sosial dan budaya masyarakatnya.

Itulah gambaran dan sikap yang seharusnya diambil, memang meralat sebuah alur sejarah yang seoalah-olah sudah paten, teramatlah sulit, bukan hal yang gampang, karena dengannya akan banyak dampak yang ditimbulkannya, semua yang berkaitan dan mengacu pada hal tersebut harus direvisi, bahkan dihilangkan.

Menurut data yang diperoleh bahwa kepalsuan cerita sejarah di Filipina itu telah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan masyarakat, institusi-institusi pemerintah dan non pemerintah, bahkan kehidupan bernegara lebih luasnya lagi. Mulai dari dunia pendidikan sampai dunia bisnis. Diantara pengaruh Mitos Kode Kalantiaw adalah sebagai berikut:
  1. Pada tahun 1957, sebuah bangunan bekas sekolah di Panay diubah menjadi sebuah "Kuil Kalantiaw" oleh Lembaga Sejarah dan Budaya Filipina dan Kode Kalantiaw kemudian tertulis di sebuah lempeng kuningan. Museum ini bahkan menawarkan sebuah "naskah asli" dari kode tersebut.
  2. Kalantiaw dihormati oleh Angkatan Laut Filipina pada Desember 1967, dijadikan sebagai nama kapal perusak yang beasal dari Amerika Serikat yang kemudian nama diubah menjadi RPS Datu Kalantiaw pada Perang Dunia II, Tapi sungguh tragis kapal itu hilang selama badai topan Clara pada tanggal 20 September 1982.
  3. Pada tahun 1970 sejarawan terkemuka  Gregorio Zaide masih sempat berspekulasi tentang nama asli dari Kalantiaw adalah adalah Kalantiaw Lakan Tiaw atau "Chief of Brief Speech"  dengan Lakan adalah awalan umum untuk nama Tagalog yang berarti "penguasa tertinggi". Sangat luar biasa lagi Zaide bahkan mereproduksi kutipan langsung dari raja mulia, "kalantiaw adalah hukum di atas semua orang". Hal yang sangat mengejutkan bahwa spekulasi Zaide ini dibuat dua tahun setelah adanya kesepakatan para sejarawan mengenai kepalsuan kode Kalantiaw. Inilah gambaran sisa-sisa untuk mempertahan kisah sejarah yang palsu tersebut.
  4. Pada tanggal 1 Maret 1971, Presiden Ferdinand Marcos menetapkan "Orde Kalantiaw", sebuah penghargaan "untuk jasa ke negara itu di bidang hukum dan keadilan" (keputusan pemerintah No 294). Pada tahun yang sama pemenang kontes kecantikan dinobatkan dengan sebutan "Lakambini ni Kalantiaw". Pada tanggal 24 Januari 1973, Marcos juga mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 105 yang menyatakan bahwa Kuil Kalantiaw, dan semua tempat-tempat suci nasional, adalah tempat suci. Keputusan ini melarang semua bentuk penodaan termasuk "suara yang tidak perlu dan tidakan yang tidak pantas dilakukan".
  5. Beberapa sejarawan Filipina sudah membuang jauh-jauh legenda Kalantiaw bahkan sebelum tesis Scott diterbitkan. Bukti tak terbantahkan dari Scott yang membuat yakin para sejarawan bahkan para sejarawan terkemuka sekalipun sepakat untuk menolak sepenuhnya tentang Kode Kalantiaw. Namun anehnya, ada satu pengecualian yang sangat mencengangkan adalah keberadaan sejarwan Gregorio F. Zaide, penulis buku pelajaran sekolah yang tak terhitung jumlahnya tetap berusaha untuk mempertahankan mitos dari kode tersebut. Upaya dari Zaide dilakukan dengan menambahkan rincian sendiri untuk hal kode tersebut buku-buku sepertiHeroes of Philippine History, 1970 “ (Pahlawan Sejarah Filipina),Pageant of Philippine History, 1979“ (sejarah arak-arakan atau karnaval Filipina),History of the Republic of the Philippines, 1983” (Sejarah Republik Filipina), “Philippine History, 1984” (Sejarah Filipina), dan dalam penerbitan ulang dari karya-karya sebelumnya yang lebih tua. Segera setelah kematian Dr. Zaide pada tahun 1986, salah seorang putrinya, Sonia M. Zaide, merevisi buku-buku ayahnya dan dihapus sebagian dengan tulisannya sendiri, tapi tidak semua, bahan bakunya berdasarkan hoax. Apakah ada kepentingan dari Gregorio F. Zaide dan keluarganya? Silakan pembaca tafsirkan sendiri.
  6. Namun demikian, hantu Kalantiaw, begitu para sajarawan Filipina menyebutnya, terus menghantui warga Filipina lebih dari 30 tahun setelah terkena hoax. Mitos Kalantiaw masih terpampang di langit-langit ruang Senat tua di Manila dan pemerintah Filipina masih meberikan tanda penghargaan "Orde Kalantiaw" untuk para hakim pensiunan. Sebuah universitas,"The Central Philippine University”, di Iloilo memiliki sendiri lambang "Orde Kalantiao", sebuah tanda ikatan persaudaraan yang pada prakteknya menjadi pusat perpeloncoan, mengalami insiden serius akibat perpeloncoan itu pada September 2001.
  7. Bahkan Institut Sejarah Nasional memberikan penghormatan terhadap Mitos Kode Kalantiaw pada tahun 1989 dengan memasukkannya kedalam volume 4 dari lima volume sejarah Filipina. The Gintong Pamana (Golden Heritage) Awards Foundation”.
  8. Sebuah proyek dari Majalah Time USA-Filipina, memberikan penghargaan terhadap para pemimpinan komunitas Filipina-Amerika dengan "Kalantiaw Award".
  9. Bangunan, jalan dan ruang perjamuan yang tersebar di seluruh Filipina masih menanggung nama penguasa imajiner Panay, yaitu Datu Kalantiaw. Para wisatawan masih bisa mengunjungi Kuil Kalantiaw di Batan, Aklan atau bahkan melewati sebuah sekolah menengah setempat, Kalantiaw Institute.
Demikanlah hebatnya dari cerita sejarah yang sesungguhnya palsu tetapi sudah mendarah daging dan mempengaruhi pola pikir masyarakat yang berlangsung sekian lama. Pelajaran yang bisa dipetik, walaupun sudah jelas bahwa cerita sejarah itu adalah HOAX, tapi untuk menarik dan memulihkannya kembali ke kondisi benar-benar bersih, tentu memerlukan ketergantungan terhadap proses perjalanan panjang yang mengharuskan cerita kepalsuan sejarah itu sendiri lekang oleh perubahan waktu, tapi langkah yang paling tepat harus dibarengi oleh usaha keras dari para ilmuwan untuk percepatanya

1 komentar:

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.