Rabu, 27 Juni 2012

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN I

SENI PERANG ALA JENGHIS KHAN

C.  Mobilitas atau Kemampuan Bergerak Pasukan

Setiap tentara Mongol biasanya memiliki dan memelihara 3 atau 4 ekor kuda. Personil pasukan sering melakukan pergantian kuda saat perjalanan dengan kecepatan tinggi selama berhari-hari tanpa berhenti. Kemampuan mereka untuk bertahan hidup dari alam sekitarnya dan dalam situasi yang ekstrim mereka mengandalkan hewan peliharaanya (terutama susu kuda), membuat tentara Mongol jauh lebih sedikit dari ketergantungan kepada petugas pemasok logistik kebutuhan pangan secara tradisional. Dalam beberapa kasus, seperti selama invasi dari Hungaria pada awal 1241, mereka melakukan perjalanan hingga 100 mil (160 km) per hari (24 jam), yang pada masa itu tidak pernah pernah terdengar ada pasukan yang mampu melakukannya.

Kemampuan bergerak prajurit secara individu memungkinkan untuk mengirim mereka pada misi untuk berhasil mengumpulkan informasi intelijen tentang rute dan mencari daerah untuk medan perang sesuai dengan taktik tempur yang disukai pasukan Mongol.

Selama invasi atas Kievan Rus, bangsa Mongol menggunakan sungai beku sebagai jalur lintasnya. Musim dingin ini seharusnya tahun-tahun dimana masa terlarang untuk setiap kegiatan utama karena sungguh sangat dingin, tetapi bagi bangsa Mongol menjadi waktu yang digunakan untuk menyerang.

Untuk menghindari hujan panah atau senjata yang mematikan dari tentara Mongol, lawanya mengantisifasi dengan cara menyebar atau mencari perlindungan, dengan memecah formasi membuat lawanya lebih rentan terhadap incaran para pasukan ahli mengunakan tombak dari pasukan Mongol. Demikian halnya juga kalau lawanya tergabung dalam satu induk pasukan besar, mereka akan menjadi lebih rentan lagi terhadap serangan pasukan pemanah.

Setelah musuh dianggap cukup lemah dan terpencar, para Noyan (panglima pasukan) akan memberikan isyarat. Maka drum akan ditabuh dan diikuti isyarat dari bendera, ini tanda bagi para pasukan yang ahli mengunakan tombak untuk memulai tugas mereka. Seringkali, kehancuran dengan serbuan hujan panah pun sudah cukup untuk mengusir lawannya, sehingga pasukan ahli-ahli tombak hanya diperlukan untuk membantu mengejar dan menyergap sisa-sisa pasukan lawan yang pontang-panting kabur, menyelamatkan diri.

Ketika menghadapi tentara Eropa, yang lebih menekankan bentuk formasi kavaleri berat, tentara Mongol akan menghindari konfrontasi langsung, dan sebaliknya akan menggunakan busur mereka untuk menghancurkan kavaleri musuh pada jarak jauh. Jika baju besi bertahan dari serangan panah mereka, bangsa Mongol akan menyerang kuda-kuda para ksatri, sehingga hanya meninggalkan seorang pria berat lapis baja dengan berjalan kaki dan terisolasi dari yang lainya. Alhasil kesatria-kesatria itu menjadi bulan-bulanan dan santapan lezat para pembantai yaitu pasukan Mongol

Pada Pertempuran Mohi, tentara Mongol membuka celah di barisan mereka, hal ini tentunya memikat orang-orang Hongaria untuk mundur melalui celah itu. Hal ini mengakibatkan Hungaria yang terdiri dari pedesaan yang telah dihancurkan sebelumnya menjadi tempat pelarian bagi mereka yang melarikan diri dari pertempuran dan inilah saatnya bagi para pemanah pasukan mongol yang bersembunyi dibalik gunung, yang hanya dengan memacu kudanya secara serentak lalu menghabisi mereka, sedangkan pasukan ahli tombak ditusuk menusuk dengan seenak hatinya. Pada pertempuran Legnica, para kesatria berkuda Teutonik, Templar dan Hospitaller hanya sedikit yang mampu berdiri turun dari kudanya yang terbunuh akibat diserang pasukan Mongol, dan tidak bisa berjalan apalagi berlari dengan cepat. Jelas! Terang saja ketidakbebasan bergerak ini akibat pakaian perang yang digunakan dan dengan demikian para pasukan pemanah Mongol memastikan mereka dihabisi semua.

C.   Pelatihan dan Disiplin

Unit regu pasukan tentara Mongol terus menerus  berlatih baik menunggang kuda, memanah, atau taktik formasi dan rotasi tempur. Pelatihan ini dikelola dengan disiplin keras, tapi bukan berarti kasar atau pelatihan yang tidak masuk akal, latihan yang manusiawi, tapi intinya yang membuat mereka tangguh adalah displin akan latihan itu sendiri.

Pejabat teras seperti biasanya diberi kelonggaran luas oleh atasan mereka dalam melaksanakan perintah yang mereka jalankan, selama tujuan yang lebih besar dari rencana itu dilayani dengan baik dan perintah segera dipatuhi. Sehingga tentara Mongol terhindar dari disiplin yang terlalu kaku dan micro management inilah yang telah terbukti menjadi momok untuk angkatan bersenjata sepanjang sejarah. Namun, semua anggota pasukan harus setia dengan tanpa syarat atas satu sama lain dan terlebih kepada atasan mereka, dan lebih jauh lagi terutama terhadap Khan, Kaisar Mongol. Jika seorang tentara lari dari situasi bahaya dalam pertempuran, kemudian ia dan sembilan rekannya dari arva (kelompok terkecil dari pasukan seperti disebutkan sebelumnya) akan menghadapi hukuman mati bersama-sama.

Salah satu metoda pelatihan unik yang orang Mongol gunakan adalah dengan cara melakukan berburu dengan sekala besar, diselenggarakan setiap tahun di stepa (area daratan luas yang terdiri dari semak belukar). Para penunggang kuda Mongol akan membuat lingkaran besar, dan mengusir segala macam binatang kemudian digiring menuju pusat perburuan. Hal ini melatih bergerak manuver secara dinamis yang sangat diperlukan juga saat di medan perang, bangsa Mongol akan menjebak semua binatang dari berbagai jenis dalam pengepungan mereka, dan atas perintah komandan mereka, mulai pembantaian. Jika pemburu membunuh setiap makhluk sebelum waktu yang ditentukan, atau jika ada satu binatang yang memungkinkan untuk melarikan diri dari cincin lingkaran perburuan, mereka akan dihukum. Dengan demikian bangsa Mongol mampu melatih, menikmati rekreasi berburu, dan sekaligus mengumpulkan makanan untuk pesta besar-besaran.

D. Kavaleri atau Pasukan Tempur Berkuda

Enam dari setiap sepuluh tentara Mongol merupakan pasukan kavaleri ringan, pemanah berkuda, empat sisanya termasuk kavaleri berat berat karena berbaju  lapis baja dan ahli bersenjata tombak. Boleh dikatakan bahwa tentara Mongol adalah pasukan kavaleri ringan bahkan sangat ringan dibandingkan dengan standar kavaleri kontemporer, yang memungkinkan mereka untuk mengeksekusi taktik dan manuver yang akan menjadi tidak praktis untuk musuh yang lebih berat (seperti ksatria Eropa). Sebagian besar pasukan yang tersisa 2/5-nya adalah kavaleri berat dengan bersenjatakan tombak untuk pertempuran jarak dekat setelah pasukan pemanah yang telah membawa musuh ke dalam situasi kekacauan. Pasukan pemanah ini juga biasanya secara otomatis bisa melakuan pertempuran jarak dekat dengan senjata pedang, kapak atau senjata tempur jarak dekat yang lainya.

Pasukan tentara Mongol melindungi kuda-kuda perang mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan atas diri mereka sendiri, menutupi mereka dengan baju besi pipih. Baju besi kuda dibagi menjadi lima bagian dan dirancang untuk melindungi setiap bagian dari kuda, termasuk dahi, yang memiliki plat khusus yang dibuat dengan cara diikat di setiap sisi leher.

Kuda perang pasukan Mongolia relatif kecil, dan akan kalah berlalri pada jarak pendek jika adu tanding balapan dalam kondisi yang sama dengan kuda yang lebih besar dari daerah lain, khususnya di Eropa. Namun demikian, karena tentara lawanya yang berjalan perlengakapan perang yang jauh lebih berat, kuda pasukan Mongol masih bisa berlari lebih cepat dari pasukan berkuda musuh dalam situasi pertempuran. Selain itu, kuda perang pasukan Mongolia yang sangat tahan dikendarai lama dan kokoh, yang memungkinkan pasukan Mongol untuk bergerak jarak jauh secara cepat, terkadang lawannya sering dikejutkan dengan serangan tiba-tiba padahal mereka memprediksi dengan perhitungan waktu mereka sendiri masih kisaran beberapa hari lagi atau minggu kemudian  atas kedatangan pasukan Mongol. Hal ini memberi efek kejut yang luar biasa, itulah salah satu keunggulan dari tentara Mongol.

Semua kuda yang dilengkapi dengan sanggurdi (tempat menyimpan panah). Ini keuntungan teknis membuat lebih mudah bagi para pemanah Mongol untuk mengubah tubuh bagian atas mereka, dan menembak ke segala arah, termasuk ke belakang. Prajurit Mongol akan mengatur waktu untuk setiap bilangan dari panah yang dilepaskan, dan dari ketinggian kurang lebih antara 2-3 meter dari tanah, parajurit itu bisa mempredikisi jarak dengan lawan dari mendengar derap kuda yang ditimbulkan sehingga mampu memastikan baik sasaran tembak dengan mantap

Setiap prajurit memiliki dua sampai empat ekor kuda sehingga ketika kuda yang dipakai sudah lelah mereka bisa menggunakan yang lain dan itulah yang membuat mereka merupakan salah satu tentara tercepat di dunia. Namun, ini juga membuat tentara Mongol rentan terhadap kekurangan pakan ternak; terutama jika ekspedisi penyerangan dilakukan di daerah kering atau hutan, dengan demikian membawa kesulitan tersendiri dan bahkan di daerah padang rumput yang ideal pun, pasukan Mongol harus terus bergerak untuk memastikan cukup persediaan rumput sebagai pakan untuk ternak kuda yang begitu besar jumlahnya, 2-4 kali lipat dari jumlah pasukan meraka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.