Senin, 04 Juni 2012

KEPUTUSAN POLITIK SANG JOKO DOLOG II

KEPUTUSAN POLITIK SANG JOKO DOLOG


BAHAN MATERI PRASASTI WURARE, MAHAKSOBYA

Tentunya bahan materi ini diambil dari tulisan yang terdapat dibawah Arca Mahaksobhya, tepatnya dibidang lingkar di bawah tempat arca itu dengan posisi duduk, berikut isi dari prasasti tersebut yang dikenal sebagai prasasti Wurare atau Joko Dolog adalah sebagai berikut:.
  1. adāu namāmi sarbājña, jñānakayan tathāgata, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakawarjjita.
  2. anw atas sarwwasiddhim wā, wande'hang gaurawāt sadā, çākakālam ida wakye, rajakïrttiprakaçana.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharā abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweu kāruātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāān tu, dwaidhïktya yawāwanlm, kitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
  6. nrpayo yuddhākaiikinoh, estāsmaj janggalety eā, pamjaluwiayā smtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-winuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakanārtham wā pitrādhithāpanāya ca
  10. yathaiwa kitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratithāpya, swaya purwwam pratithitam, çmāçane urarenāmni, mahākobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaāke, pañcayām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane witisaskrte, anurādhe'pi naksatre, mitre ahendramandale
  16. saubhāgyayogasabandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisayute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto'ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno'pi samuho, dharmmakriyāw atatparah
  19. dhārmmadhyakatwam āsādya, krpayaiwāsj'a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah
Terjemahan dan tafsiran yang diambil dari T Simpang. - Kern, in V.G., VII (1917), pp. 190ff.; sanskrit text from Chatterji, pp. 185-86. - Chatterji, pp. 187-88; cf. Brandes in: Notulen Bat. Gen. (1898) adalah sebagai berikut:

1. First of all I revere the Tathagata, the omniscient and the embodiment of all knowledge, who lies hidden in all the elements (skandhas) and who is devoid of association with things existing or non-existent.
2. Next do I honour, respectfully, the universal success und shall (then) narrate (the following history connected with) the Saka era describing the glory of kings.
3. The venerable Bharad, the lord amongst sages and the best of learned men, who, in ancient times, through his experience, obtained (perfection in) knowledge and thus acquired the supernatural faculties (abhijna).(*1)
4. Who was the lord of the great yogins, calm and compassionate towards living beings, who was a Siddha teacher, a great hero and who was devoid of the stains of attachment, etc.
5-6. Who divided into two the land of Java which was as extensive as the sea, by means of the water pot (kumbha), vajra and water(*2) (?) which had the power of breaking up the earth and (gave them to) the two princes who, out of hostility, were bent on strife - therefore this Jangala is known as the Pamjalu vishaya.
7-9. But, hereafter the lord Jayasrivisnuvardhana - who had as his spouse Sri Jayavardhani, who was the best among the rulers of the earth, who was pure in body from his (very) birth, who was compassionate and exclusively devoted to the Law, who caused delight to (other) rulers through his pure fame and valour - again united this land to the delight of the people in order to maintain the Law and to establish(*3) his ancestors and ruled it (with justice).
10-12. The sage of a king named Sri Jnanasivavajra, the son of Sri Harivardhana and Sri Jayavardhani, was the lord of the four islands, was full of boundless knowledge, was the best of those knowing the Law and was the instructor in the code of laws, whose mind was his jewel-ornament and who was eager to do the work of repairing (religious institutions), whose body was purified by the rays of wisdom and who was fully versed in the knowledge of sambodhi - was like Indra among the rulers of the earth.
13-17. Having set up with due devotion the statue of him (i.e., the king ?) who was already consecrated (as such ?) in the shape of Mahakshobhya, in the year 1211 of the Saka era in the month of Asuji (Asvina), on the day known as Pa-ka-bu, the fifth day of the bright half (of the month), in the parvan named Sinta and the karana vishti, when the nakshatra Anuradha was in the orb of Indra, during Saubhagya yoga and Saumya muhurta and in Tula rasi - for the good of all beings, and foremost of all, for that of the king with his wife, son and grandson, owing to his bringing about the union of the kingdom.
18-19. I, his (i.e. king's) humble servant, who is known by the name of Nadajna, and though ignorant, devoid of learning and little inclined to pious deeds, was made through his grace alone the superintendent of religious rites, have prepared this description by order of Vajrajnana (?).(*4)
(*1) Refers to supernatural faculties of Buddha: to take any form, to hear from any distance, to see to any distance, to read the thoughts of men, to know about their situation.
(*2) The sense of vajra - and how the division came about - is not clear.
(*3) Sthapana probably refers to erecting (an image), maybe of ancestors.
(*4) Translation only coniectural.

Terjemahan dan tafsiran bebas dari penulis, mohon koreksi dari pembaca kalau ada kesalahan, soalnya penulis belum terbiasa mengunakan bahasa Jawa Kuno-Kawi apalagi bahasa Sansekerta, alih-alih gak bisa hehehe, makannya ngikutin terjemahan bahasa Inggris diatas aja dah, dicoba ya, sebagai berikut:

1. Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata (Pencipta), Sang Maha Tahu yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan keniscayaan.

2. Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang menggambarkan kemuliaan raja.

3. Adalah Arya Bharada yang Terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu, berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan supranatural).

4. Terkemuka diantara para yogi besar, yang hidupnya penuh ketenangan, penuh kasih dan mahluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.

5-6. Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (Kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – olehkarena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).

7-9. Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang mempunyai pramesuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.

10-12. Tersebutlah, Seorang Raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra (red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan agama Buddha) – layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah di bumi.

13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (Arca) setelah pengabdiannya sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi - demi kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.

18-19. Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk mempersiapkan kisah ini.

Seperti biasa cuma data tho....hehehe, lanjut aja kebagian Analisa Materi, pembaca mau liat teks asli dalam bahasa Jawa Kuno-Kawinya? Silakan klik disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.