Senin, 04 Juni 2012

KEPUTUSAN POLITIK SANG JOKO DOLOG I

KEPUTUSAN POLITIK SANG JOKO DOLOG

LATAR BELAKANG PERTAMA

Pada akhir masa pemerintahan Raja Airlangga, (raja keturunan Bali, memerintah tahun 990-1049 Masehi) Kerajaan Medang, daerah kekuasaannya terbagi menjadi dua, Kerajaan Panjalu (Pamjalu) disebelah barat dan Jenggala disebelah timur, batas wilayah antara keduanya adalah sepanjang Kali Brantas yang berasal dari Gunung Kelud dan Gunung Semeru dengan luas Daerah Aliran Sungai-nya (DAS) 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jawa Timur dan berakhir di Muara sungai Porong, terkenal dengan Delta Mas Kali Brantas.

Tujuan dari pembagian wilayah kerajaan ini tiada lain adalah untuk menghindari terjadinya konflik keluarga kerajaan, perang saudara diantara keturunan raja Airlangga. Tapi pada kenyataanya, walaupun niat baik itu dilakukan dengan maksud perdamaian dengan cara-cara dirasa cukup adil, tapi tetap saja kedua belah pihak saling mengklaim sebagai pewaris kekuasaan tunggal Kerajaan Medang, perang saudara pun terus berkelanjutan, saling mengalahkan bergantian, sampai pada kisaran tahun 1144 saka atau 1222 Masehi, kerajaan-kerajaan itu dikuasai oleh Panjalu, nama kerajaan yang pada akhirnya, saat itu, telah berubah menjadi Kerajaan Kediri dengan nama rajanya Kertajaya (nagarakertagama pupuh 44 bait 2).

Mitos pembagian darerah ini diberitakan pula oleh Naskah Nagarakertagama, berita itu sebagai berikut:

Pupuh ke- 68
  1. nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu.
  2. wanten bodda mahayanabrata pgat/ riɳ tantra yogiçwara, saɳ mungwiɳ tnah i çmaçana ri lmah citrenusir niɳ jagat, saɳ prapteɳ bali toyamargga manapak/ wwainiɳ tasik nirbhaya, kyatiɳ hyaɳ mpu bharada woda ri hatitadi trikalapageh.
  3. rahyaɳ tekhi pinintakasihan amarwaɳ bhumi tan langhyana, inanyeki tlas/ cinihnanira toyeɳ kundi sankeɳ lanit, kulwan/ purwwa dudug rin arnnawa maparwaɳ lor kidul tan madoh, kadyadoh mahlet/ samudra tewekiɳ bhumi jawa rwa prabhu.
  4. nkai riɳ tik/ tiki wrksa rakwa sutapararyyan/ sankeɳ ambara, naɳ deçeɳ palunan tikaɳ pasalahan/ kundi praçasteɳ jagat, kandeg/ deni ruhur nikaɳ kamal i puñcaknyanawit/ ciwara, na hetunya sinapa dadyalita tekwan/ mungwiri pantara.
  5. tugwangöh nika tambayiɳ jana padars mintareɳ swasana, etunyan/ winanun sudarmma waluyaɳ bhumi jawatungala, sthityaraja sabhumi kawruhananin rat (122b) dlaha tan lingara, cihna çri nrapatin jayeɳ sakhalabhumin/ cakrawartti prabhu.
Tafsir dan terjemahan menurut Prof. DR Slamet Mulyana, sebagai berikut:
  1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Erlangga kepada dua puteranya.
  2. Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.
  3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
  4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam, Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan, Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah, Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
  5. Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui, Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi, Semoga Baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada, Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu.
Tercatatlah seorang yang bernama Arya Bharada, disebut juga Mpu Bharada adalah penasihat keagamaan dari Airlangga, peristiwa itu seolah-olah ingin menggambarkan bahwa pembagian kerajaan menjadi dua kerajaan itu sudah mendapatkan restu dari Sang Maha Pencipta, dengan berpatokan pada hal tersebut diharapkan semua pihak bisa menerima pembagian tersebut, karena bukan hanya keinginan Airlangga, tetapi kehendak Langit.

Jika benar apa yang disampaikan oleh Nagarakertagama, rasionalisasi untuk hal ini, terlihat jelas bahwa Mpu Bharada seolah-olah diutus ke Bali oleh Airlangga untuk mencari sumber ilham tentang cara terbaik, adil dan mempertimbangkan luas wilayah pembagian yang dihitung pantas untuk kedua kerajaan yang akan dibentuk nantinya.

Perlu dicatat ini tujuan kamuflase, strategi dari Raja Airlangga. Kita tidak harus berpatokan terhadap alur kisah pupuh 68 diatas, soalnya itu adalah pengkisahan, alias konon katanya, artinya penceritaan dari pengarang Nagarakertagama memberikan alur cerita secantik mungkin atau Se-Lebay mungkin hehehe.

Eitsss, ada cerita sisipan nie.....tentang asal muasal pohon asam kenapa kerdil, di pupuh 68 tersebut diceritakan karena disebabkan oleh kekesalan Mpu Bharada yang kainnya terkait oleh pohon asem ketika terbang sehingga marah dan mengutuk pohon asem jadi kerdil. Terlihat jelas bahwa ini adalah hayalan nyata dari pengarang Nagarakertagama, Patut diingat pohon asem bukan di Jawa saja kan? Hehehe, diseluruh dunia pun ada, apa dikutuk juga oleh Mpu Bharada? Jelas fiksi, jangan dipikirin terlalu seriuslah, nyatai aja. Sungai di Indonesia terlalu banyak, ntar kecapaian sang Mpu terus-terusan terbang hehehe. Sebenarnya pinter juga yang bikin kisah, air suci si pemutus bumi tiada lain adalah hujan....ya emang bener alias emberr kalo getoohhh.

Nama Mpu Bharada muncul juga dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah. Raja lawan seorang janda...cekcekcek...ada-ada aja hehehe

Dikisahkan pula Mpu Bharada dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun, wooowww! Kerennn Boo, kaya kisah Aladin, bedanya Aladin bisa duduk nyaman diatas karpet, nah Mpu Barada bisa-bisa pegel, kalau duduk takut basah kena air hehehe. Maaf pembaca, bukan penulis melecehkan hal-hal seperti ini, tapi tolonglah cerita ini jangan dimaknai benar adanya. Biarkan kisah ini keberadaanya hanya sebagai kisah fantasi yang menghiasi dunia tidur anak-anak.

Perlu digaris bawahi kembali bahwa cerita ini sekali lagi menegaskan bahwa pembagian wilayah sudah direstui oleh kehendak Sang Pencipta, sehingga kedua belah pihak, masyarakat beserta seluruh komponennya harus menerima kenyataan ini. Siapa pun itu, bagi yang melanggar harus siap-siap menerima sangsi agama, kasaranya berarti harus berurusan dengan akhirat kelak.

Sampai disini apakah sudah clear pembaca yang budiman? Gak jelas juga, ya lanjutin aja lah ke bagian selanjutnya latar belakang yang kedua hehehe.

LATAR BELAKANG KEDUA

Pada tahun 1211 saka atau 1289 Masehi, Raja Kertanegara kedatangan tamu asing, tiada lain panglima Men Shi atau Meng-qi (孟琪) beserta rombongan lainya sebagai utusan dari Kerajaan Mongol. Jumlah pimpinan utusan utama bertiga, termasuk pimpinan utamanya Men Shi dan konon katanya bahwa salah satu diantara mereka bertiga itu mendapat perlakuan tidak manusiawi, dianiaya oleh Sri Kertanegara sebagai bentuk penolakan untuk tunduk dibawah perintah atau kontrol dari Kekaisaran Mongol yang Agung, Sang Kubilai Khan.

Raja Kertanegara sendiri adalah raja keturunan ke-4 dari Dinasti Rajasa, dengan raja pertamanya Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, Kerajaan Tumapel yang kemudian berubah namanya menjadi Singosari seiring kepindahan kotaprajanya ke Singosari yang akhirnya nama ini lebih dikenal menjadi nama kerajaan, lalu kemudian Majapahit masih merupakan satu garis keturunan raja-raja dengan nama Dinasti Rajasa. Diawali perebutan kekuasaan tahun 1222 Masehi oleh Sri Rajasa terhadap penguasa Kerajaan Kediri (Panjalu), Kertajaya.

Proses perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Sri Rajasa, tidak lah sepenuhnya clear, bersih atau sempurna alias paripurna. Tapi tetap menimbulkan gejolak politik yang terus membayangi kerajaan baru itu dalam perjalannya, tentunya dari sisa-sisa basis kekuatan yang dikalahkan. Terbukti dari beberapa peristiwa pemberontakan yang dilancarkan dan masih terdapatnya bahaya laten dari keturunan para penguasa yang notabene dulunya ditaklukan tetapi tidak dimusnahkan.

Apa yang dilakukan oleh Sri Kertanegara dengan menikahkan putrinya dengan anak Jayakatwang, Pangeran Ardharaja adalah kebijakan untuk meredam bahaya laten itu sendiri, dengan metode melakukan perkawinan atas dasar kepentingan politik.

Kembali lagi ke masalah penghinaan utusan tentara Mongol, tindakan itu merupakan genderang perang yang sudah terlanjur ditabuh oleh Sri Kertanegara terhadap pasukan besar Kekaisaran Mongol, artinya Singosari harus segera dan sudah siap-siap dengan segala resiko untuk mempertahankan diri dari serangan yang diperkirakan tidak akan lama lagi tiba. Situasi seperti inilah yang memaksa Sri Kertanegara berpikir keras, merencanakan strategi, melakukan berbagai manuver dan langkah politik baik itu ke dalam negeri dan ke luar negeri.

Langhah politik ke dalam negeri, Sri Kertanegara harus segera mendapatkan solusi menangani konflik atau ancaman disintegrasi dari bangsanya sendiri. Langhah politik ke luar negeri, Sri Kertanegara harus segera melakuan lobi politik ataupun penghimpuan kekuatan yang didukung oleh kerajaan lain di nusantara.

Penghimpunan kekuatan itu dilakukan dengan perintah Ekspedisi Pamalayu, salah satu program kebijakan politik luar negeri yang dicanangkan oleh Kertanegara jauh-jauh hari, sejumlah kekuatan pasukan besar Singosari dikerahkan keluar negara untuk menunjukan superioritas kerajaan, dengan harapan selain perluasan wilayah juga cara ini tidak akan banyak perlawanan berarti dari kerajaan-kerajaan lain, dan kerajaan lain akan tunduk dengan sendirinya, tanpa harus melakukan perang. Pada saat menyatakan perang inilah rintisan yang sebelumnya sudah dibuat harus dihimpun kembali segera, dan Ekspedisi Pamalayu semakin ditingkatkan.

Tapi apapun bentuk kebijakan politik luar negeri haruslah terlebih dahulu membereskan perpolitikan dalam negeri, harus mendapat dukungan politik dari masyarakatnya, dan akhirnya faktor dalam negeri inilah terlebih dahulu harus diyakini tidak akan bermasalah. Maka dengan ini disinyalir bahwa yang menjadi sebab mengapa dilakukan penobatan Sri Kertanegara sebagai Jina (Budha Agung) dengan dilambangkan oleh patung atau arca Mahaksobhya atau seperti diawal artikel lebih dikenal dengah nama JOKO DOLOG untuk sebutan Arca Mahaksobhya ini.

Baik. Selanjutnya akan dibahasa bahan materi tentang prasasti Wurare yang lebih terkenal dengan patung Joko Dolog. Tentu akan ada hubungannya dengan latar belakang yang barusan dibahas. Mulai serius nie....hehehe

5 komentar:

  1. salut utk penulis.
    maaf rupanya penulis memahami benar " laku Jawa ". sehingga pemisahan wilayah, kemampuan Mpu Bharada seperti hal yg fiktif.
    mohon perdalam " laku Jawa " yang Hinggil.
    referensi saja, sekarang masih banyak pinisepu desa awan hujan diminggirkan. untuk hajatan semntara cuaca bisa terang.
    dengan kondisi modern kemampuan itu masih ada.
    sedikit pengingat, kalau penulis berkelana benar.
    masih ada di wilayah Indonesia manusia seperti berkelebat antar pohon di nutan. masih ada manusia berjalan diata sungai.
    maaf beliau manusia lungit,myg sudah menghindari keramaian modernitas.
    sekedar refernsi " laku Jawa ".

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.