Sabtu, 19 Mei 2012

KERAJAAN MEDANG, PENAKLUK NUSANTARA III

KERAJAAN MEDANG, PENAKLUK NUSANTARA JILID II

ANALISA BAHAN MATERI II
Diawal sudah dipertanyakan mengenai hilangnya catatan sejarah mengenai raja-raja Sriwijaya kisaran tahun 860-960 Masehi, ini menandakan adanya indikasi telah terjadi peralihan kekuasaan dan mungkin bisa jadi terjadinya penaklukan besar-besaran dari kerajaan Medang terhadap Sriwijaya, setelah penaklukan bisa jadi ada kebijakan dari raja Kerajaan Medang untuk mempeti-eskan raja Sriwijaya dan diangkat perwakilan Kerajaan Medang dikerajaan tersebut. Masa penaklukan Medang atas Sriwijaya ini berlangsung selama kurun waktu 100 tahun, itu yang pertama. Tolong perhatikan angka jumlah tahun yaitu 100, itu menunjukan waktu yang sangat lama untuk sebuah dinasti berkuasa (kerangka berpikirnya seperti itulah). Bandingkan dengan Dinasti Rajasa, cikal bakal Majapahit atau masa jaya Majapahit sendiri, berapa lama? dan bandingkan pula dengan kekaisaran Mongol, Genghis Khan yang hanya bertahan sekitar 150 tahun.


Kedua, terhentinya informasi sejarah mengenai kelanjutan raja-raja di Kerajaan Khmer, yang menguasai wilayah Kamboja dan Vietnam, dengan raja terakhir Yasovarman I yang masa kekuasaannya berakhir sampai tahun 900 Masehi dan muncul lagi tahun 1002 Masehi, dengan kurun waktu 102 tahun lamanya, ini bisa menandakan telah terjadi ekspansi kekuasaan dari Kerajaan Medang sedang berlangsung, dugaannya seperti itu, terbukti dengan adanya prasasti Laguna di Philipina yang tercatat 900 M, persis sama dengan berakhirnya kekuasaan Yasovarman I, artinya Kerajaan Medang bermaksud menganeksasi bekas wilayah Kerajaan Sriwijaya sebelumnya, dan ini berhasil, soalnya untuk menaklukan Philipina, harus terlebih dahulu menaklukan kerajaan Khmer. Dalam berita Arab (catatan saudagar orang Arab, Ibn Khurdadhbih, dengan Kitab al-masalik w'al-mamalik), Sriwijaya menguasai juga daerah-daerah Indonesia bagian timur, kerajaan-kerajaan di pulau Maluku, dan sekitarnya, termasuk Sulawesi juga pastinya.

Di wilayah Kamboja dan Vietnam sendiri kerajaan besar yang ada adalah Khmer, kerajaan kerajaan selanjutnya yang berdiri sendiri seperti Champa, Syanka dan Annam, itu baru muncul (diperhitungkan sebagai kerajaan besar) keberadaanya kisaran abad ke-11 sampai pada masa kekuasaan Majapahit, dan berabad-abad lamanya wilayah Kamboja dan Vietnam ini berada dalam kekuasaan kerajaan dari Jawa, Zabaj (istilah menunjuk Sumatera dan Jawa pemakaian nama kerajaan Zabaj, istilah dari Ibn Khurdadhbih, atau Dinasti Sailendra istilah kita), pada masa Sriwijaya di Sumatera digabung dengan kerajaan di jawa, keduanya dibawah kekuasaan Dinasti Syailendra.

Terakhir mereka, bangsa Khmer memerdekakan diri pada tahun 802 Masehi, Pangeran Khmer Jayavarman II, yang dilahirkan dan dibesarkan di istana kerajaan Jawa pada masa Dinasti Sailendra, menyatakan bahwa wilayah yang didiami oleh bangsa Khmer, lepas dari Jawa. Dan kemudian mendirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Angkor. Karena melihat Sriwijaya sudah mulai melemah, dan ini indikasi bahwa mulai ada perubahan kekuasaan ke pada pihak lain.

Pangeran Javawarman II dinobatkan sebagai Devaraja (tuhan raja) oleh seorang pendeta Brahmana. Pada tahun-tahun berikutnya, Jayavarman II berkali-kali memindahkan ibu kotanya. Pertama-tama di Indrapura (sebelah timur Kampong Cham), kemudian ke Wat Phou (sekarang Laos ujung selatan) dan terakhir di Rolous (dekat Angkor). Pada tahun 889 Masehi, seperti disebutkan sebelumnya, Yasovarman I menjadi raja Khmer, gelar yang berbeda. Dia mulai membangun Angkor, yang kemudian berganti nama menjadi Yasodharapura. Raja Yasovarman I memerintah sampai tahun 900 Masehi. Kok angka Romawi I, mana yang Romawi II? inilah yang penulis bingung menjawabnya, soalnya tidak ada data, jujur, belum ketemu, tahu-tahu muncul muncul tahun 1002 Masehi dengan nama Raja Suryavarman I, hadooh lagi-lagi Romawi, hehehe, seneng bener orang Kamboja bikin nama pake bilangan Romawi.

Ada cerita, di sebagian wilayah Vietnam dan Kamboja, cara orang tua menakut-nakuti anak yg nakal adalah: "jangan nakal atau manusia Jawa akan menculik dan memakanmu". Penyebabnya adalah di sekitar tahun 790 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno yang berada dibawah kekuasaan Dinasti raja-raja Syailendra tercatat pernah menginvasi sebagian wilayah Vietnam dan Kamboja, dan menurut berita arab yang disampaikan Abu Zaid 916 M, bahwa raja Khmer kepalanya dipenggal dan dibalsem, hal ini untuk sock terapi bagi para penduduk Vietnam dan Kamboja untuk tidak melakukan pemberontakan.

AKHIR DAN KESIMPULAN

Artikel ini dengan analisa dibagian sebelumnya, akhirnya memberanikan diri, bahwa memang telah terjadi penaklukan nusantara pada kisaran abad ke-9, yang ditandai dengan penemuan prasasti diwilayah Filipina yang dinamakan Prasasti Laguna, yang memberikan informasi bahwa kerajaan Tudong, mengakui akan kebesaran kerajaan Medang.

Tercatatlah raja  Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu, sebagai maharaja yang mampu menaklukan nusanatara, tapi ini bisa jadi diawali oleh raja-raja Medang sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah kurun waktu yang sangat lama dari 860-960 Masehi, ditambah depan belakang menjadi sekitar kurang lebih 125 tahun, dan itu adalah waktu yang cukup bagi kerajaan Medang untuk melakukan persiapan, dan kelanjutan segala sesuatunya dalam hal menaklukan nusantara.

Kemunduran lagi Kerajaan Medang ditandai dengan mulai muncul lagi raja Sriwijaya 960 Masehi, sudah disebutkan pada bahasan sebelumya siapa nama raja tersebut dan munculnya lagi kerajaan Angkor di Khmer akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, dengan kehadiran raja Suryavarman I, 1002 Masehi.

Hipotesa ini, perlu pengkajian lebih lanjut terutama informasi dari internal kerajaan Medang sendiri. Penulis baru meninjau indikasi kerarah tersebut dari fakta sejarah prasasti di Laguna dan catatan-catatan sejarah yang hilang pada saat bersamaan, raja-raha Sriwijaya dan Khmer. Mudah-mudahan penulis bisa menggali informasi lebih dalam (kalo menggali ya dalam...bukan banyak hehehe).

Semoga pembaca yang budiman bisa memberikan masukan dari ide awal artikel ini, atau mungkin kritik dan saran yang bisa jadi menyangkal tentang hipotesa ini. Namanya hipotesa pasti perlu pengkajian ulang lebih banyak.

Sekian dan terima kasih


Salam Damai Negeriku, Salam Sejahtera Nusantaraku,

Wassalam
Penulis

Referensi:
  1. Reinaud, “Rélations des voyages faits par les Arabes et les Persans dans l'Inde et la Chine dans le IXe siècle de l'ère chrétienne”, Paris 1845, vol. 2. - Tibbetts, pp. 32-36; cf. the commentary ibid., pp. 111.
  2. Santos, Hector. "Hector Santos's Translation" in A Philippine Leaf at http://www.bibingka.com/dahon/lci/santostr.htm. US, October 26, 1996.
  3. Cœdès, George (1930). "Les inscriptions malaises de Çrivijaya". Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient (BEFEO) 30: 29-80.
  4. Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. ISBN 981-4155-67-5.
  5. Gabriel Ferrand, (1922), L’Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris, “Textes Chinois”
  6. Junjiro Takakusu, (1896), A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London.
  7. Casparis, J.G. (1975). Indonesian palaeography: a history of writing in Indonesia from the beginnings to C. A, Part 1500. E. J. Brill. ISBN 90-04-04172-9.
  8. Muljana, Slamet (2006). F.W. Stapel. ed. Sriwijaya. PT. LKiS Pelangi Aksara. ISBN 978-979-8451-62-1.
  9. Cœdès, George (1918). "Le Royaume de Çriwijaya". Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient 18 (6): 1-36.
  10. Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press. ISBN 0-300-10518-5.

19 komentar:

  1. tulisan yang sangat mengasyikan bagi orang yang ingin tahu sejarah nusantara.

    saya tunggu tulisan/kupasan artikel tentang kerajaan-kerajaan purba yang ada di nusantara mas. hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks gan....insya allah, mudah2n nyampe kesana, btw kasih bocoran datanya donk hehehe

      Hapus
    2. Fakta sejarah seperti ini tidak pernah masuk kurikulum. Dari SD sampai SMA saya tidak pernah baca buku sejarah yg menceritakan bahwa Indonesia (khususnya Jawa) pernah menguasai Cambodia dan Vietnam. Hingga beberapa tahun lalu saat kuliah di Australia, saya punya teman sekelas dari Cambodia. Pas dia tahu kalo saya dari suku Jawa (dia sudah paham saya orang Indonesia), spontan dia bilang: "Jadi kamu musuh saya, bukan teman. Karena leluhurmu, orang Jawa, pernah menjajah kami ratusan tahun.."
      Kaget, karena saya sama sekali tidak tahu cerita itu. Langsung buka internet, ternyata memang dikatakan Kamboja memerdekan diri dari Jawa. Bahkan informasi tsb terdapat di website resmi pemerintah kerajaan Cambodia.
      Semoga Pemerintah bisa merubah kurikulum pelajaran sejarah nasional dengan mengakomodasi informasi/fakta terbaru yang belum masuk. Supaya hal ini dapat membangkitkan kebanggan dan nasionalisme bagi generasi muda kita. Kita dulu pernah jaya, besar, dan disegani dunia. tidak ada alasan kita tidak bisa melakukannya lagi...
      Terima kasih atas tulisannya, sangat mencerahkan.

      salam,

      Indra

      Hapus
  2. semoga Belanda menjadi pihak yg bersalah karena sedikit banyak menjajah Indonesia (lahir batin :D), sampai-sampai Rakyat Indonesia telah kehilangan Jati Diri (siapa aku), terbukti dari puluhan ribu manuskrip kuno Indonesia ada di LEIDEN, Pihak Indonesia sendiri telah meminta kepada mereka, tp tidak di perbolehkan dengan alasan mereka mendapatkan itu dengan membeli. tambah bingung lg kan gan ? TKP: http://id.berita.yahoo.com/puluhan-ribu-manuskrip-kuno-indonesia-ada-di-leiden-093634256.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya...ane berharap juga begitu gan, 26000 manuskrip sedangkan di kita kisaran 12000, peluang deviasi dan errornya tinggi sekali....makanya kita sedikit kelimpungan dalam mengungkap fakta dan pristiwa masa lampau....padahal banyak hal yg bisa dijadikan pembelajaran pastinya....thanks gan atas informasinya...

      Hapus
  3. Bro, boleh nanya, prasasti laguna itu pake bahasa apa ya? mohon pencerahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayanya ada tuh gan di artikel, masalah bahasa dalam Prasasti Laguna, silakan ditelaah dan dicari sumber pembanding lainnya gan, thanks

      Hapus
    2. Mirip bahasa banjar sama brunei

      Hapus
  4. Boleh diterangkan kembali penggalan isi prasasti laguna berikut.

    “Oleh karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup, yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang.”

    menurut penjelasan akang sb berikut,

    Dengan pernyataan “yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang”, artinya “Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan” atau “Sang Pemegang Pimpinan di Tundun (Tondo sekarang), diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah (Pila sekarang), Jayadewa” telah tunduk dan mengakui kekuasaan raja Medang (Mataram Kuno - Hindu),

    boleh nanya lg nggak?
    tinggi mana antara penguasa Dewata atau penguasa medang?? sebab urgensinya tinggi sekali, sampai2 raja tanah jawa ikut terlibat dalam masalah hutang piutang emas sampai ke luzon lg.

    gara2 prasasti hutang piutang ini langusng ditembak ke sriwijaya 861–960 Masehi, apa nggak melampaui kaedah penelitian?? sejarah kan butuh penelitian bertahap, makanya sejarawah barat rela turun ke lapangan untuk mencari data dalam bentuk penelitian arkeologis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ijin komen, mungkin (jika saya tak keliru) yang dimaksud dengan Penguasa Dewata bisa sja padanan kata/istilah lain untuk menyebut Tuhan Yang Maha Esa /Dewa Tertinggi. Meskipun begitu memang masih memerlukan pembuktian penelitian lagi, tapi tidak dipungkiri jawa prnah 'menjajah' cambodia, jika dilihat berdasarkan penuturan cerita turun-temurun rakyat disana. Tapi pola penjajahan pada masa itu lebih sering pada perusakan kota/sumberdaya yg dimiliki dan disertai pewanan penduduk besar-besaran (itulah mengapa pangeran Khmer Jayavarman II bisa lahir dan dibesarkan di istana Jawa/Medhang). Than infox, semakin menggali sejarah kita akan yakin ketinggian peradaban dan budaya leluhur kita.

      Hapus
    2. Nah yang atu dah dijelaskan oleh gan Fibri (mksh gan...), yg kedua ttg knp nembak langsung Sriwijaya, karena sebelumnya Medang dikuasai oleh Sriwijaya masa Wangsa Sailendra silakan cek prasasti2 Dapunta Hyang, nah prasasti Laguna secara tersirat mengatakan bahwa kerajaan yg ada di Filipina tunduk terhadap medang, 900M, dengan demikian pastilah Medang terlebih dahulu Menundukan kerajaan besar lainya tuk bisa menguasai kerajaan2 di Filipina, salah satunya Sriwijaya.

      Proses peralihan kekuasaan ini terindikasikan oleh hilangnya data sejarah tentang raja2 Sriwijaya kelanjutan Wangsa Sailendara kisaran 860-960M, baru muncul lg setelah itu. dan juga hilangnya data sejarah raja-raja di Kamboja kisaran 900-1000 M, relevansi masa waktu yg sama dgn diketemukannya prasasti Laguna yg dibuat kisaran waktu 900M. Indikasi Kamboja ditaklukan Medang, biasanya dalam peralihan kekuasaan, penguasa yg baru akan menganeksasi wilayah yg dikuasai penguasa terdahulu.

      Logikanya seperti itu gan, memang ini hrs dikaji ulang...dan perlu telaah dan kajian lebih lanjut

      Hapus
    3. Yup, prasasti laguna berbahasa melayu kuna...ternyata bahasa melayu kuna yg jd cikal bakal bahasa indonesia sudah lama sampai ke sulu, philipines, kamboja, khmer, champa, thailand, burma dan mandagaskar, jayavarman angkor ternyata juga didikan dinasti syailendra sriwijaya, leluhur kita memang hebat...

      Hapus
    4. Sanjaya ngalahkan Sriwijaya sebelum tahun 745, Jawa ngalahin Kamboja sekitar 800an. 746-782 Raja Jawa adl Rakai Panamkaran (putra Sanjaya hibrid Syailendravamsa), Jadi yang ngalahkan Indocina & pilipina itu Dharanindra (wairawarimathama/ worawari) atas nama Sriwijaya/ Syailendravamsa (baca Ligor). Sriwijaya tidak pernah mengalahkan Jawa (tetapi via perkawinan / Rakai Panamkaran)

      Hapus
    5. Pembanguna candi Kalasan saja minta ijin pada Rakai Panamkaran. Juga peresmian Borobudur (candi Buddha di wilayah galuh) dilakukan oleh Rakai Garung (Sanjayavamsa)

      Hapus
  5. Mataram kuno teu tiasa ngaleungitkeun nami Sanjaya nu ngadeugkeun Wangsa Sanjaya di mataram Kuno anjeuna putra sannaha ti Galuh nu teu lain turunan karajaan sunda, salah sahiji turunan na nyaeta Rakai Pikatan/Balitung Maha Sambu ditikahkeun sareung Pramodhawardhani turunan wangsa syailendra, saotos eta turunan na nyaeta Rakai Dyah Balitung nu aya dina sejarah expedisi ka nagara luar nyaeta turunan sunda, di dieu tos jelas nusantara ngahiji ti getih sunda ...

    Hatur nuhun tos ngiring nyerat

    Kula ti dayeuh nu gaduh nami
    Girijaya Ragamulya wangsa nusya mulya/suryakancana

    BalasHapus
    Balasan
    1. bro, pake bahasa indonesia donk, jangan bawa bahasa kesukuan!

      Hapus
  6. Syailendra itu wong Melayu yg gagal hukum bhumi Jawa lalu mengabdi pada Shima. Medang dibawah Sanjaya sukses ngalahkan Sriwijaya, tetapi Sanjaya bosan perang & berbesan dengan keturunan Syailendra, lalu mewariskan tahta (jawa tengah bagian timur ) kepada Panamkaran (anaknya dari isteri syailendravamsa) sehingga dimanfaatkan oleh keluarga Syailendra untuk ekspansi. Ya tentara Sanjaya dimanfaatkan oleh Sriwijaya (syailendravamsa) untuk menguasai asia tenggara. Lihat Prasasti Ligor, Dharanendra ( Syailendravamsa) memuji-muji Sriwijaya sebagai negara hebat & menyebut Panamkaran salah satu rajanya.Panamkaran diteruskan Dharanindra versi syailendra, tetapi tidak diakui oleh Prasasti Metyaseh, Metyaseh mengakui Rakai Pananggalan yg asli Medang, karena Dharanindra hanya menantu Panamkaran (tidak punya darah Sanjaya)

    BalasHapus
  7. Medang itu bukan kerajaan tetapi artinya "Ibukota" Ho Ling Medang kuwu lang piya = kalingga beribukota di Kamulan, Galuh Medang i mataram, Medang i Poh Pitu dll. Pada jaman Panamkaran Sriwijaya dan Jawa itu bersatu karena Panamkaran keturunan Sanjaya & Syailendravamsa,Senopatinya (Dharanindra)berhasil mengalahkan Kamboja, Champa & Manila

    BalasHapus
  8. analisa yang menarik, bisa jadi bro. dan mungkin lepasnya kekuasaan medang atas nusantara yang secara tiba2 itu juga karena bencana meletusnya gunung merapi yang memaksa medang memindahkan ibukotanya ke jawa timur.

    BalasHapus

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.