Senin, 23 April 2012

KEN ANGROK MENGGUGAT MBAH GOOGLE I

KEN ANGROK MENGGUGAT MBAH GOOGLE

A.   Tentang Ken Angrok dan Ken Dedes

Nama Angrok diberitakankan dalam kutipan terjemahan naskah Pararaton adalah sebagai berikut:
"Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus - mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak."

Terdapat perasaan ganjil dihati penulis ketika mendengar nama Angrok, Arok masih mendingan. Tentang Ken Dedes, istri atau pamesuri dari raja Ken Angrok, sudah barang tentu akan terbayang dalam hayali sebagai perwujudan seorang wanita nan cantik rupawan, kecantikan yang melegenda dan memabukan para kaum adam pada masanya. Tapi nama Ken Dedes itu sendiri, baru hanya dan menjadi tetap dengan sendirinya, seperti sudah dipatenkan menjadi milik dia sepenuhnya, dalam pandangan khalayak mungkin nama ini bersifat sakral, jadi sangat jarang khalayak umum untuk menggunakannya nama itu, begitu juga dengan nama Ken Arok. Terdapat sisi unik dari kedua kata arok dan dedes, penulis angkat topi kepada yang ngasih dua nama itu.
Angrok atau Dedes, nama yang mempunyai perlambang atau arti apakah itu?

Beberapa sumber mengatakan bahwa Angrok atau Arok adalah istilah panggilan bagi mereka yang suka berkelahi atau berperang dari pecahan A(ng)rok bahasa Jawi kuno, rok=menyerang, arok=perang, pertempuran. Harap diingat ya!!! penulis tegaskan bahwa rok bukan untuk menunjukan sejenis pakaian bawahan para wanita dalam hal ini. Sebutan ken, yang menjadi nama depan, sering diartikan sebagai sebutan atau panggilan bagi seseorang yang dipandang cakap atau rupawan, itu berlaku baik untuk para pria ataupun wanita.

keterangan : rok = narajang, arok=awor, tempuh, sumber : Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506 (Bagian 1: ha-ka)

Dedes sering diartikan bunga kasturi yang harum wanginya, seluruh bangsa dan bahasa diberbagai belahan dunia tentunya mengenal tentang keistimewaan bunga kasturi, walau pun sebutannya pasti beda, tapi dalam beberapa kamus juga kata dedes ada yang mengartikan sejenis musang, lho kok musang, gak salah tuh? Atau ada juga yang mengartikan men-dedes yaitu mengiris tipis-tipis. Tapi kalau dilihat sepintas, pasti lebih condong ke arah yang mengandung arti bunga kasturi yang harum mewangi tentunya, personifikasi dari raut wajah nan cantik rupawan. Dalam rangkaian paragraf selanjutnya akan didapatkan hubungan hewan sejenis musang itu dengan wangi harum bunga kasturi.

Era penerjemahan bahasa untuk sekarang ini, dengan adanya Mbah Google, relatif lebih mudah, walau hasilnya tidak sempurna memang dan karena hal itu pula, mengapa penulis menampilkan selayak pandang tentang Mbah Google di dalam pendahuluan artikel ini, yang sebenarnya adalah merupakan pekakas penulis yang secara iseng-iseng mencoba mengutak-ngatik nama-nama tersebut.

Mari perhatikan hasil nama-nama itu yang sudah diterjemahkan Mbah Google, sebagai berikut:

Terjemahkan

Hasil Terjemahan
Indonesia
Melayu
Inggris

Melayu
Inggris
Belanda
arok



arok
Arok
Arok

arok


-
arok
Arok


arok

arok
-
Arok
angrok



Angrok
Angrok
Angrok

angrok


-
Bhatara
Bhatara


angrok

angrok
-
Angrok
bhatara



Angrok
bhatara
bhatara

bhatara


-
Lord
God


bhatara

Angrok
-
Bhatara
dedes



dedes
civet cat
civet cat

dedes


-
Musk
Muskus


dedes

dedes
-
dedes


civet cat

dedes
-
civet cat


angrod

angrod
-
Angrod


angron

angron
-
angron

Dengan melihat bagan tersebut diatas, coba perhatikan. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan untuk menterjemahkan nama-nama tersebut, dengan memakai alat penerjemah bahasa yang sudah tersedia pilihannya di Mbah Google yaitu Bahasa Indonesia, Melayu, Inggris dan Belanda, hasilnya adalah sebagai berikut:
  1. Nama arok untuk semua pilihan bahasa diatas tidak ada yang mengenal, artinya tidak bisa diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa itu.
  2. Nama angrok baru mulai ada perubahan, ketika bahasa itu berasal dari Melayu, dengan mendapatkan tanggapan terjemahan yang sama dari bahasa Inggris dan Belanda, keduanya memberikan arti Bhatara, kelihatanya nama Bhatara tidak asing dipendengaraan masyarakat Indonesia. Tapi mengapa, ketika angrok dipilih dari bahasa Indonseia semua terjemahan bahasa mulai dari bahasa Melayu, Inggris dan Belanda hasilnya tidak berubah. (?) tanda tanya besar bagi penulis.
  3. Nama bhatara dimasukan dari bahasa Melayu dan hasil yang mencengangkan adalah kata itu memiliki terjemahan dalam bahasa Inggris “lord” dan dalam bahasa Belanda “God” tentu semua sangat maphum dengan arti kedua itu, Lord artinya raja,Tuhan dan God walaupun dalam bahasa Belanda tetap artinya Tuhan terkadang diartikan dewa atau semacamnya.
  4. Nama dedes dimasukan dari bahasa Indonesia, bahasa Melayu memperlihatkan kesombonganya dengan tidak memberikan terjemahan apapun, dibalikin ke asalnya menjadi tetap dedes, tapi bahasa Inggris dan Bahasa Belanda memberikan terjemahan yang sama civet cat, nama apakah gerangan tentang civet cat?
  5. Nama dedes dimasukan dari bahasa melayu, respon atau tanggapan terjemahaan dari bahasa Inggris dan bahasa Belanda masing-masing musk dan muskus, nama apakah gerangan juga itu?
  6. Penulis mencoba membalikan civet cat dimasukan dari bahasa Inggris, dan ada yang aneh ternyata bahasa Melayu memberikan respon dengan menampilkan dedes (hahaha, tadinya gak mau), dan bahasa Belanda mengartikanya sama, tidak plin-plan tetap civet cat.
  7. Penulis mencoba juga kata lainnya, mudah-mudahan ada manfaatnya setelah mendapat teguran langsung dari kamus bahasa Inggris dan ketika memberikan nama angrok supaya diterjemahin, eh tuh kamus malah nyuruh merubah kata yang dimasukan menjadi angrod, nama angrod kalau dimasukan, halah gak ada perubahan tetep aja angrod, dasar “ si Angrod”, atau sekali lagi dengan kata yang hampir mirip Angron dan hasil mengecewakan yaitu tetap sama.
Dari hasil terjemahan yang coba dikumpulkan tersebut, terdapat beberapa kata-kata yang muncul yaitu Bhatara, Civet Cat, Musk, Muskus, dan Angrod (mudah-mudahan si Angrod dan Angron ada manfaatnya). Civet Cat dalam bahasa Belanda bisa juga mengunakan istilah atau kata lain yaitu Civetkatten.

Aneh memang, istilah yang tidak asing di telinga dan teramat paham kita mengartikannya yaitu tentang Bhatara, kok bisa-bisanya menjadi kosa kata orang Inggris dan Belanda, tetapi itupun hanya bila untuk mengartikan atau menerjemahkan kalau angrok itu sendiri dimasukan atau diinput di dalam bahasa Melayu,tetapi kalau dimasukan dari bahasa Indonesia tidak berlaku, kedua bahasa penerjemah itu budeg, tidak mau menerjemahin (bahasa Inggris dan Belanda). Why? Adakah beda antara bahasa Melayu dan dan Bahasa Indonesia, pasti beda memang tapi kan masih serumpun, kalau beda pun ya paling beda-beda tipis lahhhh (kata Mang Duleh sambil minum kopi, nyengir pula...jijay hehehe), tapi mengapa dua bahasa itu tidak mau menterjemahkan? Inilah kecanggihan dari google atau inikah kekuarangan google? setipis apapun perbedaan itu tetap masih bisa dipisahkan, tidak ada ampun alias no telorance.

Tapi yang harus menjadi catatan adalah bahwa mesin pencari google, termasuk alat atau fasilitas penerjemahnya semuanya tergantung data entri yang dimasukan dan sistem pecarian dari program yang diterapkan, artinya memang masih banyak kelemahan. Contoh ketika dimasukan kata “orang” dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka hasilnya menjadi “orangutan”, jadi geli kelihatanya, sialannya lagi seoalah-olah orang Inggris ingin mengatakan orang Indonesia adalah orang utan (gak segitunya kaleee....lebay). Adalagi seperti "aku mau sih" dalam bahasa Indonesia diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi " I'm going to hell", amit-amit siapa yang mau.

B Gugatan Ken Angrok kepada Mbah Google

Wajar kiranya kalau raja Ken Angrok menggugat Mbah Google, soalnya nama dia hanya terdaftar di bahasa Melayu yang hanya bisa diterjemahkan oleh bahasa Inggris dan bahasa Belanda sebagai Bhatara. Kok, diplagiat bangsa lain namanya bukan digunakan oleh dibangsanya sendiri? Bahasa Melayu kan identik dengan bahasa negara tetangga (yehhh provokatif larinya....hehehe).

Wajar juga sekiranya kalau Ken Angrok menuntut ke si Mbah Google untuk menghadirkan para pelaku data entri, mengingat namanya sudah diplagiat, dan wajar pula kalau ken Angrok mempertanyakan kenapa dua bahasa penerjemah itu spertinya serentak, sudah mufakat sebelumnya untuk menterjemahin Angrok menjadi Bhatara, yang anehnya pula, ketika angrok itu jadi input terjemahan bahasa Inggris dan Belanda ke bahasa Indonesia eh malah jadi arok. Bener-bener yang menginput data entri si Mbah google paham betul siapa Ken Arok alias Angrok itu, tidak mau pusing pusing main hajar saja. Terlepas dari metode penerjemahan sistem mesin google seperti apa, tetap saja ini harus ada penjelasan mengenai hal itu.

Dalam bahasa Tulugu dari Benggali adalah sebagai berikut tentang Bhatara, english translate:
ভাতার - bhatara - [bhātāra]
n (sl.) a husband. ̃পুত n. (sl.) husband and son.
n (sl.) a husband. puta n. (sl.) husband and son.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia sendiri kata bhatara tidak ditemukan yang ada adalah batara. Bhatara menurut Mbah Wiki teman seperguruan Mbah Google adalah sebagai berikut:

Bhatara (Devanagari: भटर ; Bhaāra) adalah utusan Brahman (Tuhan) sebagai pelindung umat manusia dalam tradisi Hindu. Bhatara tidak sepenuhnya berarti Dewa karena ada definisi yang berbeda antara Bhatara dengan Dewa. Namun dalam perkembangannya, istilah Bhatara diidentikkan dengan Dewa. Bhatara berjenis kelamin wanita disebut Bhatari.

Bhatara berasal dari kata “bhatr” yang berarti pelindung. Bhatara berarti “pelindung".Jadi bhatara adalah aktivitas sang hyang widhi sebagai pelindung ciptaanya, karena itu dalam pandangan agama hindu semua hal dialam semesta ini dilindungi oleh sang hyang widhi dengan gelar bhatara. ada begitu banyak nama-nama bhatara sesuai dengan tempat, fungsi dan kedudukannya. sebagaimana dikutip dalam ajaran siwa tatwa dalam agama hindu, sang hyang sapuh jagat apabila beliau menjaga pertigaan, sang hyang catus pata/ catur loka pala berkedudukan di perempatan jalan, sang hyang bairawi berkedudukan di kuburan, sang hyang tri amerta berkedudukan di meja makan. beberapa contoh nama bhatara di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak nama bhatara yang menandakan sifat sang hyang widhi yang wyapi wyapaka atau ada dimana-mana. jadi' bhatara bukanlah makhluk-makhluk halus atau utusan tuhan melainkan bagian dari tuhan itu sendiri.

Dalam filsafat Hindu Advaita Vedanta, Dewa merupakan sinar suci atau manifestasi dari Brahman. Dalam hal tersebut, para Dewa berbeda dengan Bhatara, karena Dewa merupakan sinar suci Brahman sedangkan Bhatara merupakan aktivitas dari hyang widhi sebagai pelindung. dalam penerapannya di masyarakat hindu nama bhatara lebih dikenal dari istilah dewa, hal ini disebabkan karena manusia pada umumnya menginginkan perlindungan. beberapa contoh perubahan istilah dari dewa menjadi bhatara: dewa brahma = bhatara brahma dewa wisnu = bhatara wisnu dewa siwa = bhatara siwa dewa iswara = bhatara iswara dewa mahadewa = bhatara mahadewa dst.

Dalam tradisi Hindu-Jawa umumnya, dan pada tradisi pewayangan khususnya, istilah Bhatara dipakai untuk merujuk kepada Dewa. Dalam tradisi Agama Hindu Dharma di Bali, istilah Bhatara diucapkan “Bêtarə”, dan disamakan atau bahkan diidentikkan dengan Dewa, karena sama-sama berfungsi sebagai pelindung, contohnya: Bhatara Wisnu, Bhatara Brahma, Batara Kala, dan sebagainya.

Tapi patut diingat bahwa Mbah Wiki, konten atau isi tulisannya bisa dikutak katik oleh siapa pun alias bisa diedit, diperbaharui, bisa jadi bahasa resmi kamusnya tidak ada untuk Bhatara yang ada adalah batara. Mohon jangan terlalu percaya, harus ada pembanding lainnya, mungkin adanya penulisan bhatara lebih dikarenakan alasan pelafalan dalam suku-suku tertentu, tapi harap diingat juga ya, "Bandung" jangan dibilang atau dilafalkan dengan intonasi "Embhandung", tetap harus Bandung apalagi ngomongnya ampe muncrat (hujan lokal kalee).

Ken Angrok alias Sri Rajasa Sang Amurwabhumi raja Tumapel (yang selanjutnya terkenal dengan nama Singasari) mempunyai julukan Batara Siwa, ketika akan merencanakan peprangan di Ganter melawan pasukan kerajaan Kadiri, 1922. Nama gelaran ini diberikan oleh para Brahmana aliran hindu Siwa, sebagai wujud dukungan moril, serta memberikan efek psikologis bagi para prajurit perangnya, bahwa mereka akan selalu percaya diri dan pasti kemenangan dapat diraih, seoalah-olah para prajurit dilindungi atau beserta Dewa Siwa, Sang Penghancur. Itu juga yang dilakukan oleh Sang Genghis Khan, ketika akan merencanakan peperangan, ini juga dilakukan pada era nabi Muhamad SAW dalam memberikan semangat Jihad dalam peperangan, dan ini juga yang dilakukan Napoleon Bona Parte dengan semangat crusade-nya.

Lebih menyakitkan lagi bagi Ken Angrok, pramesurinya yaitu Ken Dedes, yang dipuja puji sepanjang hari, dan dingat sepanjang masa, ehh malah Mbah Google secara sepihak memberikan terjemahan Civet Cat atau Musk dalam bahasa Ingris dan muskus dalam bahasa Belanda. Muskus atau Civetkatten dalam bahasa Belanda mempunyai arti sejenis musang atau luwak. Dedes dari bahasa Indonesia diterjemahkan oleh bahasa Belanda dan Inggris adalah Civet Cat, sedang Dedes dari bahasa Melayu diterjemahkan oleh bahasa Belanda menjadi Muskus dan Inggris menjadi Musk, semua mengarah ke hewan sejenis musang atau luwak tepatnya. Menghinakan sekali kelihatanya, tapi eitssss nanti dulu, harap sabar bagi Ken Angrok, baca kelanjutannya.

Ken Angrok juga akan tambah meradang, kalau ternyata istri keduanya juga tidak jauh beda, hal yang sama Mbah Google mengibaratkan Ken Umang seperti kepiting, yang dibahas pada paragraf selanjutnya (apa gak panas dingin tuh Ken Angrok).


Seandainya raja Ken Angrok alias Arok tahu pada masa kini dan bisa menikmati kopi luwak, sejenis musang itu, tentunya dia akan berbangga sekali bahwa nama istrinya ternyata terinspirasi dari hewan bernama luwak yang menghasilkan kopi dengan aroma dan rasa luar biasa serta teramat mahal harganya. Dan seandainya pula dia tahu mengenai ilmu tentang luwak, sejenis musang itu, ternyata harum wangi kasturi itu dihasilkan dari kelenjar sekresi dari luwak, walaupun terdapatnya disekitar daerah yang menjijikan yaitu daerah anus. Walaupun tempatnya terasa agak menjijikan, harum kasturi ya tetap membanggakan, wangi bunga surga dunia.

Ehh, ada lagi pertanyaan nyeleneh, apakah ini personifikasi dari cahaya yang keluar dari aurat ke wanitaan Ken Dedes? siapa pun tidak bisa menjawab ya dan tidak untuk pertayaan ini, kemyataannya memang begitu. Petikan terjemahan naskah Pararaton, sebagai berikut:

"Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat."

Apakah dulu yang menciptakan nama Ken Dedes atau orang tuannya Ken Dedes juga tahu ilmu sistematika kata atau fonetik, apakah pengetahunanya juga menjangkau dunia jauh atau apakah naskah-naskah manuskrip kuno dari tulisannya kemudian diambil tafsiran sebagai dedes yang menggambarkan harum mewangi kasturi?


Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.