Selasa, 27 Maret 2012

TEORI PEMBENTUKAN NUSANTARA 2

TEORI PEMBENTUKAN NUSANTARA
Tentang Jenghis Khan
Nama gelaran panglima besar atau kaisar dari pasukan tentara mongol itu tiada lain yaitu Jenghis Khan (raja diraja) atau Sang Penakluk, yang terlahir dengan nama Temüjin, anak sulung Yesügei, pemimpin suku (klan) atau ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama pemimpin suku musuh yang ditewaskan ayahnya.
Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, atau sesuai pelafalan dari bangsa-bangsa lain untuk sebutan namanya, nama asalnya, Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen, (lahir sekitar 1162 masehi sampai kematianya tanggal 18 Agustus 1227 masehi) adalah khan (kaisar atau raja) Mongol sekaligus Panglima besar pasukan tentara perang yang menyatukan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa didaratan Mongolia yang kemudian mendirikan Imparium kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia (kesultanan Kwarizmi), sebagian Eropa dan diawali dengan penaklukan suku-suku bangsa Mongolia itu sendiri.
Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar ditengah perjalanan tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.
Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda, tapi alasan sebenarnya adalah dendam dimasa lalu.

Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin.
Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri.
Temujin mempunyai teman baik yang juga merupakan saudara angkatnya, yang bernama Jamukha. Ia pernah berkali-kali ditolong oleh Jamukha, yang merupakan keturunan dari suku Jadaran. Bersama-sama dengan saudara angkatnya, Temujin berhasil merebut kembali hak kekuasaannya atas sukunya dan juga perserikatan Mongolia yang didirikan ayahnya dahulu. Waktu demi waktu, wilayah Temujin menjadi semakin besar, yang dilakukan dengan cara menghancurkan musuh-musuhnya dan menggabungkan suku-suku dalam perserikatan Mongolia.
Musuh terbesar Temujin dalam sejarah ternyata adalah saudara angkatnya sendiri, Jamukha, yang sering mengadu-domba Temujin dengan suku-suku lainnya, termasuk ayah angkat Temujin sendiri yang bernama Wang Khan. Setelah Temujin berhasil menyisihkan musuh-musuhnya dan melaksanakan perintah almarhum ayahnya, Yesugei, ia kemudian juga berhasil membalaskan kematian nenek-moyangnya, yang dibunuh oleh kerajaan Jin. Temujin kemudian diangkat menjadi Khan dengan gelar Jenghis Khan; yang artinya "Khan dari Segala-galanya" (raja diraja).
Jamukha sendiri tertangkap oleh pasukan Tumujin, tetapi tradisi dan janji persaudaraan yang telah Temujin dan Jamukha buat semasa remaja yaitu Tumujin mengangkat Jamuka sebagai “anda”(melebihi ikatan saudara sendiri) yang membuat Tumujin tidak bisa mengambil hukuman mati untuk Jamukha.
Tapi Jamukha seorang kesatria tentara Mongol yang pemberani, dia meminta kepada Tumujin untuk menghukum mati dirinya dengan syarat tidak setetes darah pun mengalir, karena keyakinan pada saat itu jika jasad tidak mengalirkan darah maka sejatinya manusia itu spiritnya masih hidup, pada dasarnya Jamukha memang mempunyai cita-cita dan ambisi yang serupa dengan Tumujin tapi dengan prinsip dan cara yang berbeda, Temujin sangat paham akan hal itu, dan karena peran andil dari Jamukha sehingga terbentuklah Temujin yang seperti saat itu. Jamukha dihukum mati dengan cara dicekik dan jasad Jamukha dimakamkan dengan upacara militer sesuai tradisi militer tentara Mongol pada saat itu.
Nenek-moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara Cina selama lebih dari 100 tahun. Hal ini akan menjadi kesulitan besar untuk Jenghis Khan dalam menunaikan tugasnya. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jenghis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. Jenghis Khan berhasil meruntuhkan semangat perang dan kekuataan kerajaan Jin dalam berbagai peperangan.

Salah satunya adalah perang di Tebing Serigala Liar, dimana Jenghis Khan yang hanya memiliki pasukan tidak lebih dari 100.000 tentara berhasil membabat pasukan musuh yang besarnya lebih dari setengah juta jiwa. Kejayaan Jenghis Khan terbukti dari keberhasilannya dalam merebut ibukota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini menjadi Beijing. Para ilmuwan, seniman, ahli sastra, ahli senjata (terutama ahli senjata berat/siege weapon), selain yang utama yaitu barang berharga, semuanya dibawa ke Mongol sebagai pekerja pembantu dengan alih-alih sebagai hasil dari rampasan perang bagi sang pemenang.
Dan itulah salah satu strategi perang Jenghis Khan dimana pun peperangan itu terjadi, bagi para penguasa negeri-negeri yang menyerahkan diri, bukan hanya wajib memberikan upeti tahunan tapi wajib juga mengirim sejumlah pasukan yang ditentukan oleh Kekaisaran Mongol kalau hal itu tidak disepakati berarti tandanya menyatakan perang dan selanjutnya pasti dibumi hanguskan, tapi bagi mereka yang mengirimkan pasukan, pasukan yang dikirim itu tadi harus berada digaris depan peperangan dan dibawah kendali pasukan utama tentara Mongol. Kebijakan itu selain mengindari ada pengumpulan kekuatan dari negeri-negeri bawahan Kekaisaran Mongol untuk suatu saat menyerang balik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.