Selasa, 19 Juni 2012

HAYAM WURUK PUN HOBBI BERNYANYI II

HAYAM WURUK PUN HOBBI BERNYANYI

MAKNA NYAYIAN HAYAM WURUK

Ternyata nyayian dan candaan dalam bentuk pagelaran langsung atau acara-acara kumpul bersama sudah menjadi tradisi dalam lingkungan keraton Majapahit, ini terlihat jelas dari berita yang disampaikan oleh Nagarakertagama pupuh 91. Para lurah (red, mungkin maksudnya para kepala prajurit), para pembesar istana, bahkan seluruh para mentri kerajaan mampu melakukan tarian, nyayian dan candaan atau lawakan. Bisa jadi kemampuan itu bagi mereka adalah sarana untuk menunjukan status sosial dan menujukan perbedaan strata pendidikan atau derajat ilmu pengetahuan.

Begitu juga Hayam Wuruk sebagai seorang raja, tentunya kemampuan sastra merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki supaya dia kokoh dan bisa membaur dalam lingkungan pergaulan istana. Kemampuan Itu ditunjukan jelas bahwa ketika Hayam Wuruk bernyanyi mendapat sorak pujian, ya bisa jadi benar bahwa apa yang dilantunkan itu bagus atau sorak itu hanya karena penghargaan terhadap seorang raja, kedua kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Lagu “Manghuri Kandamuhi”, mungkin sejenis kakawihan, yang sangat digemari oleh khlayak dan para pejabat, bahkan Hayam Wuruk pun ikut menyayikannya. Kelihatannya Manghuri Kandamuhi itu lagu wajib yang setiap pejabat harus hapal dan bisa melantunkanya. Bisa jadi dinyanyikan estafet. Hanya penulis, mohon maaf, tidak bisa menjelaskan detail tentang apa itu jenis lagu atau nyanyian “Manghuri Kandamuhi”, soale gak punya datanya hehehe.

Diselingi oleh acara minum-minum, baik minuman keras atau minum biasa. Jenis minuman keras biasanya disaat itu terkenal seperti tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya, Itulah hidangan minuman yang utama, Wadahnya emas berbentuk aneka ragam, Nagarakertagama pupuh 90 bait ke-2. (wooowww!!!??? wadahnya dari emas.....habis minum wadahnya diumpetin atau dibungkus hehehe, emangnya kiteee mas broww....).

Tradisi minum ini seakan-akan mendunia. Lihat di jepang. Tradisi minum teh yang sangat melegenda diantara para samurai dan pejabat kesogunan bahkan para pejabat kerajaan di Cina pun sama melakukannya, sama juga ditambah tarian dan lawakan atau candaan. Memang minuman seolah-olah ditakdirkan untuk mendampingi semua acara yang nyantai-nyantai, suka ria dan lain sebagainya. Merokok tiada afdolll (pake f atau pake p ya? hehehe) kalau tidak diiringi dengan secangkir kopi....(aiii....sedap nyooooo mang....hehehe). Kalau minuman keras, ya jangan diceritakan lagi, sebagian besar acara perkumpulan dalam berbagai bentuk yang mengarah ke hura-hura atau pesta biasanya diiringi dengan minuman sejenis itu. Disemua tempat dibelahan bumi ini pasti melakukannya. (don’t try this at home. Right?)

Tapi intinya itu alat atau sarana. Sarana pergaulan yang diperuntukan sebagai kemasan dalam sebuah acara perkumpulan dan perjamuan, maka minuman dan makanan itulah yang menghiasi acara-acara tersebut...alangkah garing-nya kalau sebuah acara perkumpulan merayakan kebahagiaan, acara kebersamaan ataupun pesta-pesta kalau tanpa makanan dan minuman, coba bayangkan sama pembaca jika hal itu terjadi. Pasti pada mayun! Hehehe.

Kalau mengikuti apa yang disampaikan Nagarakertagama, sudah jelas bahwa Hayam Wuruk selain seorang raja dia juga berlaku layaknya sebagai selebritis kondang dengan kemampuan sastra luar biasa, seorang vokalis yang mumpuni dengan kiasan Hayam Wuruk yang bersuara merdu seperti “madu bercampur gula terlalu sedap manis, meresap dan mengharu biru kalbu bak desiran buluh perindu”, Nah lho siapa artis sekarang yang mampu seperti itu? Jawaban pembaca “Gak gue, gak kebayang nyanyinya juga kaya gimana, genre juga gak jelas, aliran musiknya gak dikenal apa jazz, keroncong, rock, metal atau pop? Jangan-jangan dangdut huahuahahahaha. Just joke! jangan lebay lah.....

Makna seorang raja bernyanyi, tidak jauh berbeda dengan seorang presiden bernyanyi, kalau dibandingkan dengan jaman sekarang. Seperti sudah disampaikan diatas bahwa ide seperti ini membuka peluang bagi pihak yang lain, maksudnya bawahannya dan lebih luas masyarakat kerajaan bahwa Hayam Wuruk adalah raja yang dekat terhadap masyarakat. Bukan seorang raja sangar, yang mampunya memerintahkan untuk menghukum orang, mengambil hak orang atau menyuruh perang. Tapi sosok Hayam Wuruk yang seolah-olah membawa misi perdamaian didalam negeri sendiri dan membuka ruang komunikasi dengan masyarakat.

Kalau diperhatikan, semua hukum dan perundangan yang dibuat pada masa itu dibuat dalam bentuk syair, karena peradaban untuk sistem pencatatan belum dimiliki secara kolosal, hanya bisa berupa prasasti dari batu atau lempengan tembaga yang jumlah serta kapasitasnya pun terbatas. Maka syairlah yang menjadi medianya. Sekaligus agar mudah dihapal dan mudah disebarkan. Tidak heran kalau para pejabat atau bangsawan lainnya harus siap dengan hapalan syair atau pun bahasa satra yang lainnya. Jadilah ini sebagai suatu kebiasaan yang membudaya disaat itu.

Sebenarnya bukan di Majapahit saja, mungkin untuk kerajaan lainnya pada masa itu atau sebelumnya atau sebelum diketemukannya sistem pencatatan kolosal, metode sastra khususnya syair inilah yang menjadi alat komunikasi. Bukan hanya di Jawa, ditanah sebrang semisal di Arab pun demikian. Ingat Al’quran dan kitab-kitab yang lahir ditimur tengah semuanya dalam bentuk syair.

Tidak hanya sebagai sarana komunikasi, makna lain dari kebiasaan tersebut, lebih dari itu menunjukan tingkat sastra yang maju karena didukung oleh para pejabat kerajaan.

Acara nyanyi, lawakan dan lain sebagainya dilakukan Hayam Wuruk bukan hanya di Istana kerajaan, tetapi disetiap daerah yang dia kunjungi, bahkan sampai diarena perburuan pun mereka lakukan.

Ini tiada lain adalah cara Hayam Wuruk untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat kerajaannya, dan secara tidak langsung ini merupakan publikasi kenegaran dalam menyatakan keadaan aman, tentram selamat dan sentosa. Suatu hal yang tidak mungkin kalau keadaan sebaliknya, yang ada adalah masyarakat dicekam rasa ketakutan, kemelaratan dan kebajiban berkorban bela negara.

Sekali lagi, diawal sudah disebutkan bahwa masa-masa pemerintahan Hayam Wuruk adalah masa-masa penuh kedamaian. Dengan ini pula bisa dipastikan bahwa pada masa-masa itu tingkat kesejahteraan masyarakat dan lain sebagainya sangat terpenuhi. Ini terlihat dari sekian lamanya waktu yang digunakan Hayam Wuruk untuk melakukan kunjungan kenegaraan, mengelilingi daerah kekuasaannya di Tatar Jawa. Tidak sedikit pun dalam Nagarakertagama dikisahkan peperangan, mobilisasi pasukan secara besar-besaran dan lain sebagainya yang mengindikasikan negara dalam situasi siaga perang. Negarakertagama sungguh menyajikan hubungan yang harmonis antara kepala pemerintahan dengan masyarakatnya.


Sekian dan Terima Kasih


Salam Damai Negeriku, Salam Sejahtera Nusantaraku

Wassalam
Penulis

data refensi menyusul.......

1 komentar:

Komentarlah dengan baik dan sopan. Pasti akan dibalas oleh pemilik. Mohon jangan mengandung unsur kasar dan sara, mari berbagi pengetahuan, silakan kritik karena kritik itu membangun dan membuat sesuatu menjadi lebih baik

Creative Commons License
MENGUAK TABIR SEJARAH NUSANTARA by Ejang Hadian Ridwan is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.
Based on a work at menguaktabirsejarah.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://menguaktabirsejarah.blogspot.com.